Ulasan
Saat Jasad Menyimpan Rahasia dalam Film Autopsy: Dead Body Can Talk
Autopsy: Dead Body Can Talk merupakan film psychological thriller Indonesia yang membawa penonton masuk ke dunia kedokteran forensik. Film garapan Ozan Ruz ini terinspirasi dari perjalanan nyata Brigjen Pol. Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, dokter forensik Polri yang dikenal lewat pekerjaannya menangani berbagai kasus kematian tidak wajar. Masayu Anastasia dipercaya memerankan karakter Hastry.
Film ini resmi tayang di bioskop Indonesia pada 3 September 2026. Selain Masayu, film ini juga dibintangi Samuel Rizal, Teuku Rifnu Wikana, Ge Pamungkas, Riyuka Bunga, Indra Frimawan, Abdurrahman Arif, Zidni Hakim, Nagra Pakusadewo, dan Andrew Suleiman. Ceritanya memadukan investigasi forensik dengan ketegangan psikologis serta unsur supernatural.
Sinopsis Autopsy: Dead Body Can Talk
Hastry adalah seorang dokter forensik yang terbiasa mencari jawaban dari tubuh korban. Baginya, setiap luka, lebam, hingga perubahan pada tubuh jenazah bisa menjadi petunjuk untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Pekerjaan tersebut membuat Hastry berhadapan dengan berbagai kasus kematian yang tidak selalu mudah dijelaskan. Salah satunya berkaitan dengan jasad perempuan korban mutilasi tanpa identitas. Ada sejumlah kejanggalan yang membuat Hastry merasa laporan awal mengenai kasus tersebut belum mengungkap seluruh kebenaran.
Dalam proses pemeriksaan, Hastry tidak hanya mengandalkan ilmu dan bukti forensik. Dia juga mengalami firasat dan menemukan petunjuk yang sulit dijelaskan secara logika. Kemampuan tersebut justru membuat pekerjaannya semakin rumit karena Hastry harus menemukan batas antara apa yang bisa dibuktikan secara ilmiah dan apa yang hanya dirasakan olehnya.
Di tengah berbagai kasus yang ditanganinya, kehidupan pribadi Hastry juga ikut mendapat tekanan. Pekerjaannya membuat dia harus berhadapan dengan kematian hampir setiap hari, sementara kepekaan yang dimilikinya perlahan memengaruhi cara dia melihat kasus dan orang-orang di sekitarnya.
Ulasan Autopsy: Dead Body Can Talk
Salah satu hal yang membuat Autopsy: Dead Body Can Talk berbeda dari film horor kebanyakan adalah latar forensiknya. Cerita tidak langsung bergantung pada sosok hantu atau teror untuk membuat penonton penasaran. Tubuh korban justru menjadi titik awal untuk mencari tahu apa yang terjadi. Luka dan kondisi jenazah diperlakukan sebagai petunjuk, sehingga bagian investigasinya punya ruang yang cukup besar.
Suasana ruang autopsi juga membantu membangun ketegangan. Ruangan yang dingin dan sunyi, suara alat-alat pemeriksaan, serta tubuh korban yang perlahan diperiksa membuat beberapa adegan terasa tidak nyaman meskipun film tidak harus terus-menerus menampilkan jumpscare. Ada rasa penasaran setiap kali Hastry menemukan sesuatu yang berbeda dari dugaan awal.
Bagian forensiknya menjadi lebih enak diikuti karena Hastry tidak digambarkan seperti dokter yang hanya bekerja berdasarkan insting. Dia tetap berpegang pada bukti dan ilmu yang dimilikinya. Ketika muncul firasat atau pengalaman yang sulit dijelaskan, hal tersebut justru menjadi bagian lain dari perjalanan karakternya. Perpaduan antara sains dan hal-hal di luar logika inilah yang membuat film punya arah berbeda dari thriller kriminal biasa.
Masayu Anastasia juga tampil pas saat memerankan Hastry. Dia membawa karakter ini sebagai sosok yang tenang ketika bekerja, tetapi tetap memperlihatkan sisi manusiawinya saat berhadapan dengan kasus yang berat. Hastry bukan karakter yang dibuat selalu berani dan tidak takut. Ada beberapa momen ketika pekerjaannya mulai memengaruhi kehidupan pribadi dan keyakinannya.
Namun, menurutku film ini juga punya beberapa alur yang membuat ceritanya kurang mulus. Ada beberapa kasus yang muncul sepanjang cerita, sehingga fokusnya kadang terasa berpindah-pindah. Ketika satu kasus belum benar-benar selesai, film sudah membawa penonton menuju persoalan lain. Cara seperti ini membuat cerita jadi lebih ramai, tetapi beberapa adegan akhirnya kurang berkembang.
Unsur supernatural juga menjadi bagian yang agak sulit menyatu dengan cerita forensiknya. Di satu sisi, kehadiran firasat dan pengalaman aneh Hastry membuat film punya sisi horor. Namun, ketika unsur tersebut terlalu sering muncul, perhatian penonton bisa bergeser dari proses investigasi yang sebenarnya menjadi bagian yang lebih menarik dari ceritanya.
Beberapa adegan juga mencoba memasukkan humor di tengah cerita yang membahas kematian dan kasus serius. Ada bagian yang membuat suasana sedikit lebih ringan, tetapi tidak semuanya terasa menyatu dengan situasi. Film seperti masih mencari keseimbangan antara thriller investigasi, horor, dan komedi.
Terlepas dari itu, ide dasarnya tetap punya daya tarik. Jarang ada film Indonesia yang menjadikan pekerjaan dokter forensik sebagai bagian utama cerita. Dari sini, penonton bisa melihat bahwa mengungkap penyebab kematian bukan sekadar membedah tubuh, tetapi juga membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keberanian menghadapi berbagai kemungkinan.
Yang paling terasa dari film ini justru ketika Hastry harus berusaha memberikan jawaban untuk korban yang sudah tidak bisa berbicara. Tubuh mereka menjadi satu-satunya sumber informasi, sementara Hastry harus membaca setiap petunjuk dengan teliti. Hal seperti ini membuat profesi dokter forensik terasa lebih nyata, bukan sekadar menjadi latar cerita horor.
Buat yang suka film investigasi dengan latar forensik, Autopsy: Dead Body Can Talk punya konsep yang berbeda dari kebanyakan film Indonesia. Ceritanya memang masih memiliki beberapa bagian yang kurang rapi, terutama ketika berbagai unsur dan kasus mulai bercampur. Namun, sisi forensik dan penampilan Masayu Anastasia membuat film ini tetap punya sesuatu untuk ditonton.
Rating: 7,8/10.