Ulasan
Review Don't Say Good Luck: Menyingkap Batas Seni dalam Menghadapi Kepiluan
Seni sering diposisikan sebagai tempat paling aman untuk melarikan diri ketika hidup lagi berat-beratnya. Saat percakapan terlalu sulit, lagu bisa mewakilinya. Saat air mata susah keluar, panggung bisa jadi tempat untuk melepaskannya. Gagasan semacam itu menjadi salah satu pencakar Don't Say Good Luck, film drama musikal Netflix yang menjadikan panggung sekolah untuk sosok remaja menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dari pertunjukan itu sendiri.
Disutradarai Julia Hart, Don't Say Good Luck diproduksi Happy Madison Productions dan Original Headquarters, dengan Netflix sebagai distributor. Adam Sandler, Jackie Sandler, Jordan Horowitz, Brian Kavanaugh-Jones, dan Fred Berger tercatat sebagai produser. Skenarionya ditulis Laura Hankin, Julia Hart, dan Jordan Horowitz berdasarkan cerita dari Hankin.
Film Don't Say Good Luck dibintangi Sunny Sandler sebagai Sophie Birenbaum, Melanie Lynskey sebagai Elizabeth, Max Greenfield, Jack Champion, Stephanie Beatriz, Scarlett Estevez, Jon Lovitz, Bebe Neuwirth, serta Steve Buscemi. Film ini sudah tayang di Netflix pada 14 Agustus 2026.
Ceritanya berkaitan dengan Sophie Birenbaum, siswi SMA yang punya kecintaan besar pada teater. Kehidupannya berubah ketika dia mendapat peran utama sebagai Jenna dalam pementasan Waitress di sekolahnya. Panggung yang awalnya menjadi tempat untuk bersenang-senang dan mengejar sesuatu yang dirinya sukai perlahan berubah jadi tempat yang jauh lebih personal.
Di tengah persiapan pertunjukan, Sophie harus menghadapi kehidupan remaja seperti biasa. Dia memiliki sahabat, mengalami masalah dalam hubungan pertemanan, mulai mengenal cinta pertama, dan harus berhadapan dengan berbagai dinamika khas kehidupan sekolah. Jack, lawan mainnya dalam pertunjukan, ikut jadi bagian dari perjalanan emosional tersebut.
Masalah yang jauh lebih besar datang dari rumah. Elizabeth, ibu Sophie, kembali menghadapi kanker yang sebelumnya sempat mengalami remisi. Kondisinya kali ini jauh lebih serius dan mengarah pada penyakit terminal. Sophie pun harus menjalani dua kehidupan sekaligus, remaja yang sedang menikmati kesempatan besar di atas panggung dan anak yang perlahan menyadari ibunya mungkin akan meninggal.
Situasi itu menjadi semakin rumit karena Elizabeth sendiri berusaha menjaga agar penyakitnya nggak mengambil alih kebahagiaan Sophie. Pementasan musikal akhirnya menjadi semacam tempat pertemuan antara kegembiraan masa muda dan ketakutan menghadapi kehilangan.
FYI, kisah film Don't Say Good Luck memiliki akar personal dari Laura Hankin, yang mengambil inspirasi pengalaman masa SMA ketika dirinya tampil dalam pertunjukan sekolah sementara ibunya menghadapi kanker terminal.
Lalu, bagaimana akhir kisahnya? Apakah pementasan itu berhasil? Atau dirinya harus merelakan sesuatu yang selama ini diidamkan demi bisa selalu dekat dengan ibunya yang di penghujung hidup? Sobat Yoursay bisa langsung cek Netflix buat tahu semua jawabannya, ya.
Seni Memang Bisa Membantu, tapi Apakah Menyembuhkan?

Jujur saja, dari film Don't Say Good Luck, aku lebih tertarik melihat bagaimana film ini memperlakukan seni sebagai tempat berlindung.
Sophie punya masalah yang bahkan sulit dijelaskan kepada orang-orang terdekatnya. Dia takut kehilangan ibunya, sementara hidup di sekolah tetap menuntutnya tampil seperti remaja biasa. Dia harus latihan, wajib menghafal dialog. Terlebih. Dia harus bernyanyi, berdiri di depan banyak orang dan berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Ketika Sophie bernyanyi, perasaan yang selama ini sulit diutarakan lewat percakapan mendapatkan bentuknya. Salah satu contoh paling kuat muncul melalui lagu She Used to Be Mine. Adegan tersebut memang dirancang sebagai pelepasan emosi dan menjadi salah satu titik klimaks film.
Aku bisa memahami kenapa adegan seperti itu begitu menyentuh. Musik memang punya kemampuan luar biasa untuk membuat sesuatu yang abstrak jadi terasa konkret. Kesedihan yang sebelumnya hanya berputar di kepala bisa berubah menjadi suara. Rasa takut bisa berubah menjadi lirik. Kemarahan bisa berubah jadi gerakan tubuh.
Masalahnya muncul ketika gagasan tersebut mulai terdengar terlalu indah. Iya, film Don't Say Good Luck kadang seperti ingin meyakinkan kita kalau seni selalu punya kemampuan untuk mengubah rasa sakit menjadi sesuatu yang bermakna. Seolah-olah selama seseorang masih bisa bernyanyi, tampil, atau menciptakan sesuatu, luka perlahan akan menemukan jalannya sendiri menuju penyembuhan. Padahal hidup seringkali jauh lebih berantakan dari hal tersebut.
Seni mungkin membantu seseorang bertahan. Bisa juga ngasih ruang dan waktu untuk menangis. Seni bahkan bisa membuat seseorang memahami dirinya sendiri dengan lebih baik. Semua itu masuk akal. Penyembuhan sendiri merupakan persoalan yang jauh lebih rumit.
Seseorang bisa menyanyikan lagu paling sedih yang pernah ditulis dan tetap merasa hancur setelahnya. Seseorang bisa naik ke panggung, mendapatkan tepuk tangan, lalu pulang ke rumah dengan rasa takut yang sama. Seni bisa jadi tempat untuk meletakkan kesedihan selama beberapa menit, sementara sumber kesedihan itu masih menunggu ketika pertunjukan selesai.
Menurutku, di sinilah Don't Say Good Luck seharusnya bisa menggali lebih dalam. Yup, film ini sudah mengandung konflik yang sangat kuat. Sophie sedang berada di usia ketika dirinya semestinya sibuk memikirkan teman, sekolah, cinta pertama, dan masa depan. Namun, di saat bersamaan, dia dipaksa berhadapan dengan kemungkinan kehilangan orang yang paling penting dalam hidupnya.
Sayangnya, film ini beberapa kali ngambil jalan yang lebih aman. Entahlah, bagaimana drama film Don't Say Good Luck cenderung sentimental dan menyelesaikan konflik dengan intensitas yang relatif ringan. Terlepas dari itu, dan yang juga layak diapresiasi, film ini berhasil menghindari eksploitasi penyakit Elizabeth jadi mesin air mata.
Pada intinya, seni mungkin bukan obat. Lebih mirip tempat seseorang bernapas ketika hidup terlalu sesak. Seni memang belum tentu membuat kehilangan menjadi lebih ringan, tapi seni tetap punya arti di kehidupan manusia.
Maka dari itu, sobat Yoursay yang penasaran bisa langsung tengok Netflix dan selamat menonton, ya.