Ulasan
Review Film Harusnya Horror: Ketika Geng Kreator Digital Masuk Layar Lebar, Berhasil atau Cringe?
Beberapa film, ada yang dibuat oleh orang-orang yang sudah saling mengenal terlalu lama. Mereka tahu kapan harus bercanda, tahu bagaimana merespons satu sama lain, bahkan seolah-olah tahu ekspresi apa yang akan membuat teman di sebelahnya tertawa. Energi seperti itu bisa menjadi daya tarik. Di sisi lain, energi yang sama juga bisa menjadi jebakan ketika kebiasaan dari konten digital dibawa begitu saja ke dalam film.
Dan Film Harusnya Horror berada di wilayah itu. Film produksi Ess Jay Pictures, bekerja sama dengan AAA Clan, Marapthon, Sinegrande, Legacy Pictures, dan KUY! Studios. Ini jadi debut Reza Oktovian alias Reza Arap sebagai sutradara layar lebar. Reza juga menjadi pemeran utama sebagai Mas. Film berdurasi 106 menit ini mengusung genre komedi-horor dan tayang di bioskop Indonesia mulai 20 Agustus 2026.
Selain Reza Oktovian, film ini dibintangi mendiang Lula Lahfah sebagai Gea, Tierison sebagai Kevin, Garry Ang sebagai Kenzo, Yukatheo sebagai Cipuy, serta King Aloy, Bravy, Niko Junius, Ibot, Tepe, Yoshua Marcellos, Malka Rafasya, Heroe Soewarno, dan Ronny P. Tjandra. Skenarionya ditulis Rahabi Mandra dan Syahrun Ramadhan.
Ceritanya mengikuti Mas, seorang wibu yang meninggal mendadak sebelum sempat menonton episode terakhir anime favoritnya. Demi mendapatkan kesempatan menyaksikan episode tersebut, Mas menerima tugas dari alam baka untuk menakut-nakuti 100 ribu manusia. Masalahnya, dirinya sama sekali nggak menyeramkan.
Dalam keadaan terdesak, Mas bertemu Kevin, Gea, Kenzo, dan Cipuy, sekelompok kreator konten horor yang sedang mengalami kesulitan finansial. Mereka kemudian menjadikan Mas sebagai talent untuk membuat konten horor. Konten tersebut berkembang menjadi viral dan membawa mereka pada kesuksesan. Seiring perjalanan berlangsung, hubungan mereka berubah dari sekadar kerja sama menuju ikatan yang lebih personal, sampai Mas harus berhadapan dengan pilihan antara ambisi pribadinya dan menyelamatkan orang-orang yang sudah dianggapnya sebagai keluarga.
Se-cringe itu memang kisahnya. Ups!
Ketika Persona Digital Harus Tunduk pada Cerita
Buatku, bagian paling menarik dari Harusnya Horror bukan dari hantunya, melainkan proses ketika persona kreator digital dipaksa masuk ke struktur film.
Reza Arap dan para pemain dari ekosistem AAA Clan serta Marapthon sudah punya chemistry yang terbentuk jauh sebelum kamera film dinyalakan. Marapthon sendiri merupakan program maraton live streaming yang dikelola Reza Arap bersama AAA Clan. Jadi, ketika mereka berkumpul dalam Harusnya Horror, penonton memang mendapatkan sesuatu yang sudah familier.
Jujur saja, interaksi antar pemain begitu cair, celetukan terasa natural, dan hubungan mereka nggak seperti sekumpulan aktor yang baru saja dipertemukan untuk sebuah proyek. Masalahnya, film membutuhkan sesuatu yang lebih dari sekadar chemistry.
Konten digital bisa hidup dari spontanitas. Satu respons lucu, ekspresi, atau satu celetukan absurd sudah cukup menjadi hiburan. Film punya tuntutan berbeda. Setiap karakter harus punya fungsi dalam cerita, konflik harus bergerak, emosi perlu berkembang, dan chemistry harus membantu perjalanan karakter alih-alih sekadar menghasilkan kelucuan.
Aku memang bisa menikmati sensasi melihat para kreator yang selama ini mejeng lewat layar digital kini bermain dalam film. Ada kesenangan tersendiri ketika dinamika mereka nyatu. Namun, beberapa momen juga memperlihatkan, kebiasaan ala konten digital, pada dasarnya punya batas ketika dibawa ke medium sinema.
Menurutku, film ini paling berhasil ketika persona para pemain digunakan sebagai pintu masuk menuju karakter. Mas yang diperankan Reza Arap punya energi khas yang cocok dengan premisnya. Kevin, Gea, Kenzo, dan Cipuy juga jadi kelompok yang mudah diikuti.
Film ini akhirnya menunjukkan, chemistry dari dunia digital memang bisa jadi modal awal yang kuat, tapi layar lebar membutuhkan perkembangan lebih jauh.
Dan lagi-lagi, menjadi lucu bersama teman di depan kamera dan membangun karakter dalam sebuah film adalah dua kemampuan yang berdekatan, sekaligus punya tuntutan tersendiri.
Harusnya Horror mungkin lahir dari ekosistem kreator digital, tapi keberhasilannya di layar lebar akhirnya bergantung pada seberapa jauh para kreatornya mampu keluar dari persona mereka sendiri.
Terlepas demikian pendapatku yang apa adanya ini, para fans tentunya punya sesuatu yang menjadikan alasan film ini layak dijunjung setinggi langit. Eh!