Ulasan
Masjid Agung Kota Kediri: 200 Tahun Berdiri, Meski Berkali-kali Renovasi
Di jantung Kota Kediri, tepat di sebelah barat Alun-Alun Kota Kediri, berdiri sebuah masjid yang sudah melewati perjalanan panjang. Lokasinya mudah ditemukan karena berada di tepi jalan dan tidak jauh dari pusat aktivitas masyarakat. Masjid Agung Kota Kediri bukan bangunan baru yang tiba-tiba hadir dengan wajah megah seperti sekarang. Usut punya usut sejarahnya sudah dimulai sejak tahun 1771 dan kemudian dibangun kembali pada 1928.
Usianya yang telah lebih dari dua abad membuat masjid tersebut menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dikunjungi, bukan hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga bagian dari perjalanan sejarah Kota Kediri. Bagi saya yang membuatnya semakin menarik, Masjid Agung Kota Kediri berdiri di tepian Sungai Brantas. Sungai yang sejak dahulu menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Kediri kini menjadi latar bagi salah satu bangunan keagamaan paling dikenal di pusat kota.
Dari Masjid Tua Menjadi Bangunan Monumental
Jika dilihat sekarang, Masjid Agung Kota Kediri memang tidak menunjukkan kesan sebagai bangunan yang telah berusia lebih dari 200 tahun. Wajahnya terlihat modern, besar dan cukup futuristik. Namun, di balik bentuk tersebut terdapat perjalanan panjang yang dimulai sejak abad ke-18.
Sepengetahuan penulis dari sejumlah catatan mengenai masjid ini, perubahan besar terjadi pada 2006. Pemerintah Kota Kediri saat itu memprakarsai pembangunan total masjid dengan visi menjadikannya sebagai pusat syiar Islam yang monumental.
Pembangunan tersebut membuat wajah lama masjid berubah cukup signifikan. Dari sebuah bangunan yang telah melewati beberapa generasi, Masjid Agung Kota Kediri kemudian hadir dengan desain yang lebih modern tanpa meninggalkan fungsi utamanya sebagai tempat ibadah.
Proyek tersebut dipercayakan kepada Ir. H. Achmad Nu’man melalui PT Birano. Arsitek tersebut dikenal sebagai salah satu perancang masjid dan juga terlibat dalam rancangan Masjid Agung Al-Akbar Surabaya.
Hasilnya bisa dilihat dari bangunan Masjid Agung Kota Kediri hari ini. Besar, kokoh dan modern, tetapi masih membawa sejumlah filosofi yang berkaitan dengan tradisi arsitektur Islam dan Jawa.
Tiga Gaya Bertemu di Satu Bangunan

Salah satu bagian yang menarik perhatian dari Masjid Agung Kota Kediri adalah gaya arsitekturnya. Bangunan masjid memadukan tiga pengaruh sekaligus, yakni Eropa, Timur Tengah, dan Jawa.
Dari sisi Eropa, kesan tersebut terlihat pada struktur bangunan utama yang berbentuk persegi besar dan kokoh. Bagian luar bangunan menggunakan batu granit berwarna krem yang membuatnya terlihat masif sekaligus memberikan kesan megah.
Material modern tersebut membuat Masjid Agung Kota Kediri memiliki karakter seperti bangunan monumental. Sementara pengaruh Timur Tengah terlihat lebih jelas dari unsur keislamannya. Kubah utama yang besar menjadi salah satu bagian paling mencolok.
Menara yang menjulang tinggi juga memperkuat identitas tersebut. Belum lagi keberadaan kaligrafi pada beberapa bagian interior yang memberikan suasana lebih kental dengan nuansa Islam. Namun, di balik kemegahan tersebut masih terdapat sentuhan budaya Jawa.
Tiga Lantai dengan Tiga Makna

Pengaruh arsitektur Jawa memang tidak menjadi bagian paling dominan. Namun, filosofi tersebut dapat dirasakan dari struktur bangunan utama yang terdiri dari tiga lantai.
Konsep tersebut seolah mengingatkan pada bentuk atap tumpang tiga yang banyak ditemukan pada masjid tradisional Jawa, terutama masjid-masjid bergaya Demak.
Tiga tingkatan tersebut kemudian dimaknai sebagai representasi dari Iman, Islam, dan Ihsan. Perpaduan seperti ini membuat Masjid Agung Kota Kediri tidak hanya berbicara tentang bentuk bangunan.
Ada filosofi yang ikut dibawa dalam desainnya. Gaya Eropa memberikan kesan monumental, Timur Tengah memperkuat identitas Islam, sedangkan Jawa memberikan sentuhan lokal yang membuatnya tetap memiliki hubungan dengan budaya tempat masjid tersebut berdiri.
Masjid yang Menjadi Bagian dari Wajah Kota
Masjid Agung Kota Kediri hari ini memang sudah jauh berbeda dibanding bangunan yang berdiri pada masa awal. Namun, perubahan bentuk tidak serta-merta menghapus posisi pentingnya dalam perjalanan Kota Kediri.
Letaknya di sebelah barat Alun-Alun membuat masjid tersebut berada di salah satu titik paling strategis kota. Sungai Brantas yang mengalir di sisi masjid juga memberikan karakter tersendiri bagi bangunan ini.
Bagi saya yang menetap di Kediri masjid ini bukan sekadar bangunan besar di pusat kota. Lebih dari itu, tempat ini merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat Kediri dalam menjalankan kehidupan keagamaan. Sebab dari masjid yang didirikan pada 1771, dibangun kembali pada 1928, hingga berubah menjadi bangunan monumental setelah pembangunan besar pada 2006, semuanya menjadi bagian dari cerita panjang sebuah masjid yang tetap berdiri di Kota Kediri.
Barangkali, itulah yang membuat Masjid Agung Kota Kediri menarik untuk saya tulis bukan hanya dari kemegahan bangunannya, tetapi juga dari perjalanan panjang yang membentuknya hingga seperti sekarang.