Ulasan

Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan

Pelajaran Memaafkan di Buku Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan (Dok.Pribadi/Oktavia)

Apa yang akan dilakukan jika suatu hari ibu kandung kita yang terkenal galak, suka mengatur, dan superprotektif tiba-tiba berubah menjadi kucing? Itulah situasi absurd yang harus dihadapi Michi dalam Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan karya Kai Elian. Novel ini memang terdengar seperti cerita fantasi yang ringan dan kocak, tetapi di balik perjalanan penuh kekacauan tersebut tersimpan pembahasan serius tentang keluarga, pola asuh, trauma lintas generasi, dan pentingnya belajar memaafkan. Diterbitkan Gramedia Pustaka Utama pada 2024, buku setebal 328 halaman ini memang membuat pembaca menebak-nebak ke mana arah ceritanya. 

Sinopsis Novel

Bermula ketika Michi berniat mengikuti ujian masuk universitas di kota X. Keinginannya ditentang keras oleh Mama, Helen. Karena dilarang, Michi akhirnya memutuskan pergi diam-diam bersama sahabatnya, Levi. Namun, sesuatu yang tidak masuk akal terjadi. Pada hari keberangkatan, Helen tiba-tiba berubah menjadi seekor kucing bertotol seperti macan.

Dalam sebuah mimpi, Michi mengetahui bahwa satu-satunya cara untuk mengembalikan Mama ke wujud manusia adalah mendapatkan ciuman cinta sejati dari setiap anggota keluarganya. Bersama Papa dan Levi, Michi kemudian melakukan perjalanan ke kota X untuk menjemput kakaknya, Rene.

Premisnya memang absurd, tetapi justru di situlah daya tarik novel ini. Perjalanan mereka bukan sekadar road trip keluarga. Ada kejar-kejaran, orang-orang misterius yang mengancam keselamatan mereka, potongan masa lalu, konflik keluarga, sampai berbagai situasi yang berhasil membuat pembaca berpindah emosi dengan cepat. Dalam satu adegan kita bisa tertawa, beberapa halaman kemudian merasa tegang, lalu tiba-tiba dibuat terharu.

Menariknya, unsur magical realism tidak digunakan hanya sebagai hiasan. Perubahan Helen menjadi kucing menjadi pintu masuk untuk membongkar hubungan dalam keluarga Michi. Di balik sifat keras Mama Macan, ternyata terdapat pengalaman dan luka yang membentuk cara pandangnya sebagai seorang ibu.

Novel ini berbicara tentang generational trauma, yaitu luka atau pola perilaku yang dapat terbawa dari satu generasi ke generasi berikutnya. Helen bukan sekadar ibu yang galak tanpa alasan. Ada kerinduan, kesepian, kecemburuan, keputusasaan, dan pengalaman masa lalu yang ikut membentuk dirinya. Pembaca akhirnya diajak memahami bahwa perilaku seseorang tidak selalu muncul tanpa sebab.

Kelebihan dan Kekurangan

Inilah salah satu bagian yang menurut saya menarik. Novel tidak mengajak pembaca sekadar mengatakan bahwa orang tua salah atau anak yang benar. Sebaliknya, kita diajak melihat persoalan dari berbagai sisi. Ada kalimat Oma yang terasa menohok: “Orangtua juga manusia; seberapa gigih kami mencoba, kami tetap manusia.”

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa orang tua pun bisa melakukan kesalahan. Yang menjadi persoalan adalah apa yang dilakukan setelah kesalahan itu terjadi. Apakah seseorang mau mengakui, belajar, dan memperbaikinya, atau justru menganggap pola tersebut normal lalu mengulanginya kepada generasi berikutnya?

Hubungan Michi dan Rene juga memperlihatkan bagaimana dampak pola asuh dapat dirasakan anak dengan cara berbeda. Sementara itu, perkembangan karakter Rayyan dalam dinamika keluarga yang menjadi salah satu bagian emosional cerita. Menunjukkan bahwa kepercayaan tidak dapat dibangun secara instan. Semua membutuhkan proses dan keberanian untuk membuka diri.

Saya juga menyukai cara penulis menggunakan beberapa sudut pandang orang pertama dari Levi, Michi, dan Rene. Meskipun perpindahan POV cukup sering, suara ketiganya tetap mudah dibedakan. Bukan hanya melalui penggunaan kata “aku” atau “gue”, tetapi juga dari pola pikir, kebiasaan, dan cara masing-masing tokoh merespons masalah.

Ada pula detail kecil yang membuat cerita terasa dekat dengan pembaca Indonesia. Ketika Helen berubah menjadi kucing, reaksi keluarga yang langsung mengaitkannya dengan hal-hal mistis dan menyarankan mencari dukun terasa sangat lokal. Detail semacam ini mungkin sederhana, tetapi justru membuat premis fantastis tersebut terasa lebih membumi.

Meski sebagian besar cerita sangat menghibur, ada satu bagian menjelang akhir yang menurut saya terasa terlalu terburu-buru. Adegan tersebut sebenarnya penting, tetapi penjelasannya kurang gamblang sehingga membuat pembaca sedikit kebingungan. 

Terlepas dari kekurangan tersebut, Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan berhasil menjadi bacaan yang “penuh”. Ia punya petualangan, misteri, humor, drama keluarga, romansa, sekaligus refleksi. Lebih penting lagi, novel ini mengingatkan bahwa memaafkan bukan berarti menghapus luka atau membenarkan kesalahan. Memaafkan adalah usaha agar kebencian tidak terus hidup di dalam diri.

Kisah Michi dan keluarganya mengajak kita melihat orang tua bukan sebagai sosok sempurna yang selalu tahu apa yang terbaik, melainkan sebagai manusia yang juga bisa takut, salah, terluka, dan belajar. Sebab, seperti kata Michi, ada hal-hal di dunia yang tidak selalu bisa dijelaskan dengan kata-kata dan hanya sanggup dipahami dengan hati.

Identitas Buku

  • Judul: Panduan Jalan-Jalan Aman Bersama Mama Macan
  • Penulis: Kai Elian
  • Penyunting: Karina Anjani
  • Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
  • Tahun Terbit: 2024
  • Bulan Terbit: Juni 2024
  • Tebal: 328 halaman
  • Genre: Drama Keluarga, Magical Realism, Petualangan

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda