Ulasan
Jangan Asal Buka Kiriman Misterius! Review Paket Santet: Petaka Belanja Online Mistik yang Kejam
Film Paket Santet tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026. Produksi BASE Entertainment ini merupakan debut sutradara Dinna Jasanti di genre horor setelah sebelumnya dikenal lewat karya drama remaja. Naskah digarap Obe Karel, Titien Wattimena, dan Ambaridzki Ramadhantyo, dengan produser Shanty Harmayn, Tanya Yuson, dan Aoura Lovenson Chandra. Durasi sekitar 98 menit dan berstatus usia 13+.
Kejutan Kotak Misterius Pembawa Bencana

Film ini mengisahkan tujuh mahasiswa—Deva (Fatih Unru), Bela (Yasamin Jasem), Celia (Gabriella Ekaputri), Ale (Fadly Faisal), Firza (Fiki Naki), Glen (Farandika), dan Kiki (Azela Putri)—yang menerima paket misterius tanpa identitas pengirim. Paket tersebut tampak seperti kiriman biasa, lengkap dengan bungkus, label, dan barcode.
Namun, begitu dibuka, kutukan santet mulai menghantui mereka. Mimpi buruk, gangguan gaib, dan ancaman kematian datang beruntun. Setiap paket baru seolah menjadi tanda bahwa salah satu di antara mereka akan menjadi korban berikutnya. Mereka terpaksa berpacu dengan waktu untuk mengungkap asal-usul kiriman itu sekaligus memutus kutukan yang terhubung dengan luka masa lalu, dendam, dan dampak perundungan yang tidak pernah selesai.
Premis film ini berhasil menghadirkan horor yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Santet tidak lagi datang melalui ritual tradisional atau dukun, melainkan melalui sistem pengiriman paket yang familiar bagi generasi muda. Pendekatan ini menciptakan ketegangan yang relevan: sebuah benda yang seharusnya membawa kenyamanan justru menjadi pintu masuk teror. Dinna Jasanti memanfaatkan elemen visual yang efektif, termasuk simbol lebah atau tawon yang mengerumuni salah satu karakter, untuk menggambarkan awal kutukan yang tidak dapat dihindari.
Ulasan Film Paket Santet

Chemistry antarpemain menjadi salah satu kekuatan utama. Fatih Unru sebagai Deva memberikan penampilan stabil yang mencerminkan tekanan kepemimpinan dalam kelompok. Yasamin Jasem kembali menunjukkan kemampuan akting horornya dengan ekspresi ketakutan yang natural, sementara Fadly Faisal menampilkan sisi karakter yang berbeda dari peran-peran sebelumnya. Debut Fiki Naki sebagai Firza, sosok yang cenderung santai, menambah lapisan dinamika kelompok. Gabriella Ekaputri, Farandika, dan Azela Putri melengkapi interaksi yang terasa seperti persahabatan kampus yang autentik. Interaksi mereka membangun fondasi emosional sehingga teror yang terjadi tidak hanya menyeramkan secara visual, tetapi juga menyentuh aspek hubungan antarmanusia.
Intinya, Paket Santet memadukan unsur horor supranatural dengan misteri dan drama. Film ini tidak semata-mata mengejar kejutan visual, melainkan mengeksplorasi konsekuensi dari tindakan masa lalu yang dianggap sepele. Fatih Unru sendiri pernah menyatakan bahwa film ini mendorong refleksi tentang bagaimana candaan atau perilaku yang dianggap ringan dapat meninggalkan luka mendalam. Alur berjalan dengan tempo yang cukup terkendali, meskipun beberapa momen penjelasan latar belakang bisa terasa sedikit panjang. Efek gore dan teror brutal hadir secara proporsional tanpa berlebihan, didukung lokasi syuting yang mencekam, termasuk gedung terbengkalai.
Adegan paling menakutkan muncul ketika salah satu karakter membuka paket dan langsung diserang oleh gerombolan lebah atau tawon yang seolah muncul dari ketiadaan. Suasana berubah drastis dalam hitungan detik: dari momen biasa menjadi kepanikan total. Visual dan desain suara di adegan tersebut berhasil menciptakan rasa tercekik yang intens. Momen lain yang sama-sama mencekam adalah adegan kesurupan Glen, di mana ia membenturkan kepalanya berulang kali. Intensitas fisik dan ekspresi yang ditunjukkan membuat suasana terasa sangat nyata dan sulit dilupakan, terutama karena didukung properti yang realistis, termasuk elemen darah yang menambah lapisan ketidaknyamanan.
Kejadian paling dramatis menyelimuti perseteruan terakhir dan saat-saat rahasia terkuak. Ketika anggota kelompok saling berhadapan dengan kebenaran tentang masa lalu mereka—termasuk peran masing-masing dalam peristiwa yang memicu dendam—ketegangan emosional mencapai puncaknya. Adegan final battle yang melibatkan koreografi fisik intens, termasuk gerakan yang menuntut koordinasi tinggi, memperlihatkan perjuangan kolektif mereka. Bukan hanya pertarungan melawan kekuatan gaib, tetapi juga pertarungan internal tentang kepercayaan, pengorbanan, dan penebusan. Momen-momen di mana persahabatan diuji hingga titik terendah, lalu diperjuangkan kembali, memberikan bobot emosional yang kuat dan membedakan film ini dari sekadar tontonan horor rutin.
Paket Santet berhasil menghadirkan horor yang segar melalui konsep yang dekat dengan keseharian, didukung penampilan solid dari para pemain muda dan arah cerita yang menyentuh tema konsekuensi sosial. Film ini cocok bagi penonton yang menginginkan teror yang tidak hanya menakutkan secara visual, tetapi juga meninggalkan pertanyaan tentang tanggung jawab atas tindakan di masa lalu. Dengan tayang di bioskop mulai 27 Agustus 2026, film ini menjadi pilihan yang layak dipertimbangkan bagi penggemar horor Indonesia yang mencari pengalaman menegangkan sekaligus reflektif.
Rating pribadi: 8/10.