Ulasan

Dari Akihabara ke Jakarta: Mengintip Uniknya Budaya Maid Cafe yang Lagi Naik Daun

Dari Akihabara ke Jakarta: Mengintip Uniknya Budaya Maid Cafe yang Lagi Naik Daun
Pengunjung disuapi oleh karakter maid favoritnya. (Sumber: Dokumentasi pribadi)

Kalau kebanyakan orang mengenal maid cafe sebatas konsep "dilayani bak tuan", ada cerita lain yang jarang terekspos: perjuangan para cosplayer maid dalam mempersiapkan kostum dan riasan yang butuh dua jam lebih. Sampai-sampai penggemar rela menempuh perjalanan jauh demi bertemu cosplayer favoritnya. Itulah yang terjadi dalam event BAKKA!! Maid Cafe Volume 2 bertema Bocchi the Rock!, yang digelar oleh komunitas AniEvo ID di Hotel BW Express Jakarta, Sabtu (29/8/26).

Alih-alih hanya melihat dari satu sudut pandang, berbincang langsung dengan salah satu maid dan sejumlah pengunjung membuka gambaran yang lebih utuh: bahwa acara ini sebenarnya pertemuan dua dedikasi, yakni cosplayer yang totalitas dalam menghidupkan karakter, dan dedikasi penggemar yang niat banget mengejar momen bersama idolanya.

Bukan Sekadar Pakai Kostum, Tapi "Jadi" Karakternya

Sisi unik kehidupan Tokyo di Akihabara: deretan maid cafe dan budaya cosplay di pusat anime Jepang. Sumber:dreamstime.com/teewaratwinyarat

Sisi unik kehidupan Tokyo di Akihabara: deretan maid cafe dan budaya cosplay di pusat anime Jepang. Sumber:dreamstime.com/teewaratwinyarat

Lasyea, salah satu maid yang tampil sebagai Nijika Ijichi dari Bocchi the Rock!, bercerita sudah terjun ke dunia cosplay sejak 2019. Awalnya iseng, terpicu rasa penasaran setelah menonton anime My Dress-Up Darling. Ia sempat berpikir hobi ini cuma buang-buang waktu dan uang, sampai akhirnya memutuskan mengubahnya jadi sesuatu yang menghasilkan lewat berbagai job cosplay, termasuk menjadi maid di acara seperti ini.

Yang menarik, buat Lasyea dan rekan-rekannya, memakai kostum saja tidak cukup. Sebelum tampil, mereka mempelajari kepribadian karakter yang diperankan, bahkan menonton animenya kalau perlu sampai season lanjutan, supaya "aura" karakter itu benar-benar keluar. Nijika sendiri dipilih Lasyea karena karakternya ekstrover dan ceria — cocok dengan kepribadian aslinya. Tapi ia mengaku pernah kebagian peran yang jauh dari karakter asli dirinya, seperti tokoh pendiam dan introver, dan itu jadi tantangan tersendiri untuk "masuk" ke sana.

Tantangan lain datang dari hal yang lebih teknis: riasan wajah. Karena kostum aslinya menggambarkan anak sekolah, Lasyea harus memastikan riasannya tidak membuat karakter terlihat lebih dewasa dari seharusnya — sebuah detail kecil yang ternyata butuh perhatian besar. Belum lagi proses persiapannya sendiri bisa memakan waktu dua jam lebih sebelum acara dimulai, dan sebagian besar kostum didapat dari rental karena harga kostum orisinal yang tergolong mahal.

Selama tiga sesi @ 100 menit, para maid tak cuma menemani makan dan mengobrol, tapi juga mengajak pengunjung bermain game hingga menawarkan layanan tambahan (add-on) seperti disuapi atau dielus kepala. Namun Lasyea menegaskan, semua interaksi ini punya batas yang dijaga dari kedua sisi — baik dari kenyamanan maid maupun kesepakatan dengan pengunjung. Permintaan seperti duduk di pangkuan, misalnya, hanya berlaku untuk pengunjung perempuan, dan tetap bergantung pada kesediaan masing-masing maid.

Menurutnya, yang paling berkesan justru bukan sekadar transaksi layanan, melainkan momen personal dengan pengunjung yang datang dari jauh — ada yang dari Bogor, ada pula dari Bandung, bahkan sampai menginap demi menghadiri acara ini. "Aku tersentuh," katanya, mengenang bagaimana sejumlah tamu rela menempuh perjalanan panjang hanya untuk bertemu maid favorit mereka.

Pengunjung Rela Datang Jauh-jauh Demi Karakter Favorit

Para maid cosplayer anime Bochi the Rock! dalam acara Bakka!! Maid Cafe oleh AniEvo ID. Sumber: Dokumentasi pribadi

Para maid cosplayer anime Bochi the Rock! dalam acara Bakka!! Maid Cafe oleh AniEvo ID. Sumber: Dokumentasi pribadi

Cerita itu ternyata sejalan dengan pengalaman Rawan dan Renali Prasetyo, dua pengunjung asal Bekasi yang datang bersama. Keduanya mengaku memilih sesi VIP justru supaya bisa berinteraksi lebih dekat dengan cosplayer yang mereka sukai. Bagi Renali, ini bahkan pengalaman pertamanya ikut acara semacam ini, dan ia menyebutnya "best experience". Sementara Rawan, yang sudah pernah datang di edisi sebelumnya, menilai penyelenggaraan tahun ini terasa jauh lebih matang dibanding sebelumnya.

