Ulasan

Melacak Jejak Warisan Meneer Belanda di Balik Budaya Panjat Pinang

Melacak Jejak Warisan Meneer Belanda di Balik Budaya Panjat Pinang
Potret kegiatan lomba panjat pinang (Unsplash.com/Firas Wardhana)

Setiap kali bulan Agustus tiba, telinga saya selalu disambut oleh gelak tawa riuh yang memecah udara pedesaan maupun perkotaan. Di tengah lapangan terbuka, berdiri sebatang pohon pinang yang telah dikulisi, dilumuri pelumas tebal, dan di puncaknya digantung berbagai hadiah menarik. Mulai dari pakaian, peralatan dapur, hingga sepeda. Anak-anak muda bahu-membahu, saling pijak, tumpah tindih, dan tak jarang jatuh tergelincir kembali ke tanah. Panjat pinang memang sudah menjadi identitas kebersamaan kita saat merayakan kemerdekaan Indonesia.

Namun, di balik riuhnya sorak-sorai itu, ternyata tradisi ini memiliki jejak yang agak ironis. Ketika saya menggali lembaran sejarah, saya menemukan fakta bahwa tradisi yang hari ini kita rayakan sebagai lambang gotong royong dan kemerdekaan, ternyata berakar dari hiburan para meneer Belanda di masa penjajahan.

Jejak ini membawa saya kembali ke abad ke-19, tepatnya pada era Hindia Belanda. Kala itu, panjat pinang dikenal dengan nama De Klimmast, yang secara harfiah berarti "menjat tiang". Tradisi ini bukanlah permainan yang lahir dari rakyat pribumi, melainkan sebuah pertunjukan yang diadakan oleh para kompeni atau bangsawan Belanda. Biasanya, acara ini digelar saat perayaan-perayaan besar penjajah, seperti hari ulang tahun Ratu Wilhelmina (Koninginnedag), pernikahan keluarga kerajaan, atau festival musim panas.

Saya membayangkan situasi di masa itu. Para pejabat Belanda dan keluarga mereka duduk di kursi-kursi empuk, menikmati minuman hangat dan camilan lezat, sembari menonton orang-orang pribumi bertelanjang dada berebut panjat tiang yang licin. Hadiah yang digantung di atas sana mungkin terlihat sederhana bagi kita hari ini, tetapi bagi masyarakat pribumi saat itu, barang-barang seperti beras, gula, roti, kemeja, dan keju adalah barang mewah yang sulit dijangkau.

Ada rasa perih ketika saya menyadari bahwa pada masa itu, panjat pinang adalah wahana lelucon. Gelak tawa para meneer pecah saat melihat warga lokal bersusah payah, jatuh bangun, dan saling injak demi sesuap bahan makanan atau selembar pakaian. Permainan ini memanfaatkan kemiskinan dan penderitaan rakyat sebagai sarana hiburan eksklusif kaum kolonial.

Lantas, bagaimana permainan yang sarat akan sejarah kelam ini justru bertahan dan menjadi bagian inti dari perayaan Kemerdekaan Republik Indonesia?

Inilah ajaibnya bangsa kita. Sepanjang penelusuran saya, saya melihat bagaimana masyarakat Indonesia berhasil membalikkan narasi kelam tersebut. Setelah merdeka pada tahun 1945, rakyat tidak membuang panjat pinang, melainkan "merebut" dan mengubah makna filosofis di baliknya. Simbol penindasan diubah menjadi simbol perjuangan dan kebersamaan.

Jika dahulu meneer Belanda melihatnya sebagai bentuk merendahkan martabat, hari ini saya melihatnya sebagai cermin kearifan lokal. Panjat pinang mengajari kita satu hal penting. Tidak ada satu orang pun yang bisa mencapai puncak dan mengambil hadiah sendirian. Siapa pun yang egois ingin naik sendiri pasti akan tergelincir. Untuk mencapai puncak, dibutuhkan kerja sama, pengorbanan (siapa yang bersedia berada di posisi paling bawah untuk diinjak), strategi, dan rasa saling percaya.

Kini, setiap kali saya berdiri memandangi perlombaan panjat pinang di lingkungan rumah saya, perasaan saya bercampur aduk. Ada rasa hormat pada sejarah yang kelam, namun ada pula kebanggaan atas daya lentur budaya kita. Kita berhasil mengubah warisan tertawaan para meneer menjadi perayaan gotong royong yang paling autentik. Di atas tiang yang licin itu, kita tidak lagi dipandang sebagai bangsa yang kasihan, melainkan sebagai bangsa yang tahu cara bekerja sama untuk mencapai cita-cita bersama.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda