Ulasan
20th Century Girl: Cinta Pertama yang Tidak Selalui Berakhir Bahagia
20th Century Girl, salah satu film Korea tahun 2022 yang membuat pemirsanya greget ingin mengubah alurnya hingga saat ini.
Film yang dibintangi Kim Yoo-jung dan Byeon Woo-seok ini memang pada dasarnya merupakan film romance dengan latar kehidupan remaja. Namun, menurut saya, 20th Century Girl bukan hanya bercerita tentang bagaimana seseorang menemukan cinta pertamanya.
Film ini juga berbicara tentang persahabatan, perpisahan, dan bagaimana sebuah kenangan bisa tetap hidup meskipun orang yang ada di dalamnya sudah tidak lagi bersama kita.
Berlatar tahun 1999, film ini memperkenalkan kita pada Na Bo-ra, seorang siswi SMA yang ceria, aktif, dan sangat menyayangi sahabatnya, Yeon-du. Ketika Yeon-du pergi ke Amerika Serikat untuk menjalani operasi jantung, Bo-ra berjanji akan membantu mencari tahu tentang laki-laki yang disukai sahabatnya, Baek Hyun-jin.
Masalahnya, Bo-ra justru semakin dekat dengan Poong Woon-ho, sahabat Hyun-jin. Dari sinilah kisah cinta pertama Bo-ra dimulai.
Sebenarnya, kalau dilihat dari premisnya saja, cerita seperti ini bukan sesuatu yang benar-benar baru. Dua sahabat, seorang laki-laki yang disukai, salah paham, cinta pertama, dan berbagai kejadian khas masa SMA. Bahkan beberapa bagian ceritanya mungkin bisa dengan mudah kita tebak.
Tapi justru di situlah menariknya 20th Century Girl.
Film ini tidak berusaha menjadi cerita yang terlalu rumit. Ia justru mengambil sesuatu yang sederhana dan membuatnya terasa dekat dengan pengalaman banyak orang, "bagaimana rasanya menyukai seseorang untuk pertama kalinya."
Apalagi latar tahun 1999 menjadi salah satu kekuatan film ini. Di saat belum ada smartphone, komunikasi dilakukan melalui pager, telepon umum, surat, email, bahkan sekadar menunggu seseorang muncul di tempat yang biasa ia datangi.
Sebagai penonton yang hidup di zaman ketika kita bisa mengetahui kabar seseorang hanya dengan membuka media sosial, melihat Bo-ra dan Woon-ho berkomunikasi dengan cara seperti itu terasa sederhana, tetapi justru romantis.
Ada sesuatu yang hilang dari hubungan manusia di zaman sekarang, kesempatan untuk menunggu.
Dulu, menunggu balasan pesan saja bisa membuat seseorang berdebar-debar. Menunggu telepon berbunyi bisa terasa seperti menunggu sesuatu yang sangat penting. Dan ketika akhirnya seseorang mengatakan bahwa ia menyukai kita, kebahagiaannya terasa jauh lebih besar karena kita benar-benar menunggu untuk mendengarnya.
Mungkin itu pula yang ingin diberikan film ini kepada penonton. Sebuah nostalgia terhadap masa ketika cinta tidak berlangsung secepat sekarang. Namun, bagian yang paling saya sukai dari 20th Century Girl justru bukan kisah cinta Bo-ra dan Woon-ho.
Melainkan persahabatan Bo-ra dan Yeon-du.
Bo-ra melakukan begitu banyak hal untuk sahabatnya. Ia mencari tahu tentang Hyun-jin, memperhatikan kebiasaannya, mencari informasi tentangnya, bahkan rela terlibat dalam berbagai situasi hanya demi membuat Yeon-du bahagia.
Di tengah cerita cinta yang perlahan tumbuh, film ini sebenarnya mengingatkan kita bahwa cinta tidak selalu berbentuk hubungan romantis. Ada juga cinta yang kita berikan kepada sahabat.
Cinta yang membuat kita rela repot. Cinta yang membuat kita ingin melihat orang lain bahagia meskipun kita sendiri harus mengorbankan sesuatu. Dan mungkin karena itulah ketika hubungan mereka sempat terganggu oleh kesalahpahaman, rasanya cukup menyakitkan.
Sebab kita tahu bahwa persahabatan pada usia remaja sering kali terasa seperti seluruh dunia kita.
Menonton Bo-ra juga membuat saya berpikir tentang bagaimana seseorang bisa begitu mudah mengingat cinta pertamanya. Bukan karena orang tersebut selalu menjadi cinta terbaik dalam hidup kita, tetapi karena ia hadir pada masa ketika hampir semuanya terasa untuk pertama kalinya.
Karena pada akhirnya, tidak semua kisah cinta harus berakhir dengan “mereka hidup bahagia selamanya”. Ada cinta yang memang hanya datang untuk mengajarkan sesuatu. Ada seseorang yang hadir untuk membuat kita mengenal perasaan tertentu.
Mungkin itulah alasan mengapa 20th Century Girl terasa begitu menyakitkan. Bukan karena kita tidak tahu bagaimana sebuah cerita cinta akan berakhir.
Tetapi karena kita pernah berada di posisi Bo-ra yang pernah mencintai seseorang dengan begitu tulus, pernah berharap terlalu banyak, dan pada akhirnya harus menerima bahwa beberapa hal memang hanya ditakdirkan menjadi kenangan.
Dan mungkin, bukankah sebagian besar cinta pertama memang seperti itu?
Tidak selalu menjadi milik kita. Tetapi hampir selalu menjadi bagian dari diri kita. Apa kamu juga relate dengan film Korea yang satu ini?