Ulasan
Belajar Menghargai Perempuan Lewat Sosok Borno di 'Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah'
Siapa bilang novel romance harus penuh ciuman, sentuhan, dan adegan ranjang agar terasa romantis? Tere Liye justru membuktikan bahwa cinta bisa terasa jauh lebih hangat tanpa semua itu. Dalam Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah, ketertarikan tidak dibangun dengan mengeksploitasi tubuh perempuan atau menjadikan kemesraan fisik sebagai pusat cerita. Cinta tumbuh lewat perhatian, penantian, rasa hormat, dan keberanian untuk memperjuangkan seseorang. Dari sinilah kisah Borno dan Mei terasa berbeda.
Borno adalah pemuda sederhana yang tinggal di tepian Sungai Kapuas, Pontianak. Sejak berusia dua belas tahun, hidupnya berubah setelah sang ayah meninggal karena tersengat ubur-ubur. Ayahnya sempat mendonorkan jantung sebelum meninggal, sebuah kebaikan yang kemudian menjadi salah satu warisan terbesar bagi Borno. Setelah lulus SMA, Borno tidak dapat melanjutkan pendidikan karena keterbatasan biaya. Ia memilih bekerja dan mencoba berbagai pekerjaan, mulai dari pabrik karet hingga menjadi petugas karcis. Namun, ketika menemukan adanya kecurangan dalam pekerjaan tersebut, ia memilih berhenti daripada mengorbankan kejujurannya.
Borno akhirnya menjadi pengemudi sepit, perahu kecil yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di sepanjang Sungai Kapuas. Di atas sepit inilah takdir mempertemukannya dengan Mei, seorang perempuan keturunan Tionghoa yang bekerja sebagai guru magang. Mei adalah penumpang yang beberapa kali menaiki sepit Borno. Pertemuan mereka sebenarnya sederhana, sampai suatu hari sebuah amplop merah tertinggal di dasar sepit. Benda itulah yang membuat Borno penasaran dan berusaha menemukan pemiliknya.
Dari sebuah amplop merah, hubungan Borno dan Mei perlahan dimulai. Borno bahkan sengaja memilih antrean sepit tertentu karena berharap dapat kembali mengantar Mei. Perasaan tumbuh dari pertemuan-pertemuan kecil, percakapan, dan rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi kasih sayang. Namun, kisah mereka tidak berjalan lurus. Mei beberapa kali pergi dan kembali, sementara Borno harus menghadapi berbagai keadaan yang membuat hubungan mereka terus diuji.
Di tengah perjalanan itu muncul Sarah, seorang dokter gigi yang kemudian menjadi sahabat Borno. Kehadiran Sarah tidak sekadar menjadi pemanis atau tokoh ketiga untuk menciptakan drama percintaan. Ia memiliki hubungan dengan masa lalu Borno dan memberikan warna lain dalam perjalanan hidup tokoh utama. Selain Sarah, ada Pak Tua, Andi, Bang Togar, Koh Acong, Cik Tulani, serta masyarakat di sekitar tempat tinggal Borno. Tokoh-tokoh tersebut membuat novel ini terasa lebih luas daripada sekadar kisah cinta dua orang.
Justru karakter Borno dan Mei menjadi salah satu kekuatan novel ini. Borno digambarkan sebagai pemuda yang jujur, pekerja keras, sederhana, dan menghormati perempuan. Ia tidak membutuhkan kemesraan fisik untuk menunjukkan perasaannya kepada Mei. Begitu pula Mei yang tidak harus kehilangan harga diri atau menjadikan tubuhnya sebagai daya tarik agar hubungan mereka terasa romantis. Tere Liye menempatkan tokoh perempuannya sebagai manusia yang memiliki kehormatan dan perasaan, bukan sekadar objek yang dipandang dari sisi fisik. Bagi romance, pendekatan seperti ini terasa menyegarkan.
Kekuatan lain ada pada latarnya. Pontianak dan Sungai Kapuas tidak hanya menjadi nama tempat yang ditempelkan pada cerita. Sungai Kapuas menjadi bagian dari kehidupan Borno, tempat ia bekerja, bertemu Mei, sekaligus menjalani berbagai peristiwa penting dalam hidupnya. Melalui cerita tersebut, pembaca juga diperkenalkan pada kehidupan masyarakat Pontianak, transportasi sepit, sejarah kota, serta keberagaman masyarakatnya. Tokoh-tokohnya berasal dari latar suku yang berbeda, tetapi tetap hidup berdampingan dan saling membantu. Keberagaman itu terasa alami, bukan seperti pesan moral yang dipaksakan.
Selain romance, novel ini juga berbicara tentang kerja keras, persahabatan, keluarga, kejujuran, dan takdir. Banyak nasihat Pak Tua yang membuat cerita sederhana ini memiliki lapisan makna lebih dalam. Perjalanan Borno pun menarik untuk diikuti karena ia tidak hanya mencari cinta, tetapi juga tumbuh dari seorang pemuda yang belum tahu arah hidup menjadi seseorang yang mampu menentukan masa depannya sendiri.
Namun, novel ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa bagian sangat panjang dan alur hubungan Borno dan Mei yang berulang kali mengalami perpisahan dapat membuat cerita terasa lambat. Ada pula beberapa kebetulan yang terlalu mudah mempertemukan kembali tokoh-tokohnya. Meski begitu, kelemahan tersebut masih dapat ditoleransi karena cerita memiliki banyak tokoh pendukung dan persoalan kehidupan yang membuat alurnya tidak sepenuhnya berpusat pada percintaan.
Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah bukan sekadar novel tentang Borno, Mei, dan sebuah angpau merah. Ini adalah cerita tentang bagaimana seseorang belajar mencintai tanpa kehilangan harga diri, belajar bekerja tanpa gengsi, dan belajar menerima bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan. Di antara semua itu, Sungai Kapuas terus mengalir menjadi saksi perjalanan Borno. Dan mungkin, seperti sungai yang tidak membutuhkan kemewahan untuk terlihat indah, cinta pun tidak membutuhkan eksploitasi tubuh dan kemesraan berlebihan untuk terasa hangat.