Ulasan

Review Pride and Prejudice: Fenomena Menilai Orang dari First Impression

Review Pride and Prejudice: Fenomena Menilai Orang dari First Impression
Ilustrasi Buku Pride and Prejudice (unsplash/rawkkim)

Pernah dengar pepatah "don't judge a book by its cover"? Di novel terkenal Jane AustenPride and Prejudice, pepatah ini terjadi pada Elizabeth Bennet dan Mr. Darcy. Baru bertemu sekali, melihat sikapnya sebentar, atau mendengar cerita tentangnya, sudah buru-buru membuat kesimpulan. Padahal, belum tentu orang tersebut benar-benar seperti yang dibayangkan.

Sejak pertama kali bertemu, Elizabeth menganggap Darcy sebagai pria yang sombong dan tidak menyenangkan. Darcy pun tidak memberikan kesan yang lebih baik karena sikapnya yang dingin dan terlihat angkuh. 

Kesan pertama tersebut kemudian memengaruhi cara Elizabeth melihat Darcy sepanjang cerita. Namun, semakin banyak hal yang ia ketahui, semakin ia menyadari bahwa penilaiannya selama ini tidak sepenuhnya benar.

First Impression Membuat Elizabeth Mudah Percaya dengan Penilaian Negatif

Sejak awal, Elizabeth tidak menyukai sikap Darcy yang terlihat dingin dan angkuh. Karenanya, ia jadi melihat segala sesuatu yang melekat padanya cenderung negatif. Sikap Darcy yang sebelumnya sudah membuatnya tidak nyaman seolah menjadi bukti bahwa penilaian awalnya memang benar.

Prasangka Elizabeth semakin kuat setelah ia mendengar cerita Wickham tentang Darcy. Wickham yang sudah mengenalnya sejak kecil mengatakan bahwa Darcy adalah orang yang sombong dan pendendam. Cerita tersebut membuat Elizabeth semakin yakin bahwa Darcy memang pria yang tidak menyenangkan seperti yang ia pikirkan sejak awal.

Prasangka Darcy untuk Elizabeth dan Keluarganya

Ternyata yang 'judge a book by its cover' bukan hanya Elizabeth saja. Saya juga menyadari kalau Darcy yang memiliki status sosial lebih tinggi, lowkey meremehkan keluarga Bennet. Ia melihat keluarga Bennet sebagai keluarga dengan status sosial yang lebih rendah dan menganggap beberapa anggota keluarganya kurang pantas berada di lingkungan yang sama dengannya.

Keduanya akhirnya sama-sama terjebak dalam prasangka masing-masing. Tapi, saya justru melihat sesuatu yang menarik di sini. Refleksi dari judul Pride and Prejudice benar-benar terlihat melalui sikap keduanya yang saling mempertahankan ego dengan mengedepankan prasangka satu sama lain.

Jangan Berharap Mengenal Seseorang Hanya dari Sekali Pertemuan

Seiring berjalannya cerita, saya melihat character development dari dua tokoh utama novel ini. Perlahan, Elizabeth mulai membuka diri setelah penilaiannya selama ini tentang Darcy tak speenuhnya benar. Begitu juga Darcy yang mulai menerima Elizabeth dan keluarganya dengan tidak memedulikan status sosial.

Kesan pertama memang bisa menjadi gambaran awal, tetapi belum tentu memberikan gambaran yang lengkap tentang seseorang. Sebab, semakin mengenal seseorang, bisa jadi semakin banyak hal yang ternyata berbeda dari apa yang pertama kali kita lihat.

Overall, saya menyukai bagaimana atmosfer dan karakter dalam novel ini berkembang secara perlahan. Seperti buku klasik pada umumnya, membaca buku ini cukup membutuhkan effort karena jalan ceritanya yang slow burn. Meski begitu, plot semakin menarik seiring meningkatnya konflik. Sangat worth-to-read untuk tahu ending-nya!

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda