Ulasan
Review Film Harusnya Horror: Cerita Hantu Gagal Seram yang Sangat Menghibur
Harusnya Horror merupakan film komedi fantasi Indonesia tahun 2026 yang menandai debut penyutradaraan Reza Oktovian, dikenal luas sebagai Reza Arap. Film ini diproduksi oleh Ess Jay Pictures bekerja sama dengan AAA Clan, Marapthon, serta beberapa mitra produksi lainnya.
Reza Oktovian berperan sebagai tokoh utama, Mas, didampingi Lula Lahfah sebagai Gea, George Jot Tierison sebagai Kevin, serta anggota AAA Clan seperti Garry Ang, Yukatheo, Mister Aloy, Bravyson, Niko Junius, Ade Ibot Ariyanto, dan Teguh Tepe Prakoso. Film ini sekaligus menjadi salah satu karya terakhir mendiang Lula Lahfah.
Film ini tayang perdana di bioskop Indonesia mulai hari ini, 20 Agustus 2026. Durasi sekitar 106 menit dengan rating remaja, dan tersedia di jaringan bioskop utama seperti XXI, CGV, dan Cinépolis.
Humor Segar Konten Kreator yang Lucu dan Unik

Kisah berpusat pada Mas, seorang penggemar anime yang meninggal mendadak tepat sebelum episode terakhir anime favoritnya ditayangkan. Di alam baka, ia memperoleh kesempatan kembali ke dunia selama 30 hari dengan syarat harus menakut-nakuti 100.000 manusia. Masalahnya, Mas sama sekali tidak menyeramkan. Ia justru sering merasa takut terhadap manusia dan gagal menciptakan teror.
Di sisi lain, sekelompok kreator konten yang sedang kesulitan finansial—dipimpin Kevin bersama Gea, Kenzo, dan Cipuy—bertemu dengan Mas. Alih-alih ketakutan, mereka memanfaatkan sosok hantu yang tidak menakutkan itu sebagai talent untuk membuat konten horor viral.
Kerja sama ini menghasilkan rangkaian kejadian absurd yang penuh lelucon, sekaligus menumbuhkan ikatan persahabatan yang tak terduga. Pada akhirnya, Mas dihadapkan pada pilihan antara memenuhi ambisi pribadinya atau melindungi hubungan yang telah terbentuk.
Review Film Harusnya Horror

Sebagai debut penyutradaraan, Reza Oktovian berhasil menghadirkan nada komedi yang konsisten. Film ini lebih menonjolkan unsur humor dan fantasi daripada ketegangan horor klasik.
Penulisan naskah oleh Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan, dengan ide cerita dari Reza Oktovian, terinspirasi dari kegemaran anime, sehingga memberikan nuansa ringan dan satir terhadap budaya demi konten di kalangan kreator digital.
Akting para pemain, khususnya yang baru debut di layar lebar, terbilang cukup solid. Reza Oktovian mampu menghidupkan karakter Mas yang konyol sekaligus memiliki sisi emosional. Jot mencuri perhatian dengan kemampuan membawa humor dan emosi secara seimbang.
Lula Lahfah memberikan penampilan yang hangat dan berkesan sebagai Gea, tokoh yang memiliki sisi ceria sekaligus latar belakang yang menyentuh. Interaksi antar anggota AAA Clan menghadirkan chemistry yang akrab, mengingatkan penonton pada gaya konten digital mereka.
Salah satu adegan paling kocak adalah ketika Mas berusaha menakut-nakuti orang, namun justru dirinya sendiri yang ketakutan dan lari terbirit-birit. Upaya jumpscare yang gagal total—di mana korban malah tertawa, mengabaikan, atau justru merasa kasihan—menjadi momen yang memicu tawa lepas di bioskop.
Interaksi verbal yang cepat dan celetukan khas dari Mister Aloy, Jot, serta Yukatheo saat merancang konten horor yang absurd juga menambah kekocakan. Adegan-adegan ini berhasil menangkap semangat komedi situasional yang segar dan sesuai dengan judul film yang secara sadar menyindir ekspektasi genre horor.
Adegan paling berkesan terdapat pada bagian akhir, khususnya interaksi emosional antara Mas dan Gea. Momen tersebut menghadirkan nuansa drama yang kuat, di mana persahabatan yang tumbuh diuji oleh pilihan sulit yang harus diambil. Adegan ini terasa lebih menyentuh mengingat film ini menjadi salah satu karya terakhir Lula Lahfah.
Selain itu, perkembangan hubungan antara Mas dan kelompok kreator konten—dari sekadar pemanfaatan menjadi ikatan tulus—meninggalkan kesan mendalam tentang arti keluarga, pengorbanan, dan makna kebersamaan. Aku pun merasa campur aduk antara tawa, ketegangan ringan, dan emosi di bagian penutup.
Harusnya Horror berhasil menawarkan alternatif film yang berbeda dari horor konvensional. Kekuatan utamanya terletak pada humor yang ringan, chemistry para pemain, serta pesan tentang persahabatan yang disampaikan tanpa kesan berlebihan.
Kelemahannya ada pada elemen horor yang sengaja dibuat tipis, sehingga penonton yang mengharapkan teror intens mungkin merasa kurang terpenuhi. Aman , bagi mereka yang menyukai kombinasi komedi, fantasi, dan sentuhan emosional, film ini menghadirkan pengalaman menonton yang menghibur dan berkesan.
Secara keseluruhan, Harusnya Horror merupakan debut yang cukup berani dari Reza Oktovian. Film ini cocok bagi penggemar konten AAA Clan dan Marapthon, sekaligus penonton umum yang mencari hiburan segar di bioskop.
Dengan tayang mulai hari ini, 20 Agustus 2026. Karya ini layak disaksikan sebagai film yang menggabungkan fantasi, satire budaya digital, dan refleksi tentang hubungan antarmanusia. Rating pribadi: 8/10.