Menariknya, ketertarikan mereka terhadap tema Bocchi the Rock! tidak selalu berangkat dari sudah menonton animenya secara utuh. Renali mengaku belum pernah menonton serinya sama sekali, tapi tetap familier dengan karakter-karakter seperti Bocchi, Ikuyo Kita, Ryo Yamada, hingga Nijika — semata karena menyukai cosplayer yang memerankannya. Ini menunjukkan bahwa daya tarik acara semacam ini kerap kali bukan cuma soal fandom terhadap judul anime, tapi juga koneksi personal dengan sosok di baliknya.

Ketika ditanya soal kemungkinan datang lagi, jawaban keduanya senada: tergantung jadwal, dan tergantung apakah cosplayer favorit mereka akan tampil lagi. Satu kata yang mereka pilih untuk menggambarkan perasaan setelah acara ini: "senang", diibaratkan meledaknya suasana hati "kayak petasan".

Sejarah Maid Cafe

Ritual menghias piring dengan saus di atas nasi omu dalam acara Bakka!! Maid Cafe Vol 2 oleh AniEvoID. Sumber: Dokumentasi pribadi

Ritual menghias piring dengan saus di atas nasi omu dalam acara Bakka!! Maid Cafe Vol 2 oleh AniEvoID. Sumber: Dokumentasi pribadi

Untuk memahami kenapa acara seperti BAKKA!! Maid Cafe bisa begitu digandrungi, ada baiknya menengok dulu dari mana konsep maid cafe ini berasal. Dilansir dari laman Fun!Japan, maid cafe pertama yang tercatat dalam sejarah adalah Cure Maid Cafe yang dibuka di Akihabara, Tokyo pada tahun 2001. Sejak saat itu, jumlah maid cafe di kawasan tersebut terus bertambah dan berkembang menjadi kategori yang lebih luas bernama "concept cafe" atau con cafe, yakni kafe bertema yang tidak melulu soal maid, tapi juga butler, idola, hingga gaya-gaya subkultur lain.

Konsep dasarnya sederhana, pelayan mengenakan kostum ala pelayan rumah tangga Eropa klasik, lalu memperlakukan setiap pengujung sebagai "majikan" atau "tuan/nyonya" mereka, layaknya sedang memainkan sebuah peran bersama. Ritual seperti mengucapkan mantra sebelum makan, menghias piring dengan saus di atas nasi omu, sampai mengajak pengunjung berinteraksi lewat tepuk tangan dengan gerakan tertentu, adalah ciri khas yang lahir dari budaya "moe", rasa gemas dan sayang terhadap karakter-karakter menggemaskan ala anime.

Akihabara sendiri dikenal sebagai pusat budaya otaku di Jepang, tempat di mana toko-toko anime, manga, dan merchandise berkumpul sejak akhir 1990-an, sehingga wajar jika kawasan ini juga menjadi tempat lahirnya konsep maid cafe.

Di Indonesia, konsep ini diadopsi dengan wajah yang agak berbeda. Alih-alih hadir sebagai kafe permanen seperti di Akihabara atau Shibuya, maid cafe di sini umumnya hanya muncul sebagai pop-up event yang digelar sesekali, biasanya menyasar komunitas penggemar anime dan cosplay di kota-kota besar seperti Jakarta. Formatnya pun kerap disesuaikan dengan tema anime tertentu yang sedang populer — seperti yang dilakukan AniEvo ID dengan mengangkat Bocchi the Rock! di BAKKA!! Maid Cafe Vol. 2 ini, setelah sebelumnya sukses menggelar volume pertama.

Menurut Annisa Zulfalia dalam penelitiannya tahun 2024, kemunculan acara-acara semacam ini juga tak lepas dari makin masifnya budaya pop Jepang, termasuk cosplay, yang berkembang di Indonesia sejak dipromosikan secara global oleh Jepang lewat berbagai acara kebudayaan sekitar akhir 2000-an. Sejak itu, event bertema Jejepangan — termasuk yang menyisipkan konsep maid cafe di dalamnya — makin rutin digelar di kota-kota besar, dan menjadi wadah bagi komunitas cosplayer maupun penggemar anime untuk berkumpul sekaligus mengekspresikan kecintaan mereka pada karakter favorit.

Meski begitu, jika dibandingkan dengan skema aslinya di Jepang yang sudah berjalan lebih dari dua dekade dan punya kafe permanen dengan jaringan puluhan cabang, maid cafe di Indonesia masih dalam tahap tumbuh. Seperti kata Lasyea sendiri, geliat ini masih "kurang hype" dibanding Jepang — tapi justru dari situlah cerita-cerita seperti BAKKA!! Maid Cafe menjadi menarik untuk diikuti, karena menunjukkan bagaimana sebuah subkultur asing perlahan menemukan bentuknya sendiri di tengah komunitas lokal.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda