Ulasan
Membaca Panji Tengkorak Karya Seno Gumira Ajidarma: dari Komik ke Disertasi
Bagi saya, buku Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan bukanlah bacaan ringan, apalagi sekadar buku tentang komik. Lebih dari itu, ia adalah sebuah usaha serius untuk melihat bagaimana kebudayaan bekerja melalui komik Panji Tengkorak karya Hans Jaladara.
Sejujurnya, sebelum membaca buku ini, saya tidak terlalu mengenal Panji Tengkorak. Saya justru mengenalnya melalui buku kumpulan cerpen Seno Gumira Ajidarma, Senja dan Cinta yang Berdarah. Dari sana saya mengetahui sosok Panji, tokoh yang wajahnya selalu ditutupi topeng tengkorak.
Panji sebenarnya memiliki wajah yang tampan. Namun topeng itu seperti ingin mengingatkan kita bahwa di balik ketampanan, kecantikan, kekuasaan, dan berbagai identitas yang melekat pada manusia, pada akhirnya semua orang memiliki tengkorak sebagai rangka wajahnya.
Ketertarikan saya terhadap buku ini di iPusnas sebenarnya bukan karena saya penggemar komik. Justru sebaliknya. Saya tidak terlalu menyukai komik dan tidak banyak mengetahui istilah maupun struktur dalam dunia komik. Alasan pertama saya membaca buku ini malah karena saya menyukai tulisan Seno Gumira Ajidarma. Saya selalu kagum pada caranya mengolah bahasa. Cerpen, novel, esai, sampai karya akademiknya tetap memiliki daya tarik tersendiri.
Alasan lainnya lebih pragmatis, bahwa buku ini merupakan disertasi Seno Gumira Ajidarma. Sebagai pembaca yang juga tertarik pada dunia tulis-menulis, saya merasa perlu melihat bagaimana sebuah karya akademik yang panjang dan serius dibangun. Apalagi ketika saya mulai berhadapan dengan kebutuhan membaca karya ilmiah, tesis, hingga disertasi. Buku semacam ini bisa menjadi contoh bagaimana sebuah objek yang kelihatannya sederhana ternyata dapat dikaji begitu dalam.
Dan memang, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan bukan buku yang pendek. Buku ini cukup tebal dan pembahasannya cukup serius. Saya pun tidak membaca setiap bagiannya dengan tingkat ketelitian yang sama. Hahaha. Kalau alasan “bukunya terlalu tebal” saya sampaikan kepada dosen, mungkin saya akan mendapat tatapan yang cukup panjang sebelum kemudian disuruh membaca ulang dari halaman pertama.
Saya datang dengan ketertarikan terhadap Seno Gumira Ajidarma, tetapi pulang membawa pengetahuan baru tentang komik dan kebudayaan.
Seno menjadikan tiga versi Panji Tengkorak sebagai bahan kajian. Komik karya Hans Jaladara itu pertama kali terbit pada 1968, kemudian digubah kembali pada 1985, dan selanjutnya mengalami perubahan lagi pada 1996. Ketiganya kemudian dibandingkan sebagai “Tiga Panji Tengkorak”.
Perbandingan tersebut tidak berhenti pada jalan cerita, tokoh, gambar, atau dialog, tetapi masuk jauh ke bagaimana perubahan sebuah karya mencerminkan perubahan cara pandang masyarakat.
Menurut saya, ini bagian paling menarik dari buku tersebut. Seno menunjukkan bahwa komik ternyata bisa menjadi dokumen kebudayaan. Perubahan gambar, dialog, karakter, bahkan cara sebuah adegan ditampilkan ternyata dapat berbicara tentang zamannya.
Seno menulis bahwa tujuan kajian terhadap Tiga Panji Tengkorak adalah untuk “mencari tahu dan mengungkapkan bagaimana kebudayaan berlangsung.” Kalimat ini sederhana, tetapi menjadi pintu masuk menuju pembahasan yang sangat luas.
Kebudayaan dalam buku ini tidak dipandang sebagai sesuatu yang diam. Ia bergerak, berubah, diperdebatkan, dibentuk, sekaligus membentuk manusia. Oleh karena itu, ketika Panji Tengkorak mengalami penggubahan dari satu periode ke periode lainnya, yang berubah bukan hanya komiknya, melainkan juga cara masyarakat memandang realitas.
Seno kemudian membawa pembaca pada perbincangan tentang politik identitas, bias gender, objektivitas dan subjektivitas, hingga ideologi yang tersembunyi di balik representasi visual. Di sini saya mulai memahami bahwa gambar pun tidak pernah benar-benar netral.
Gambar realisme maupun gambar kartun, sebagaimana dibahas dalam kajian ini, dapat menjadi “konstruksi realitas”. Jadi, apa yang kita lihat sebagai sesuatu yang alamiah dalam sebuah gambar sebenarnya merupakan hasil pilihan, sudut pandang, dan konstruksi tertentu.
