Kolom
Gengsi di Atas Fungsi, Mengapa Kita Terobsesi dengan iPhone?
Setiap kali iPhone model teranyar resmi meluncur, jagat raya seketika gempar, seolah-olah umat manusia baru saja menemukan teknologi telepon genggam untuk pertama kalinya dalam sejarah peradaban. Antrean pembeli mengular layaknya antrean sembako, jagat media sosial gaduh bukan main, dan ponsel yang baru berumur setahun saja mendadak divonis sebagai artefak museum yang layak masuk tungku peleburan.
Padahal, hanya berselang beberapa menit setelah kotak gawai itu dibuka, kita tetap saja melakukan ritual purba yang sama: berkirim pesan pendek, asyik scroll video TikTok, membuka Instagram, lalu menutupnya dengan memotret sepiring mie instan dari berbagai sudut estetis.
Kelakarnya, iPhone ini memang bukan barang rongsokan. Korporasi Apple di California sana patut diacungi jempol karena berhasil meracik perangkat berkamera ciamik, performa mesin yang tangkas, ekosistem digital yang rapi, hingga dukungan sistem operasi yang panjang umur. Berbagai fiturnya pun diakui sangat berguna untuk memudahkan hajat hidup orang banyak.
Masalah pelik baru muncul ketika niat awal membeli barang mulai melenceng jauh. Kita tidak lagi fokus pada fungsi atau kegunaan gawai pintar tersebut. Sebaliknya, demi gengsi, kita hanya peduli pada bagaimana orang lain akan menilai kelas sosial kita saat melihat benda itu ada di tangan kita.
Kalau Anda mengira kegilaan massal terhadap ponsel mahal ini cuma halusinasi saja, tengoklah lembaran data pasar yang dingin ini. Lembaga riset Counterpoint Research mencatat bahwa gawai premium berharga grosir minimal 600 dolar AS ke atas kini telah mencaplok 29 persen pangsa pasar global pada semester I 2026. Angka ini naik dari yang semula 25 persen pada tahun sebelumnya.
Dua raksasa penguasa jagat teknologi, Apple dan Samsung, dengan jemawa mendekap 84 persen kue di segmen mewah tersebut, sementara kubu Apple sendiri masih sempat-sempatnya tumbuh 9 persen secara tahunan. Korporasi Apple sendiri tampaknya sedang mandi uang setelah mencatat rekor pendapatan iPhone yang membumbung tinggi pada kuartal pertama tahun fiskal 2026.
Mereka berhasil membukukan pendapatan sebesar 143,8 miliar dolar AS pada kuartal yang berakhir 27 Desember 2025, alias melejit 16 persen ketimbang periode sebelumnya. Seolah belum puas membuat dompet warga dunia menjerit, pada kuartal berikutnya pun Apple kembali dengan senyum lebar melaporkan rekor pendapatan iPhone baru untuk kuartal yang berakhir bulan Maret.
Lalu, mengapa benda yang fungsi dasarnya sama dengan smartphone lain ini bisa terasa begitu istimewa? Thorstein Veblen punya istilah yang cocok untuk membedahnya: conspicuous consumption. Dalam The Theory of the Leisure Class (1899), Veblen menjelaskan konsumsi barang bernilai tinggi sebagai cara pamer kemampuan ekonomi demi memburu prestise sosial.
iPhone menjadi menarik karena ia sangat mudah dikenali. Logo di belakangnya tidak perlu dijelaskan lagi maksudnya. Orang cukup melirik bentuk kameranya, lalu langsung tahu bahwa benda tersebut mahalnya kebangetan. Smartphone pun berubah fungsi menjadi semacam papan pengumuman berjalan yang kita bawa ke mana-mana.
Jean Baudrillard membuat persoalan ini semakin menarik melalui konsep sign value. Dalam masyarakat konsumsi, sebuah barang tidak berhenti pada kegunaan praktisnya. Barang juga membawa tanda, citra, prestise, dan identitas. Fungsi teleponnya mungkin sama-sama untuk menelepon, tetapi nilai simboliknya menceritakan sesuatu yang jauh lebih besar tentang si pemilik.
Di sinilah kita masuk ke pemikiran Pierre Bourdieu. Selera dapat menjadi cara seseorang membedakan dirinya dari orang lain. Pilihan barang akhirnya ikut berbicara tentang posisi sosial. iPhone pun menjadi bahasa sederhana untuk mengatakan, “Ini selera saya.” Dalam situasi tertentu, pesan itu bergeser menjadi, “Ini kelas saya.”
Masalahnya, yang namanya gengsi itu punya sifat bawaan lahir bagai lubang tanpa dasar. Begitu seri teranyar resmi keluar dari pabrik, gawai lama yang kemarin dipamerkan mendadak terasa hambar dan memalukan. Padahal, si model jadul itu masih sangat perkasa untuk sekadar membuka aplikasi WhatsApp, menjepret foto, menyunting video, bahkan dipakai untuk mencari pundi-pundi uang.
Namun, manusia memanglah makhluk ciptaan Tuhan yang paling aneh dan gemar bersikap jenaka. Kita kerap kali rela menguras isi dompet demi membeli benda baru, hanya untuk menyelesaikan masalah hidup yang sebenarnya tidak pernah ada.
Lebih aduhai lagi, akses untuk mencicipi gaya hidup kelas atas sekarang semakin dimanjakan oleh kebaikan hati para penyedia utang. OJK mencatat bahwa angka outstanding BNPL (Buy Now Pay Later) perbankan sukses menembus angka Rp31,56 triliun pada Juli 2026. Angka fantastis ini melesat 31,22 persen secara tahunan, dengan total 33,50 juta rekening masyarakat yang gemar berhutang demi kesenangan sesaat.
Data dingin itu memang tidak serta-merta menuduh bahwa seluruh tumpukan utang tersebut habis dipakai untuk memborong iPhone. Namun, angka jumbo itu sudah lebih dari cukup untuk menelanjangi fakta bahwa betapa budaya konsumsi berbasis cicilan telah menjajah sebagian besar hajat hidup finansial masyarakat kita.
Maka dari itu, membeli iPhone sebenarnya tidak perlu dimasukkan ke dalam daftar dosa besar yang membuat Anda masuk neraka. Apabila Anda seorang kreator konten yang memang membutuhkan modal kamera canggih, ruang penyimpanan raksasa, performa mesin yang tangguh, atau perangkat pelengkap kerja yang terbukti menghasilkan cuan, maka meminang iPhone adalah keputusan waras yang sangat masuk akal.
Kalau hajat hidupmu cuma mentok buat internetan, chatting, main media sosial, dan sesekali memotret cangkir kopi biar kelihatan estetis, sebaiknya tanyakan saja pada diri sendiri “Saya ini memang butuh fungsinya atau cuma kebelet pengen terlihat punya saja?”
Sebab pada hakikatnya, smartphone itu hanyalah sebuah alat perkakas. Kalau benda itu terbukti ampuh membantu pekerjaan dan menambah isi dompetmu, silakan pinang. Namun, kalau niatmu membelinya cuma untuk memberi makan ego yang rakus, percayalah, seri paling mutakhir buatan Apple sekalipun tidak akan pernah sanggup membuatmu kenyang.
Mungkin ada baiknya sesekali kita mematikan layar gawai, menengok sisa saldo di rekening tabungan, lalu berbisik dan tanyakan pada diri sendiri, kita ini sebenarnya sedang membeli kemajuan teknologi atau sekadar sedang menggadaikan akal sehat demi memotong tiket gengsi?