Ulasan
Ulasan Upacara Kehidupan: Membongkar Batas Normal dalam Kehidupan
Bagaimana jika kematian tidak dianggap sebagai akhir, melainkan kesempatan untuk merayakan kehidupan sekaligus menciptakan kehidupan yang baru? Gagasan tersebut menjadi salah satu keanehan menarik yang ditawarkan Murata Sayaka melalui Upacara Kehidupan (Life Ceremony).
Buku ini merupakan kumpulan 12 cerita pendek dan novelet yang memperlihatkan ciri khas Murata dalam menghadirkan situasi ganjil, absurd, bahkan mengusik kenyamanan pembaca. Di balik dunia yang terasa tidak masuk akal, setiap cerita justru menyimpan pertanyaan serius mengenai cara manusia menentukan sesuatu sebagai benar, salah, wajar, atau menyimpang.
Dengan jumlah halaman sekitar 240 halaman, buku ini membawa pembaca menjelajahi beragam persoalan yang tidak biasa. Hubungan keluarga, perubahan peradaban, tubuh manusia, makanan, kematian, hingga relasi sosial menjadi bagian dari eksplorasi Murata. Alih-alih memberikan jawaban secara langsung, ia membiarkan pembaca berhadapan dengan situasi yang terasa asing sehingga tanpa sadar mulai membandingkannya dengan kehidupan sehari-hari.
Cerita utama Upacara Kehidupan berlatar di Maho, sebuah dunia alternatif pada masa depan yang sekilas terlihat seperti kehidupan normal. Namun, masyarakat di sana mempunyai kebiasaan yang sangat berbeda dalam memperlakukan orang yang telah meninggal. Karena jumlah manusia terus berkurang, jenazah tidak dimakamkan ataupun dibakar seperti tradisi yang umum dikenal. Tubuh mereka justru menjadi bagian dari sebuah jamuan khusus. Daging orang yang meninggal disantap oleh keluarga dan orang-orang terdekat sebagai bentuk penghormatan terhadap kehidupan yang telah berakhir.
Hal yang lebih mengejutkan, perjamuan tersebut bukan hanya berkaitan dengan kematian. Upacara itu juga menjadi ruang bagi orang-orang untuk mencari pasangan dan melakukan inseminasi demi menghasilkan keturunan. Kematian dan kelahiran dengan demikian ditempatkan dalam satu rangkaian perayaan yang sama.
Pandangan berbeda muncul melalui Nana dan tunangannya, Naoki. Bagi Nana, memanfaatkan tubuh orang yang telah meninggal bukan sesuatu yang hina. Ia justru menganggapnya sebagai bentuk penghargaan karena tidak membiarkan bagian tubuh manusia terbuang percuma. Naoki memiliki pendapat berlawanan dan menilai praktik tersebut sebagai tindakan yang tidak manusiawi.
Perselisihan mereka semakin serius ketika Naoki mengatakan bahwa dirinya tidak akan menikahi Nana apabila perempuan tersebut masih membeli atau menggunakan barang yang dibuat dari tubuh manusia. Konflik ini kemudian membuka pertanyaan yang lebih luas, seperti mengapa manusia dapat menerima suatu tindakan sebagai normal, tetapi mengecam tindakan lain yang sebenarnya memiliki persoalan etis serupa?
Cerita-cerita lain dalam buku ini juga mempertahankan keganjilan tersebut. Beberapa kisah memperkenalkan benda sehari-hari dan pakaian yang menggunakan bagian tubuh manusia, seperti rambut dan organ, sebagai bahan pembuatannya. Sementara itu, A Magnificent Spread dan Eating the City menghadirkan gagasan tidak lazim mengenai makanan, pola makan sehat, serta hubungan manusia dengan lingkungan di sekitarnya.
Sama seperti ketika membaca karya penulis Jepang lainnya, buku Murata membuat saya memperhatikan berbagai hal dalam kehidupan dengan lebih teliti. Banyak gagasan yang sebelumnya tidak pernah saya pertanyakan tiba-tiba terasa layak untuk direnungkan. Saya terutama tertarik pada kritik terhadap konsep “normalitas”. Buku ini menunjukkan bahwa sesuatu yang disebut normal sebenarnya dibentuk oleh kesepakatan sosial. Apa yang dianggap tabu di satu tempat belum tentu memiliki makna yang sama di tempat lain.
Selain itu, Murata memperlihatkan bahwa cinta pun tidak mempunyai satu bentuk yang wajib diikuti semua orang. Kebahagiaan dalam hubungan tidak harus selalu sesuai dengan gambaran romantis yang sering ditampilkan masyarakat. Ada pula kritik terhadap tuntutan untuk menjadi sempurna, termasuk ketika seseorang harus mengenakan persona tertentu demi memenuhi ekspektasi dalam sebuah pernikahan.
Pada akhirnya, Upacara Kehidupan mengajarkan saya bahwa menjadi berbeda bukan alasan untuk terus memaksakan diri agar diterima oleh lingkungan. Kehidupan tidak semestinya hanya mengikuti pola lahir, sekolah, bekerja, menikah, lalu meninggal. Yang lebih penting adalah memiliki keberanian untuk menentukan pilihan sendiri dan memahami alasan di balik setiap keputusan. Murata Sayaka berhasil menjadikan absurditas sebagai cara untuk mengajak pembaca melihat kembali kehidupan dari sudut yang sama sekali berbeda.
Identitas Buku
Judul: Upacara Kehidupan
Penulis: Murata Sayaka
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020678672