Ulasan

Menemukan Tuhan di Sudut Kota: Pesona Di Kota Tuhan Stebby Julionatan

Menemukan Tuhan di Sudut Kota: Pesona Di Kota Tuhan Stebby Julionatan
Di Kota Tuhan (Dok.Pribadi/Oktavia)

Ada banyak buku antologi puisi yang bisa kita temukan, baik dari penerbit indie maupun mayor. Namun, tidak semuanya mampu membuat pembaca berhenti sejenak, termenung, lalu jatuh cinta pada rangkaian kata di dalamnya. Di Kota Tuhan karya Stebby Julionatan adalah salah satu buku yang membuat saya jatuh cinta. Karena itulah tak beban untuk menyelesaikannya sebab saya seperti orang yang kasmaran.

Buku yang diterbitkan Indie Book Corner pada 2018 ini memiliki sekitar 130 halaman. Sebelumnya, karya-karya Stebby disebut pernah masuk shortlist Anugerah Pembaca Indonesia (API) 2015. Dari sana saja sudah terlihat bahwa puisinya memiliki daya tarik tersendiri di mata pembaca sastra.

Di Kota Tuhan tidak melulu berbicara tentang Tuhan, doa, dosa, dan surga. Justru, kekuatan buku ini muncul dari pertemuan berbagai hal. Iman, cinta, masa kanak-kanak, kota kelahiran, kenangan personal, bahkan serpihan politik. 

Isi Buku

Buku ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu Midrash Pertama dan Midrash Kedua. Total terdapat sekitar 45 puisi, dengan bagian pertama ditulis pada 2015–2016 dan bagian kedua pada 2017. Struktur tersebut menarik karena mengingatkan pada konsep teks keagamaan yang hadir secara bertahap, seolah setiap puisi merupakan potongan pengalaman yang turun dan menemukan bentuknya sendiri.

Namun jangan membayangkan isinya akan terasa seperti membaca kitab atau renungan keagamaan yang kaku. Stebby justru membawa pembaca masuk ke ruang yang lebih personal.

Cinta, masa kecil, kehilangan, hubungan antarmanusia, dan berbagai ingatan masa lalu muncul berselang-seling dengan simbol-simbol religius. Ada judul-judul yang langsung membuat penasaran seperti Di Sumber Hidup, Biru Melihat Tuhannya Bercabang, Biru Merangkai Bapa Kami dalam Bahasa Latin, hingga Surga Adalah Masa Kanak-kanak yang Gugur Setelah Biru Mampu Membaca Azab Neraka.

Judul-judul tersebut seperti pintu. Pembaca dibuat penasaran sebelum akhirnya masuk ke dunia yang dibangun penyair.

Hal menarik lainnya adalah pilihan lokasi. Probolinggo, kota kelahiran Stebby, menjadi semacam panggung utama buku ini. Tempat-tempat yang bagi masyarakat setempat mungkin terlihat biasa saja justru diubah menjadi ruang kontemplasi. Sebuah jalan, taman, sudut kota, atau tempat yang tampak sepele bisa menjadi pemantik kenangan.

Stebby tidak membutuhkan lanskap yang spektakuler untuk menemukan puisi. Ia cukup melihat kota yang sudah dikenalnya sejak lama, kemudian menghubungkannya dengan pengalaman pribadi dan potongan kisah Alkitab. Hasilnya adalah pertemuan antara yang sangat lokal dan sesuatu yang universal.

Foto-foto yang menghiasi hampir setiap halaman semakin memperkuat pengalaman membaca. Foto tersebut bukan gambar spektakuler. Sebagian justru berupa potongan kehidupan sehari-hari dan sudut lokal Probolinggo yang mungkin sering dilewati tanpa diperhatikan. Tetapi ketika foto itu ditempatkan berdampingan dengan puisi, maknanya berubah.

Foto yang semula bisu seperti memperoleh suara. Sebaliknya, puisi yang abstrak mendapatkan ruang visual untuk bernapas. Pembaca seperti diajak berjalan bersama penyair: melihat sebuah tempat, mengingat sebuah kejadian, kemudian merenungkan makna di baliknya.

Ada cinta yang tidak selesai, luka yang belum benar-benar sembuh, masa kanak-kanak yang terasa jauh, serta hubungan manusia yang berubah seiring waktu.

Kelebihan dan Kekurangan

Salah satu kekuatan buku ini adalah kemampuannya menciptakan suasana melalui diksi yang tidak terasa terlalu berat. Ada permainan simbol dan rima, tetapi pembaca tidak dipaksa memahami semuanya dalam sekali duduk.

Membaca puisi membutuhkan tempo yang berbeda. Kita perlu memberi kesempatan kepada kata-kata untuk mengendap. Kadang satu puisi selesai dibaca, tetapi maknanya baru terasa beberapa menit kemudian. Bisa juga sebuah larik tiba-tiba mengingatkan kita pada pengalaman pribadi yang sudah lama disimpan.

Buku ini adalah pertemuan antara Tuhan dan manusia, kota dan kenangan, cinta dan kehilangan, masa lalu dan hari ini. Probolinggo menjadi latarnya, tetapi pengalaman yang dibicarakan terasa jauh lebih luas.

Mungkin memang tidak ada cara yang paling tepat untuk membaca puisi selain dengan perlahan. Jangan buru-buru mencari makna. Jangan terlalu sibuk menilai benar atau salah. Biarkan kata-kata berjalan sendiri, lalu lihat ke mana ia membawa kita.

Sebab seperti cinta, puisi tidak selalu harus dipahami sepenuhnya untuk bisa dirasakan. Dan mungkin itulah alasan Di Kota Tuhan terasa begitu mudah dicintai.

Ia tidak berteriak meminta perhatian. Ia hanya membuka pintu, lalu membiarkan pembacanya masuk dan menemukan Tuhan, kota, kenangan, serta dirinya sendiri di antara baris-baris yang sederhana.

Identitas Buku

  • Judul: Di Kota Tuhan
  • Penulis: Stebby Julionatan
  • Penerbit: Indie Book Corner
  • Tebal: 130 halaman
  • Tahun Terbit: 2018
  • ISBN: 978-602-309-333-5
  • Kategori: Kumpulan Puisi

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda