Ulasan

Life of Pi dan Kerinduan kepada Tuhan di Tengah Ketidakpastian

Life of Pi dan Kerinduan kepada Tuhan di Tengah Ketidakpastian
Life of Pi Official Thumbnail Poster Trailer (IMDb)

Ada film yang selesai ditonton, lalu selesai pula ceritanya. Ada juga film yang bertahun-tahun kemudian masih tiba-tiba muncul di kepala ketika kita sedang memikirkan hidup. Bagi saya, Life of Pi adalah jenis film yang kedua. Pertama kali saya menontonnya ketika SMA kelas satu, saya bahkan tidak menyangka sebuah film yang awalnya saya kira hanya tentang petualangan seorang anak di tengah lautan justru akan mengubah cara saya memandang agama, iman, dan Tuhan.

Film arahan Ang Lee ini bercerita tentang Piscine Molitor Patel, atau Pi, seorang remaja asal India yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang dekat dengan agama dan kehidupan spiritual. Pi memiliki ketertarikan kepada beberapa tradisi keagamaan sekaligus, termasuk Hindu, Kristen, dan Islam. Namun hidupnya berubah drastis ketika sebuah perjalanan laut membawa keluarganya pada sebuah bencana. Pi kemudian harus menghadapi perjalanan panjang yang mempertemukan dirinya dengan rasa takut, kesendirian, alam, dan ketidakpastian.

Tanpa membocorkan terlalu banyak bagian penting filmnya, Life of Pi pada permukaannya memang terlihat seperti kisah survival. Seorang anak terombang-ambing di lautan, berusaha mendapatkan makanan, air, dan tempat berlindung sambil menghadapi seekor harimau Bengal. Namun semakin lama perjalanan itu berlangsung, film ini justru menyajikan sebuah pertanyaan mendalam bahwa apa yang kita lakukan ketika seluruh pegangan hidup tiba-tiba dicabut dari tangan kita?

Di titik inilah bagi saya Life of Pi menjadi sangat spiritual. Pi sejak awal tidak melihat agama hanya sebagai identitas yang harus dipertentangkan satu sama lain. Ia justru mencoba mengenal Tuhan melalui berbagai jalan. Memang, ayahnya mempertanyakan sikap tersebut dan mengingatkan bahwa suatu keyakinan juga membutuhkan komitmen. Tetapi film ini tidak berhenti pada pertanyaan agama mana yang paling benar. Ia membawa kita kepada pertanyaan yang lebih mendasar, yaitu ketika manusia berada dalam keadaan paling rapuh, kepada siapa ia menggantungkan harapan?

Menariknya, pembacaan semacam ini bukan hanya kesan pribadi. Penelitian Sunhwa Park berjudul “Religious Pluralism in Life of Pi and Its Film Adaptation”, yang terbit dalam jurnal Literature and Religion pada 2017, melihat keberagaman keyakinan Pi sebagai salah satu sumber kekuatan yang membantunya bertahan. Penelitian tersebut bahkan menghubungkan iman Pi dengan kondisi manusia yang tidak sempurna dan kecenderungannya untuk bergantung kepada Tuhan.

Penelitian lain dari Universitas Airlangga berjudul “Penggambaran Religiusitas dalam Film Life of Pi (2012)” juga menemukan bahwa religiusitas Pi direpresentasikan sebagai pengalaman yang dipengaruhi keluarga, lingkungan sosial, dan pengalaman personal. Artinya, keberagamaan Pi bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ia dibentuk oleh perjalanan hidupnya.

Yang semakin menarik, penelitian Rachel Wagner, “Screening Belief: The Life of Pi, Computer Generated Imagery, and Religious Imagination”, melihat bagaimana visual film justru memperkuat refleksi keagamaan melalui metafora dan imajinasi religius. Sementara penelitian terbaru Kang Jun-soo pada 2026 membaca Life of Pi melalui hubungan antara penderitaan, trauma, agama, dan proses penyembuhan.

Spoiler mulai dari sini.

Bagi saya, kekuatan terbesar Life of Pi justru terletak pada pertanyaan di bagian akhirnya. Kita diberikan dua kemungkinan cerita. Satu cerita penuh harimau, lautan, dan keajaiban. Cerita lainnya jauh lebih brutal dan sulit diterima. Film kemudian membiarkan kita memilih cerita mana yang ingin dipercaya.

Di sinilah saya merasa Life of Pi sedang berbicara tentang iman. Dalam kehidupan nyata, kita juga sering berada di tengah ketidakpastian yang tidak mempunyai jawaban sederhana. Masa depan pekerjaan, pendidikan, keluarga, bahkan quarter life crisis membuat kita bertanya-tanya apakah hidup ini akan berakhir seperti yang kita harapkan.

Mungkin karena itu Life of Pi masih terasa dekat bagi saya sampai hari ini. Ketika dunia terasa terlalu tidak pasti, manusia tetap membutuhkan sesuatu untuk menjadi tempat kembali. Bagi saya, sesuatu itu adalah Tuhan. Cara manusia mengenal dan menyembah-Nya boleh berbeda. Tradisinya boleh beragam. Tetapi kerinduan manusia kepada Yang Transenden tetap menemukan satu muara, yakni keinginan untuk percaya bahwa di balik kekacauan hidup, kita tidak sepenuhnya sendirian.


Dan mungkin itulah alasan saya masih merindukan film ini setelah bertahun-tahun. Bukan karena harimaunya. Bukan karena lautnya. Melainkan karena Life of Pi pernah mengingatkan saya bahwa ketika semua kepastian runtuh, manusia masih bisa memilih untuk percaya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda