Lifestyle
Pentingnya Mengurai Benang Kusut Pikiran lewat Journaling
Pernahkah kamu merasa kepala penuh sesak, tetapi bingung bagaimana cara menjelaskannya? Pikiran seolah berputar tanpa arah, mulai dari obrolan lama yang tiba-tiba teringat, sampai rasa cemas yang datang bergantian. Pada momen seperti ini, kamu tidak selalu butuh nasihat panjang. Cukup siapkan selembar kertas untuk menumpahkan seluruh isi kepala.Di titik itulah aktivitas journaling menjadi sangat menarik.
Kegiatan yang sering dianggap sebagai bagian dari tren self-healing ini ternyata memiliki dasar yang kuat dalam penelitian psikologi. Salah satu metode yang paling populer adalah expressive writing, sebuah pendekatan ilmiah yang dikembangkan oleh psikolog James W. Pennebaker sejak dekade 1980-an.
Dalam artikel berjudul Expressive Writing in Psychological Science yang terbit di jurnal Perspectives on Psychological Science, Pennebaker mengupas tuntas perkembangan metode expressive writing. Beliau juga membeberkan berbagai riset yang membuktikan besarnya manfaat menuliskan pengalaman emosional. Idenya adalah tumpahkan semua isi kepala yang selama ini bikin mumet ke dalam bentuk kata-kata.
Proses ini terbukti ampuh membantu kita menata kembali memori atau pengalaman yang rasanya berantakan. Pennebaker juga menjelaskan dalam artikelnya yang lain, Putting Stress into Words: Health, Linguistic, and Therapeutic Implications. Di sana, beliau menyebutkan bahwa perubahan gaya bahasa saat menulis sangat mempengaruhi hasil yang kita dapatkan.
Memakai kata-kata yang menunjukkan pemahaman, hubungan sebab-akibat, dan proses berpikir akan menjadi sangat penting agar kita bisa merangkai cerita yang lebih jelas tentang apa yang sebenarnya kita alami.
Ada temuan yang lebih fresh dari meta-analisis oleh Guo dan kawan-kawan yang terbit pada tahun 2023 di British Journal of Health Psychology. Riset ini menganalisis 31 studi eksperimental yang melibatkan total 4.012 peserta.
Hasilnya membuktikan bahwa expressive writing punya efek nyata dalam meredakan gejala depresi, kecemasan, dan stres. Kerennya lagi, efek positif ini justru sering kali baru muncul setelah jeda beberapa waktu dan tetap bertahan saat kondisi psikologis peserta diperiksa kembali.
Fakta menarik lainnya, jarak waktu antar-sesi menulis ternyata ikut mempengaruhi hasilnya. Studi tersebut juga menemukan bahwa efek menulis akan jauh lebih kuat jika ada jeda sekitar 1–3 hari antar-sesi. Jadi, kamu tidak perlu menjadikan aktivitas menulis ini sebagai proyek besar yang menyita waktu berjam-jam.
Kisah personal juga bisa memberikan gambaran nyata tentang bagaimana proses menulis ini bekerja secara emosional. Dalam sebuah artikel di Psychology Today, seorang penyintas kekerasan seksual membagikan ceritanya saat menyimpan rapat-rapat detail pengalaman traumatisnya selama bertahun-tahun. Ia baru mulai menulis memoar tentang perjalanan hidupnya tersebut pada usia 52 tahun.
Menariknya, ia merasa bahwa proses menuliskan kisah itu sangat membantu dirinya untuk menghadapi kembali bagian cerita kelam yang selama ini selalu ia sembunyikan.Namun, perlu diingat bahwa ini adalah sebuah pengalaman personal. Kisah tersebut bukanlah bukti mutlak bahwa journaling pasti bisa menyembuhkan PTSD (gangguan stres pasca trauma).
Lalu, bagaimana cara memulainya? Sebenarnya gampang banget! Kamu cukup ambil selembar kertas atau buka aplikasi catatan di ponsel, kemudian langsung tulis apa saja yang sedang memenuhi kepalamu.
Pada momen ini, kamu tidak perlu memikirkan struktur kalimat, jumlah kata, tata bahasa, atau aturan SPOK (Subjek, Predikat, Objek, Keterangan). Anggap saja kamu sedang mengobrol dengan seseorang yang mau mendengarkan keluh kesahmu tanpa pernah memotong pembicaraan.
Kamu bisa memulainya dengan pada diri sendiri: “Apa yang sebenarnya sedang membuat pikiranku kacau hari ini?” Setelah itu, biarkan jemarimu terus bergerak. Kalau susunan kalimatmu berantakan, biarkan saja berantakan. Jika tulisanmu tiba-tiba melompat ke topik lain, itu sama sekali tidak masalah.
Ingat, tujuan utama aktivitas ini bukanlah untuk menghasilkan tulisan yang bagus, melainkan untuk memindahkan sebagian beban di kepala menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan dipahami oleh dirimu sendiri.
Namun, tetap ada batasan penting yang perlu kamu perhatikan. Aktivitas expressive writing bukanlah obat ajaib untuk menyembuhkan segala jenis trauma, dan pastinya bukan pengganti bantuan dari tenaga profesional.
Jika menulis tentang pengalaman tertentu justru membuat memori buruk terasa makin menguasai diri, memicu stres berat, atau mengacaukan aktivitas sehari-hari, sebaiknya hentikan proses tersebut. Segera bicarakan kondisi psikologis ini dengan ahlinya, seperti psikolog atau psikiater.
Pada akhirnya, journaling mungkin bukan tentang cara menemukan jawaban instan dalam satu halaman. Kadang kala, manfaat pertamanya jauh lebih sederhana: memindahkan benang kusut di dalam kepala agar terlihat jelas di atas kertas. Dari sanalah, kita memiliki sesuatu yang bisa dibaca, dipikirkan kembali, dan perlahan-lahan diurai.