Ulasan
Ali & Ratu Ratu Queens: Ketika Keluarga Tak Selalu Berarti Hubungan Darah
Film Ali & Ratu Ratu Queens menawarkan kisah perjalanan yang hangat tentang kehilangan, pencarian jati diri, impian, dan arti keluarga. Disutradarai Lucky Kuswandi dengan skenario Gina S. Noer dan diproduksi Palari Films, film ini memadukan drama dan komedi secara ringan. Ceritanya bergerak antara Jakarta dan Queens, New York, dengan jajaran pemain seperti Iqbaal Ramadhan, Nirina Zubir, Asri Welas, Tika Panggabean, dan Happy Salma. Film ini juga dapat disaksikan melalui Netflix.
Perjalanan Ali Mencari Sang Ibu

Tokoh utama film ini adalah Ali (Iqbaal Ramadhan), remaja Jakarta yang menyimpan kerinduan terhadap ibunya, Mia (Marissa Anita). Sejak kecil, ia tumbuh bersama ayahnya karena sang ibu memilih pergi ke Amerika untuk mengejar cita-cita sebagai penyanyi. Ketika ayah Ali meninggal dan rencana kuliahnya harus tertunda, ia mengambil keputusan besar, yakni terbang seorang diri menuju New York.
Ali datang dengan harapan dapat menemukan kembali sosok ibu yang selama ini hanya dikenalnya melalui kenangan, foto lama, dan surat-surat. Namun, kenyataan yang ia jumpai di Queens ternyata jauh lebih rumit daripada bayangannya.
Pencarian Ali justru mempertemukannya dengan empat perempuan Indonesia yang tinggal di Queens. Party (Nirina Zubir) memiliki sifat hangat dan keibuan, sementara Biyah (Asri Welas) tampil sebagai sosok jenaka yang menjalani berbagai pekerjaan. Ada pula Ance (Tika Panggabean), seorang ibu tunggal yang keras di luar tetapi sangat melindungi orang-orang terdekatnya. Chinta (Happy Salma) merupakan perempuan yang datang ke Amerika demi urusan asmara, tetapi akhirnya membangun kehidupan sebagai tukang pijat.
Mereka menyebut kelompoknya sebagai “Ratu-Ratu Queens”. Ali kemudian mendapatkan bantuan dari keempat perempuan tersebut untuk beradaptasi dengan kehidupan perantauan sekaligus melanjutkan pencariannya. Kehadiran mereka perlahan membuat perjalanan Ali bukan hanya tentang menemukan ibu, tetapi juga menemukan tempat untuk merasa diterima.
Di tengah proses tersebut, Ali semakin dekat dengan Eva (Aurora Ribero), putri Ance. Sosok Eva yang ceria membuat Ali mengenal sisi lain kehidupan di New York sekaligus menghadirkan pengalaman emosional baru baginya.
Namun, momen yang paling menentukan datang ketika Ali akhirnya berhadapan dengan Mia. Pertemuan tersebut tidak sepenuhnya menghadirkan kebahagiaan seperti yang selama ini ia bayangkan. Ali harus menerima bahwa ibunya telah menjalani kehidupan sendiri dan memiliki alasan, pilihan, serta luka yang mungkin tidak pernah ia pahami sebelumnya.
Dari sini, film mengajak penonton melihat bahwa seseorang tidak selalu dapat dinilai hanya dari keputusan yang tampak di permukaan. Mia bukan sekadar “ibu yang pergi”, melainkan manusia yang juga mempunyai keinginan, keterbatasan, dan keputusan sulit dalam hidupnya.
Chemistry yang Membuat Cerita Lebih Hidup

Saya termasuk jarang menyaksikan film Indonesia, tetapi Ali & Ratu Ratu Queens menjadi tontonan yang cukup menyenangkan untuk mengisi waktu luang. Salah satu hal yang paling saya nikmati adalah kesempatan melihat gambaran kehidupan diaspora Indonesia di New York. Film ini menghadirkan suasana Queens dengan cukup menarik, mulai dari lingkungan tempat tinggal hingga berbagai pemandangan kota yang menjadi latar perjalanan Ali.
Percakapan antartokohnya juga terasa cair dan tidak terlalu kaku. Unsur komedinya muncul secara alami dari karakter masing-masing, terutama Biyah yang diperankan Asri Welas. Kehadirannya membuat sejumlah adegan terasa lebih ringan dan menghibur. Selain itu, hubungan antarkarakter terasa memiliki chemistry yang kuat sehingga perkembangan setiap tokoh menjadi lebih mudah diikuti.
Hal paling berkesan bagi saya adalah gagasan mengenai keluarga. Film ini menunjukkan bahwa keluarga tidak selalu terbentuk karena pertalian darah. Ali memang datang ke New York untuk menemukan ibunya, tetapi dalam prosesnya ia justru memperoleh orang-orang yang benar-benar hadir ketika dirinya membutuhkan dukungan.
Para “Ratu” menjadi gambaran bahwa rumah bisa berupa orang-orang yang membuat kita merasa aman, diterima, dan tidak sendirian. Film ini juga mengingatkan bahwa dukungan sangat berarti ketika seseorang sedang berusaha mengejar sesuatu yang dianggap penting dalam hidupnya.
Ali & Ratu Ratu Queens juga menyampaikan pesan agar seseorang berani mengambil langkah pertama menuju impiannya meskipun masa depan belum jelas. Kegagalan tidak selalu berarti akhir, sebab pengalaman tersebut dapat menjadi bagian dari proses untuk tumbuh lebih kuat.
Selain itu, film ini mengajak penonton untuk tidak terburu-buru memberikan cap buruk kepada orang lain. Setiap manusia membawa cerita dan persoalannya masing-masing. Memahami seseorang lebih jauh sering kali membuat kita menyadari bahwa kenyataan tidak sesederhana penilaian awal.
Pada akhirnya, kebahagiaan pun tidak harus mengikuti ukuran yang dibuat orang lain. Menangis, merasa kecewa, atau menunjukkan sisi rapuh bukan berarti seseorang lemah. Justru keberanian menerima perasaan tersebut dapat menjadi bagian dari perjalanan memahami diri sendiri.
Secara keseluruhan, Ali & Ratu Ratu Queens merupakan film yang ringan, menghibur, tetapi tetap memiliki pesan emosional mengenai keluarga, impian, penerimaan, dan kehidupan perantauan. Bagi saya, film ini layak mendapatkan 7,5/10.