Saya kira inilah salah satu kekuatan buku ini. Seno tidak sekadar bertanya, “Apa yang diceritakan oleh Panji Tengkorak?”, tetapi melangkah lebih jauh, “Mengapa ia diceritakan dengan cara seperti itu?” dan “Apa yang bisa kita baca dari perubahan cara bercerita tersebut?”
Perbandingan ketiga versi komik dilakukan secara sangat rinci, bahkan sampai panel per panel. Seno menggunakan pemikiran Scott McCloud sebagai salah satu rujukan dalam membaca struktur komik. Bagi pembaca yang tidak akrab dengan teori komik, bagian ini mungkin terasa cukup berat.
Namun bagi saya, justru di sinilah buku ini memberikan pengalaman baru. Saya menjadi sadar bahwa komik mempunyai bahasa visual yang tidak kalah kompleks dibandingkan karya sastra.
Yang lebih menarik, buku ini tidak hanya membuat saya merasa seolah-olah memahami Panji Tengkorak, meskipun sebelumnya saya belum pernah membaca komik legendaris tersebut secara utuh. Pembahasan Seno yang begitu rinci membuat alur, karakter, dan perubahan ketiga versinya dapat diikuti dengan cukup jelas. Bahkan lampiran buku menghadirkan ketiga versi komik tersebut sehingga pembaca dapat melihat langsung objek yang sedang dibicarakan.
Dari situ saya merasa bahwa buku ini bukan hanya tentang Panji Tengkorak. Ia juga tentang cara membaca. Kita diajak untuk tidak berhenti pada apa yang tampak di permukaan. Sebuah komik bisa dibaca sebagai cerita, tetapi juga bisa dibaca sebagai produk zaman.
Sebuah gambar bisa menjadi hiburan, tetapi sekaligus menyimpan ideologi. Sebuah karakter bisa menjadi tokoh fiksi, tetapi juga dapat memperlihatkan bagaimana masyarakat memahami identitas, maskulinitas, perempuan, kekuasaan, bahkan tubuh manusia.
Terdapat satu gagasan yang menurut saya sangat penting dari buku ini, yaitu bahwa kebudayaan hadir sebagai sebuah proses perbincangan. Seno menyebutnya sebagai “metakebudayaan”, yakni “kebudayaan tentang kebudayaan”. Dengan kata lain, kebudayaan terus hadir melalui proses manusia membicarakan, menafsirkan, membentuk, dan membentuk ulang dirinya sendiri.
Saya kemudian teringat pada topeng tengkorak Panji. Topeng itu seolah menjadi simbol yang menarik untuk membaca keseluruhan buku. Wajah manusia bisa ditutup, identitas bisa berubah, dan representasi bisa dibentuk ulang. Tetapi di balik semua itu terdapat sesuatu yang lebih mendasar, yaitu jejak manusia dan kebudayaannya.
Seno menyebut Tiga Panji Tengkorak sebagai “jejak-jejak kebudayaan”. Saya menyukai gagasan ini karena membuat komik tersebut tidak lagi terlihat sebagai sekadar peninggalan budaya populer masa lalu. Ia menjadi semacam arsip yang memungkinkan kita membaca bagaimana masyarakat Indonesia berubah dari satu masa ke masa lainnya.
Bagi generasi muda sekarang, buku ini juga masih relevan. Kita hidup di tengah budaya visual yang jauh lebih besar dibandingkan masa ketika Panji Tengkorak pertama kali muncul. Instagram, TikTok, YouTube, meme, komik digital, animasi, game, dan berbagai bentuk konten visual setiap hari membentuk cara kita memahami dunia.
Maka dari itu, pelajaran terpenting dari buku ini menurut saya adalah kemampuan untuk tidak menelan begitu saja apa yang kita lihat. Anak muda perlu belajar bertanya, siapa yang membuat representasi itu, untuk kepentingan apa, nilai apa yang dibawa, dan realitas seperti apa yang sedang dibentuk?
Pendek kata, Panji Tengkorak: Kebudayaan dalam Perbincangan memang bukan buku yang mudah. Saya tidak akan mengatakan bahwa setiap halamannya ringan dan menyenangkan untuk dibaca. Terdapat bagian-bagian yang membutuhkan konsentrasi, terutama ketika pembahasannya masuk ke teori dan analisis komik. Tetapi justru karena itulah buku ini memberikan pengalaman membaca yang berbeda.
Identitas Buku
- Judul: Panji Tengkorak, Kebudayaan dalam Perbincangan
- Penulis: Seno Gumira Ajidarma
- Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
- Cetakan: I, Agustus 2011
- Tebal: 535 Halaman
- ISBN: 978-979-91-0366-6
- Genre: Sosial Budaya