Ulasan
Melawan Lupa, Menepis Stigma: Membaca Luka yang Tertinggal di Prahara 1965
Peristiwa 1965 dalam sejarah Indonesia tidak berhenti pada malam 30 September. Di balik istilah G30S yang selama puluhan tahun hadir dalam buku pelajaran, film, dan ingatan kolektif masyarakat, terdapat rangkaian panjang peristiwa yang meninggalkan trauma bagi banyak orang.
Persoalan inilah yang menjadi salah satu perhatian utama Asvi Warman Adam dalam buku Melawan Lupa, Menepis Stigma (Setelah Prahara 1965).
Buku yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas pada 2015 ini mengajak pembaca melihat peristiwa 1965 dari sisi yang lebih luas, terutama pengalaman korban dan keluarga mereka.
Deskripsi katalog buku menyebut pembahasan mengenai penangkapan, penahanan, perburuan, pembunuhan massal, pembuangan paksa, serta diskriminasi terhadap keluarga korban yang kemudian diberi stigma sebagai kelompok “tidak bersih lingkungan”.
Isi Buku
Asvi tidak menempatkan 1965 semata sebagai peristiwa politik yang berlangsung dalam satu malam. Ia memetakan dampaknya ke dalam rangkaian panjang.
Dalam pembacaan yang dirangkum dari buku tersebut, rangkaian itu mencakup peristiwa 30 September, kekerasan massal 1965–1966, pencabutan paspor mahasiswa Indonesia di luar negeri yang kemudian menjadi eksil, pembuangan lebih dari 10.000 orang ke Pulau Buru, serta stigma dan diskriminasi yang berlangsung terhadap keluarga korban.
Perspektif tersebut menjadi penting karena dampak politik pada akhirnya masuk ke ruang paling pribadi: keluarga. Penangkapan seorang ayah atau ibu dapat membuat anak kehilangan pengasuhan.
Perpisahan panjang dapat menghancurkan perkawinan. Bahkan hubungan sosial seseorang dapat terganggu hanya karena keluarganya dianggap mempunyai hubungan dengan pihak yang dicurigai.
Kisah Lestari, misalnya, memperlihatkan bagaimana pergolakan politik dapat berubah menjadi tragedi keluarga. Sebagai pengurus Gerwani Jawa Timur, ia mengalami persembunyian dan perpisahan dengan anak-anaknya setelah situasi politik berubah drastis. Kisah semacam ini menunjukkan bahwa sejarah tidak hanya terdiri atas nama tokoh besar, keputusan politik, dan perubahan pemerintahan. Sejarah juga berada di rumah-rumah keluarga yang anak-anaknya tiba-tiba kehilangan orang tua.
Kasus Heru Atmodjo memperlihatkan bentuk lain dari panjangnya bayang-bayang 1965. Heru merupakan seorang perwira penerbang yang pernah terlibat dalam berbagai episode sejarah militer Indonesia. Setelah meninggal, ia sempat dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 2011, tetapi makamnya kemudian dibongkar dan jenazahnya dipindahkan. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa pertarungan mengenai ingatan sejarah bahkan dapat berlanjut setelah seseorang meninggal. Kisah penggusuran makam Heru juga dibahas dalam sejumlah tulisan yang merujuk pada buku Asvi.
Menariknya, buku ini tidak hanya berbicara mengenai korban 1965. Asvi juga mengangkat persoalan bagaimana sejarah dibentuk, dipilih, dan disampaikan kepada masyarakat. Salah satu contoh yang dibahas adalah Serangan Umum 1 Maret 1949 dan perdebatan mengenai siapa yang memiliki peran penting dalam peristiwa tersebut. Pembahasan semacam ini menunjukkan perhatian Asvi terhadap proses pembentukan narasi sejarah dan bagaimana suatu versi dapat menjadi dominan sementara versi lain tersisih.
Kelebihan dan Kekurangan
Dengan gaya penulisan yang relatif mudah diikuti, buku ini membawa pembaca memasuki persoalan sejarah yang kompleks tanpa harus selalu berhadapan dengan bahasa akademis yang kaku.
Kekuatan lainnya terletak pada keberagaman kisah yang membuat peristiwa besar terasa lebih dekat dengan kehidupan manusia.
Melawan Lupa, Menepis Stigma pada akhirnya bukan sekadar buku tentang G30S. Ia merupakan ajakan untuk memahami bagaimana sebuah konflik politik dapat menghasilkan konsekuensi yang berlangsung jauh lebih lama daripada peristiwanya sendiri. Luka dapat diwariskan melalui stigma, kehilangan pekerjaan, perpisahan keluarga, pembatasan sosial, bahkan melalui cara seseorang dikenang setelah meninggal.
Mengingat sejarah bukan berarti menghidupkan kembali permusuhan. Justru dengan membuka berbagai pengalaman dan perspektif, masyarakat memiliki kesempatan untuk memahami masa lalu secara lebih utuh. Sebab, sejarah yang hanya menyisakan satu suara berisiko membuat pengalaman banyak orang kembali menghilang.
Buku Asvi Warman Adam mengingatkan bahwa melawan lupa juga berarti berani melihat manusia yang berada di balik angka, label, dan peristiwa politik.
Identitas Buku
- Judul: Melawan Lupa, Menepis Stigma (Setelah Prahara 1965)
- Penulis: Asvi Warman Adam
- Penerbit: Penerbit Buku Kompas
- Tahun Terbit: 2015
- Tebal: x + 190 halaman
- ISBN: 978-979-709-968-8
- Kategori: Sejarah Indonesia, Peristiwa 1965, Memori dan Historiografi