Lifestyle

Dari Nongkrong di Warnet Sampai Punya Event Maid Cafe: Ini Cerita di Balik AniEvo ID

Dari Nongkrong di Warnet Sampai Punya Event Maid Cafe: Ini Cerita di Balik AniEvo ID
Para maid berfoto bersama dalam acara Bakka!! Maid Cafe Vol 2 oleh AniEvo ID. (instagram.com/cxiela)

Pernah nggak sih, rela antre dua sampai tiga jam di sebuah acara cosplay, terus pas giliran kamu tiba, ngobrolnya cuma kebagian lima menit? Nyesek, kan? Nah, keresahan receh tapi relatable inilah yang jadi salah satu alasan lahirnya event Maid Cafe dari AniEvo ID. Alih-alih bikin fans buru-buru dan antre panjang, mereka justru membalik logikanya: interaksi lebih lama, lebih hangat, dan menurut mereka jauh lebih sopan dari stigma yang selama ini menempel pada budaya wibu di Indonesia.

Bermula dari Warnet, Berubah Jadi Ekosistem

AniEvo ID tidak lahir dari rencana besar-besaran. Justru berawal dari tempat yang membawa kita bernostalgia ke era 2016: warnet. Ari, leader AniEvo ID, bercerita komunitas ini awalnya cuma kumpulan anak sekolah menengah pertama (SMP) penggemar game online yang iseng bikin komunitas seru-seruan. Baru pada 2019 mereka mulai serius, membangunnya jadi media kecil-kecilan sekaligus komunitas yang solid.

Dari sana, AniEvo ID tumbuh jauh melampaui akun info anime biasa. Selain nonton bareng (nobar) anime yang rutin jalan sejak 2019, mereka juga punya event karaoke, sampai akhirnya berani gebrak lebih jauh lewat Maid Cafe dan Butler Cafe.

Serunya, karaoke bareng ini ternyata bukan cuma soal have fun aja. "Di situ saya sering dapet staf baru," ujar Ari. Katanya, ada staf yang awalnya kelihatan pendiam banget karena kesehariannya jadi programmer, eh ternyata kerjanya sangat bisa diandalkan. Ada juga yang energinya meluap-luap dan jadi motor penggerak tiap event, tipe yang paling semangat angkat tangan duluan.

Satu hal yang ditekankan Ari dengan bangga: AniEvo ID bukan perusahaan, dan mereka pengen banget tetap begitu. "Kita benar-benar semua uang transparan. Nggak ada namanya perusahaan, nggak ada kayak uang yang dipakai untuk pribadi," tegasnya. Kalau ternyata talent yang mereka incar harganya lumayan tinggi, ya sudah, tinggal pakai kas bersama—bukan kantong pribadi siapa pun. "Kita selalu pake uang kas transparan. Semua orang bisa akses. Setiap staf bisa akses," lanjutnya. Tantangan terbesarnya justru bukan soal uang, tapi soal membangun kepercayaan antarstaf supaya sistem seterbuka ini bisa terus jalan.

Maid Cafe: Konsep Jepang, Rasa Indonesia

Ide Maid Cafe sendiri sudah lama mengendap di kepala tim AniEvo ID, terinspirasi dari berbagai event serupa yang lebih dulu ada. Tapi eksekusinya, menurut Brilianto yang akrab disapa Brilli, co-founder AniEvo ID, tidak semudah kelihatannya. Tim harus mendekati satu per satu maid dan cosplayer incaran mereka, kadang lewat manajer, kadang harus langsung japri si talent, bahkan rela datang ke event lain cuma demi menawarkan kolaborasi secara langsung.

Satu hal utama yang membedakan versi AniEvo ID dari aslinya di Jepang adalah soal batasan physical touch (sentuhan fisik). Di Jepang, sentuhan fisik antara maid dan pengunjung dianggap wajar. Tapi menurut Brilli, "Ada beberapa physical touch itu agak... ada beberapa boleh, ada beberapa engga boleh," dan itu sepenuhnya keputusan (consent) dari masing-masing talent. Prinsipnya, budaya asli itu disaring lagi lewat etika ala Indonesia—sekecil apa pun kontaknya, pengunjung tetap wajib izin dulu. "Jadi, konsepnya jauh lebih sopan, jauh lebih etikanya dapet gitu," jelasnya.

Bayar Lebih untuk Waktu yang Lebih Berharga

Soal harga tiket yang terkesan premium, Brilli punya jawaban yang jujur dan masuk akal. Ia membandingkan dengan event cosplay biasa: antre lama, interaksi sebentar. "Kalo dateng di Maid Cafe bisa interaksi selama 100 menit, kapan lagi?" tantangnya. Menurutnya, ini soal fair trade, bayar lebih demi waktu dan perhatian yang jauh lebih personal, ketimbang buru-buru di tengah antrean yang mengular.

Dari sisi pengunjung, Brilli bilang mayoritas berusia 18 sampai 35 tahun. Menariknya, sebagian dari mereka datang bukan cuma untuk seru-seruan, tapi juga diam-diam "latihan". "Gue bingung [kalau] dideketin cewek nih. Yaudah gue ikutin event-nya biar kalo misalkan ketemu cewek tuh gak kagok lagi lah," ceritanya, menirukan pengalaman sejumlah pengunjung. Buat sebagian wibu yang jarang bersosialisasi langsung, ngobrol santai dengan maid jadi semacam ruang aman buat belajar pede berinteraksi.

Melawan Stigma dengan Cara yang Menyenangkan

Di ujung obrolan, ketika ditanya harapannya untuk masyarakat Indonesia, Brilli menjawab dengan mantap: ia ingin publik sadar bahwa budaya Jepang itu "gak semuanya buruk". Ia menyinggung bagaimana sebagian cosplayer kerap kena cap negatif, padahal kalau ditelusuri lebih dalam, ada nilai dan keterampilan nyata di baliknya. Bahkan cara maid melayani tamu pun, menurutnya, mengajarkan kesopanan yang jauh lebih halus dari sekadar "kostum-kostuman". "Kak mau dituangin gak kak minumannya? Ini kan pesanannya kak," ucapnya, mencontohkan gaya pelayanan yang ramah tapi tetap santun ala maid AniEvo ID.

Dan mereka nggak mau berhenti di situ. Ke depan, AniEvo ID berencana merambah ke komunitas gamer lewat turnamen bareng, sekaligus mempercepat ritme event dari yang sekarang tiga sampai enam bulan sekali, jadi idealnya setiap dua bulan sekali. Semangatnya jelas: makin sering ketemu, makin seru komunitasnya.

Bagi AniEvo ID, Maid Cafe bukan sekadar ajang foto-foto atau ketemu idola sesaat. Maid Cafe menjadi cara asyik mereka membangun ekosistem komunitas wibu yang lebih sehat. Pelan-pelan dan dengan cara yang menyenangkan, mereka berupaya mengubah cara pandang orang awam terhadap budaya Jepang yang selama ini telanjur dicap negatif.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda