Ulasan

Dreams of Joy: Antara Impian Seorang Gadis vs Kelamnya Tiongkok Era Mao

Dreams of Joy: Antara Impian Seorang Gadis vs Kelamnya Tiongkok Era Mao
Dreams of Joy (Dok.Pribadi/Oktavia)

Membaca Dreams of Joy atau Impian Joy karya Lisa See bisa dibilang tak sekadar mengikuti perjalanan seorang gadis mencari ayah kandungnya. Novel setebal 518 halaman ini membawa pembaca masuk ke Tiongkok pada 1957, sebuah masa ketika kehidupan masyarakat berada dalam tekanan politik, kemiskinan, dan kelaparan. Bagi saya, buku ini terasa seperti membuka lembaran sejarah yang selama ini hanya saya kenal melalui buku-buku sejarah.

Novel yang diterbitkan versi bahasa Indonesia oleh Gradien Mediatama pada 2011 ini merupakan lanjutan dari Shanghai Girls. Dengan latar Amerika, Hong Kong, Shanghai, hingga pedesaan Tiongkok, Lisa See mempertemukan persoalan keluarga dengan situasi politik yang mencekam.

Sinopsis Novel

Tokoh utamanya, Joy, adalah gadis berusia 19 tahun yang selama ini hidup di Amerika. Ia kemudian mengetahui bahwa laki-laki yang selama ini dianggap sebagai ayahnya bukanlah ayah kandungnya. Kenyataan tersebut membuat Joy memutuskan pergi ke Shanghai untuk menemukan ayah kandungnya sekaligus mencari jawaban atas identitas dirinya.

Namun, pencarian itu justru membawanya pada kehidupan yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.

Joy yang terbiasa dengan kehidupan Amerika harus beradaptasi ketika tinggal di pedesaan Tiongkok. Di Kampung Naga Hijau, ia bertemu Tao, seorang pemuda desa yang kemudian menjadi tambatan hatinya. Perbedaan kehidupan Joy dengan masyarakat desa digambarkan begitu mencolok. Fasilitas sederhana yang bagi masyarakat setempat merupakan sesuatu yang biasa justru menjadi pengalaman mengejutkan bagi Joy.

Tidak tersedia toilet dan kamar mandi seperti yang biasa ia gunakan. Persoalan menstruasi pun menjadi gambaran betapa terbatasnya kehidupan perempuan pada masa itu. Joy harus menggunakan kain sebagai pengganti pembalut. Detail-detail semacam ini membuat kehidupan pedesaan dalam novel terasa nyata sekaligus menyakitkan.

Perjalanan Joy juga tidak hanya berbicara tentang penderitaan. Ia harus berhadapan dengan cinta, kekecewaan, pengkhianatan, dan kenyataan bahwa orang yang dicintainya tidak selalu memiliki niat sebaik yang ia bayangkan. Hubungannya dengan Tao menjadi salah satu bagian yang memperlihatkan bagaimana idealisme dan perasaan seorang gadis muda dapat membuatnya mengabaikan kenyataan di sekelilingnya.

Di sisi lain, kasih sayang Pearl, Sam, May, serta sosok ayah kandung Joy menunjukkan bahwa di tengah situasi politik yang keras, masih ada manusia yang rela berkorban demi orang yang mereka cintai.

Kelebihan dan Kekurangan

Awalnya saya sempat merasa bosan melihat ketebalan buku yang mencapai 518 halaman. Namun, semakin jauh membaca, rasa penasaran justru semakin besar. Sebagai seseorang yang menyukai sejarah, saya menikmati cara Lisa See menggabungkan fiksi dengan gambaran kehidupan masyarakat pada masa tersebut.

Bagian yang paling membuat saya merinding adalah ketika cerita memasuki masa paceklik dan kelaparan. Masyarakat desa digambarkan mengalami kondisi yang sangat mengenaskan. Mereka terpaksa mengonsumsi apa saja yang tersedia, bahkan rumput, daun, tanah, dan pasir. Mayat-mayat ditemukan di pinggir jalan karena kelaparan. Dalam kondisi ekstrem, hubungan antarmanusia bahkan mengalami kehancuran.

Di sinilah novel tersebut terasa lebih dari sekadar kisah keluarga. Pembaca diperlihatkan bagaimana kebijakan politik dan kondisi sosial dapat memengaruhi kehidupan manusia sampai ke tingkat paling dasar: makanan, tempat tinggal, kesehatan, bahkan hubungan keluarga.

Saya sempat berpikir, mengapa masyarakat desa tidak pergi saja ke kota untuk mencari kehidupan yang lebih baik? Namun novel ini menunjukkan bahwa keluar dari desa bukan perkara sederhana. Pergerakan masyarakat diawasi dengan ketat sehingga mereka tidak bebas meninggalkan wilayah tempat tinggalnya.

Pesan Moral

Dreams of Joy memang bukan karya Lisa See yang menurut saya paling kuat. Bahkan, alurnya terasa seperti berhenti tanpa memberikan penutup yang benar-benar memuaskan. Namun, kekurangan tersebut tidak menghapus kekuatan novel ini dalam menggambarkan sisi gelap kehidupan Tiongkok pada era Mao.

Buku ini membuat saya kembali menyadari betapa beruntungnya hidup di zaman modern. Hal-hal sederhana yang sekarang dianggap biasa seperti toilet, pembalut, akses makanan, kebebasan bepergian. Ternyata pernah menjadi sesuatu yang sangat sulit bagi sebagian manusia.

Pada akhirnya, Dreams of Joy bukan hanya tentang Joy yang mencari ayah kandungnya. Ini adalah kisah tentang seorang gadis yang mencari identitas, cinta, dan impian, tetapi justru menemukan kenyataan pahit tentang dunia tempat ia memilih untuk tinggal.

Identitas Buku

  • Judul: Dreams of Joy
  • Penulis: Lisa See
  • Penerbit: Gradien Mediatama
  • Tahun Terbit: 2011
  • Tebal: 518 halaman
  • ISBN: 978-602-208-099-2
  • Seri: Shanghai Girls #2

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda