Ulasan
Babad Mangir: Ketika Kekuasaan Menaklukkan Lawan dengan Siasat Cinta
Sejarah tanah Jawa tidak hanya berisi kisah pergantian kekuasaan, peperangan, dan berdirinya kerajaan. Di dalamnya terdapat pula cerita tentang wilayah-wilayah yang menolak tunduk, tokoh-tokoh yang mempertahankan kedaulatan, serta strategi politik yang terkadang jauh lebih rumit daripada pertempuran di medan perang. Salah satu kisah tersebut hadir dalam Babad Mangir: Kisah dan Sejarah Ki Ageng Mangir karya Gunawan atau Jaka Dipati.
Diterbitkan oleh Araska Publisher, Yogyakarta, pada Mei 2024, buku setebal 300 halaman ini mengangkat konflik antara Ki Ageng Mangir Wanabaya dan Kerajaan Mataram Islam di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati. Kisahnya mempertemukan dua kepentingan besar: keinginan Mataram memperluas hegemoni dan tekad Mangir mempertahankan wilayahnya agar tetap berdaulat.
Isi Buku
Dalam cerita, Mangir digambarkan sebagai wilayah yang tidak mengakui kekuasaan pusat Mataram. Sikap tersebut tentu menjadi persoalan bagi Panembahan Senopati. Sebuah kerajaan yang sedang memperluas pengaruh tidak akan mudah membiarkan wilayah di sekitarnya berdiri secara mandiri.
Namun, Ki Ageng Mangir bukan lawan yang mudah ditundukkan. Ia memiliki keberanian sekaligus pusaka yang dipercaya memiliki kesaktian, yakni Tombak Baru Kuping atau Baru Klinthing. Keberadaan pusaka tersebut semakin memperkuat keyakinan Ki Ageng Mangir untuk mempertahankan wilayahnya. Ketika kerajaan-kerajaan lain datang memberikan persembahan atau upeti kepada Mataram, Mangir justru digambarkan tidak gentar.
Sikap tersebut memperlihatkan bahwa konflik dalam Babad Mangir bukan semata-mata pertarungan fisik. Ada persoalan mengenai kedaulatan dan legitimasi kekuasaan. Siapa yang berhak memerintah? Apakah sebuah wilayah harus tunduk hanya karena ada kerajaan yang lebih besar? Atau apakah penguasa lokal berhak mempertahankan otonominya?
Pertanyaan semacam ini membuat kisah Mangir tetap menarik dibaca dalam konteks sekarang. Perebutan kekuasaan pada masa lalu mungkin menggunakan tombak, pasukan, dan strategi kerajaan, tetapi prinsip politiknya tetap relevan: kekuasaan selalu membutuhkan legitimasi, dan pihak yang ingin memperluas pengaruh akan mencari berbagai cara untuk menghilangkan hambatan.
Menariknya, Mataram tidak selamanya mengandalkan kekuatan militer. Ketika berbagai strategi gagal menundukkan Mangir, digunakanlah apus krama, yakni siasat melalui telik sandi atau intelijen. Strategi ini dijalankan melalui kelompok yang melakukan pertunjukan keliling, termasuk pentas wayang.
Di sinilah Retno Pembayun memasuki cerita. Pembayun, putri Panembahan Senopati, tidak hanya ditempatkan sebagai tokoh perempuan dalam kisah kerajaan. Ia menjadi bagian penting dari strategi politik Mataram. Kelembutan dan daya tariknya digunakan sebagai instrumen untuk mendekati Ki Ageng Mangir.
Dengan kata lain, ketika kekuatan tidak mampu menembus pertahanan seseorang, perasaan digunakan sebagai pintu masuk. Ki Ageng Mangir akhirnya jatuh ke dalam siasat tersebut. Ia yang sebelumnya begitu keras mempertahankan kedaulatan justru menghadapi kelemahan yang tidak dapat diselesaikan dengan pusaka atau keberanian: cinta.
Di sinilah kisah Babad Mangir berubah menjadi tragedi. Penaklukan Mangir tidak sekadar berbicara tentang kemenangan politik Mataram, tetapi juga menunjukkan harga yang harus dibayar ketika kehidupan pribadi dikorbankan demi kepentingan kekuasaan.
Kelebihan dan Kekurangan
Buku ini juga menarik karena mengingatkan pembaca pada kedudukan babad sebagai salah satu bentuk karya historiografi tradisional Jawa. Babad tidak selalu dapat diperlakukan seperti laporan sejarah modern yang sepenuhnya objektif. Di dalamnya terdapat unsur sejarah, tradisi lisan, simbol, mitos, dan konstruksi budaya yang berkembang dari generasi ke generasi.
Karena itu, membaca Babad Mangir tidak hanya berarti mencari tahu apakah seluruh detail kisahnya merupakan fakta historis. Yang tidak kalah penting adalah memahami bagaimana masyarakat Jawa merekam konflik kekuasaan melalui cerita dan simbol.
Ki Ageng Mangir kemudian menjadi lebih dari sekadar nama dalam sejarah. Ia merepresentasikan sosok penguasa lokal yang menolak tunduk. Sementara Panembahan Senopati menggambarkan ambisi kekuasaan yang membutuhkan strategi untuk menyatukan wilayah. Dan Pembayun menjadi gambaran paling tragis tentang bagaimana kepentingan politik dapat masuk ke ruang paling personal manusia.
Pada akhirnya, Babad Mangir memperlihatkan bahwa perang tidak selalu dimulai dengan denting senjata. Kadang ia dimulai dari sebuah strategi, sebuah penyamaran, sebuah pertemuan, bahkan sebuah cinta. Dan ketika cinta dijadikan senjata politik, kemenangan mungkin berhasil diraih, tetapi tidak selalu tanpa meninggalkan luka.
Identitas Buku
- Judul: Babad Mangir: Kisah dan Sejarah Ki Ageng Mangir
- Penulis: Gunawan (Jaka Dipati)
- Penerbit: Araska Publisher
- Tahun Terbit: 2024
- Tebal: 300 halaman
- ISBN: 978-623-7537-24-3