Ulasan

Review Serial X-Men '97 Season 2: Sebuah Aksi Pertarungan Epik Lintas Waktu

Review Serial X-Men '97 Season 2: Sebuah Aksi Pertarungan Epik Lintas Waktu
Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 2 (IMDb)

X-Men '97 Season 2 diluncurkan secara eksklusif di Disney+ pada 1 Juli 2026, dengan tiga episode perdana, diikuti rilis mingguan setiap Rabu hingga episode terakhir pada 12 Agustus 2026. Di wilayah Indonesia, seluruh sembilan episode kini tersedia untuk streaming di Disney+. Penonton dapat menontonnya kapan saja melalui aplikasi atau situs Disney+ dengan langganan yang aktif.

Konflik Mutan yang Makin Seru dan Emosional

Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 2 (IMDb)
Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 2 (IMDb)

Serial animasi ini melanjutkan kisah langsung dari cliffhanger Season 1. Tim X-Men terpecah dan terlempar ke berbagai era waktu setelah peristiwa besar di akhir musim sebelumnya. Sebagian anggota berada di Mesir Kuno, di mana mereka berhadapan dengan versi muda En Sabah Nur yang kelak menjadi Apocalypse. Sebagian lainnya terjebak di masa depan yang jauh, sekitar abad ke-40, di mana Apocalypse telah menguasai dunia dengan kekejaman mutlak. Sementara itu, di era 1990-an, tokoh-tokoh yang tersisa harus menghadapi ancaman baru berupa intoleransi terhadap mutan yang semakin meningkat, sekaligus mencoba mengisi kekosongan yang ditinggalkan rekan-rekan mereka.

Cerita dikembangkan dengan struktur paralel yang ambisius. Tiga garis waktu berjalan secara bersamaan, masing-masing mengeksplorasi sisi berbeda dari ancaman Apocalypse. Di masa lalu, Professor X dan Magneto terpaksa bersekutu dengan En Sabah Nur dalam perjuangan melawan firaun jahat Rama-Tut. Di masa depan, Cyclops, Jean Grey, Storm, Wolverine, dan Morph bertemu kembali dengan putra mereka yang telah dewasa, Nathan Summers (Cable), di tengah perlawanan Clan Askani. Di masa kini, tokoh-tokoh seperti Jubilee, Bishop, dan sekutu baru harus menjaga harapan mutan tetap hidup.

Review Serial X-Men '97 Season 2

Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 2 (IMDb)
Salah satu adegan di serial X-Men '97 Season 2 (IMDb)

Animasi Season 2 mempertahankan gaya visual khas era 1990-an yang telah diperbarui dengan kualitas modern. Adegan aksi tetap dinamis dan penuh warna, sementara latar Mesir Kuno dan distopia masa depan digambarkan dengan detail yang kuat. Pengisi suara utama kembali dengan penampilan yang konsisten: Ross Marquand sebagai Professor X, Matthew Waterson sebagai Magneto, Ray Chase sebagai Cyclops, Jennifer Hale sebagai Jean Grey, Alison Sealy-Smith sebagai Storm, Cal Dodd sebagai Wolverine, Lenore Zann sebagai Rogue, dan George Buza sebagai Beast. Kehadiran tokoh baru dan pengembangan karakter lama, termasuk Cable serta beberapa anggota X-Force dan X-Factor, menambah kedalaman narasi.

Overall, Season 2 berhasil mempertahankan semangat Season 1 yang memadukan nostalgia, drama karakter, dan aksi spektakuler. Akan tetapi, pace yang sangat cepat kadang membuat beberapa alur terasa kurang mendalam, terutama di bagian akhir. Meski demikian, musim ini tetap menjadi salah satu adaptasi X-Men animasi yang paling kuat dalam beberapa tahun terakhir kok.

Salah satu adegan paling emosional terjadi ketika Cyclops dan Jean Grey harus menghadapi kenyataan tentang masa depan putra mereka di tengah kehancuran dunia yang dikuasai Apocalypse. Dialog di antara mereka tentang pengorbanan, harapan, dan rasa bersalah sebagai orang tua terasa sangat menyentuh. Momen tersebut diperkuat oleh penampilan suara yang penuh nuansa, menggambarkan konflik internal antara keinginan melindungi keluarga dan kewajiban sebagai pemimpin mutan. Adegan ini mengingatkanku bahwa di balik kekuatan super, tokoh-tokoh ini tetap manusia yang rentan terhadap rasa kehilangan dan keraguan.

Adegan paling dramatis muncul saat bentrokan besar di akhir musim, khususnya ketika tim X-Men yang akhirnya bersatu kembali harus menghadapi kekuatan gabungan musuh mereka serta ancaman Apocalypse yang telah berevolusi. Ketegangan dibangun melalui pertarungan berskala besar yang melibatkan banyak karakter, dengan konsekuensi emosional yang tinggi bagi beberapa tokoh utama. Momen ketika Rogue, yang telah melalui duka mendalam sejak Season 1, mengambil peran krusial dalam klimaks memberikan dampak dramatis yang kuat. Visual aksi yang intens dipadukan dengan dialog yang menegaskan tema survival of the fittest menciptakan puncak ketegangan yang sulit dilupakan.

Season 2 juga mengeksplorasi tema-tema klasik X-Men secara lebih mendalam: konflik ideologis antara Professor X dan Magneto, pertanyaan tentang takdir versus pilihan bebas, serta harga yang harus dibayar untuk melindungi dunia yang membenci mereka. Pengembangan Apocalypse sebagai tokoh yang kompleks, bukan sekadar penjahat satu dimensi, menjadi salah satu kekuatan naratif. Di masa lalu, aku melihat sisi manusiawi En Sabah Nur sebelum ia berubah menjadi ancaman terbesar, sementara di masa depan dampak pemerintahannya yang tiranis ditampilkan dengan jelas.

Meski ada catatan mengenai pacing yang terburu-buru di beberapa episode tengah dan akhir, X-Men '97 Season 2 tetap memberikan pengalaman menonton yang memuaskan buatku. Serial ini berhasil menghormati warisan animasi 1990-an sambil membawa cerita ke arah yang lebih dewasa dan serius. Bagi penggemar yang telah menunggu hampir dua tahun, musim ini menawarkan penutupan yang memadai atas cliffhanger sebelumnya sekaligus membuka kemungkinan baru untuk musim-musim mendatang.

Dengan seluruh episode yang kini tersedia di Disney+ Indonesia, Season 2 menjadi rekomendasi kuat bagi siapa pun yang menghargai cerita superhero yang berfokus pada karakter, konflik moral, dan aksi berkualitas tinggi. Serial ini membuktikan bahwa animasi Marvel masih mampu menghasilkan karya yang relevan dan mengesankan di era streaming. Rating pribadi: 7.5/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda