Ulasan
Petualangan ke Dunia Tanpa Titik Akhir di Buku Princess, Bajak Laut & Alien
Bagaimana jika kehilangan membuat seseorang terjebak di dunia tanpa titik akhir? Bagaimana jika rasa asing terhadap dunia membuat seseorang merasa seperti alien? Dan bagaimana jika nasib buruk justru membawa seseorang pada pertanyaan paling besar dalam hidup: untuk apa kita dilahirkan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat buku ini menarik. Berjudul Princess, Bajak Laut & Alien, novel karya Clara Ng dan Icha Rahmanti ini bergenre fantasi anak. Pertama kali diterbitkan oleh PlotPoint pada November 2013 dan diterbitkan ulang oleh Gramedia Pustaka Utama pada Juni 2024. Dengan tebal sekitar 362 halaman novel ini menyajikan tiga cerita yang pada awalnya tampak berdiri sendiri, tetapi perlahan memperlihatkan benang merahnya.
Isi Buku
Cerita pertama berpusat pada Mikal. Setelah kehilangan ayahnya secara tragis, Mikal hidup dengan kesedihan dan pertanyaan yang tidak kunjung terjawab. Mengapa ayahnya harus pergi secepat itu? Pertanyaan tersebut kemudian membawanya terperangkap di Son Noktah, sebuah dunia tanpa titik akhir.
Di sana Mikal bertemu Princess, seorang gadis ceria yang memiliki mata bolong sebelah. Kondisinya mungkin terlihat mengerikan, tetapi Princess justru digambarkan optimistis dan penuh keceriaan. Pertemuan keduanya menjadi pintu masuk pembaca untuk mengenal dunia Son Noktah sekaligus berbagai keanehan yang ada di dalamnya.
Bagian kedua membawa kita kepada Agung atau Buto, karakter yang menurut saya paling menarik. Agung hidup dengan kekurangan fisik, kemalangan, dan nasib buruk yang seolah tidak pernah berhenti mengejarnya. Kondisi tersebut membuatnya mempertanyakan keberadaannya sendiri. “Kalau Tuhan benci sekali padaku, buat apa aku lahir?” menjadi gambaran betapa dalam pergulatan batin yang dialaminya.
Pencariannya mempertemukan Agung dengan sosok Bajak Laut dan kesempatan untuk menjadi seorang penguasa. Dibandingkan karakter lain, Agung terasa paling utuh. Kehidupannya diperlihatkan dalam berbagai kondisi, lengkap dengan tindakan, konsekuensi, serta reaksi terhadap keadaan yang dihadapinya.
Hal yang paling saya sukai dari Agung adalah sisi moral abu-abunya. Ia bukan karakter yang selalu mengambil keputusan benar. Ada beberapa tindakannya yang bahkan bisa dianggap sudah melewati batas. Namun, penulis mampu menggambarkannya secara simpatik sehingga pembaca tetap dapat memahami alasan di balik tindakannya. Untuk cerita yang ditujukan kepada pembaca anak, karakter dengan wilayah moral yang tidak hitam-putih seperti ini terasa cukup menarik.
Sementara itu, bagian ketiga memperkenalkan Troy. Sejak kecil Troy merasa asing terhadap lingkungan di sekitarnya, seperti seorang Alien yang tidak pernah benar-benar menemukan tempat untuk pulang. Ketika akhirnya ia menemukan cinta dan dukungan dari seseorang yang membuat hidupnya terasa lebih hangat, tragedi kembali merenggut kebahagiaan tersebut.
Kehilangan itu membuat Troy kembali terasing. Sayangnya, penyelesaian persoalan keterasingan Troy menurut saya terasa terlalu sederhana. Padahal, konflik psikologis yang dibangun sebenarnya memiliki potensi untuk digali lebih dalam.
Ketiga kisah tersebut kemudian terhubung melalui Son Noktah. Kehilangan Mikal dan Troy, miniatur bajak laut yang diperoleh Buto, serta kaleidoskop milik Buto ternyata menyimpan kaitan penting. Ada pula Kato, sosok penghisap kehidupan yang hanya dapat dikalahkan oleh kebahagiaan.
Menariknya, novel ini menggunakan sudut pandang yang berbeda untuk setiap bagian: Mikal, Buto, dan Troy. Strategi tersebut membuat informasi cerita diberikan sedikit demi sedikit. Potongan dari satu bagian kemudian membantu menjelaskan kejadian yang sebelumnya muncul di bagian lain. Hasilnya seperti menyusun kepingan puzzle untuk mendapatkan gambaran cerita yang lebih utuh.
Kelebihan dan Kekurangan
Saya juga menyukai cara Clara Ng dan Icha Rahmanti menggabungkan nuansa budaya Indonesia dengan atmosfer gothic yang terasa cukup Barat. Perpaduan tersebut memberikan identitas tersendiri bagi dunia fantasinya. Meski demikian, masih ada bagian worldbuilding yang menurut saya bisa dikembangkan lebih jauh agar dunia yang dibangun terasa semakin solid.
Dari ketiga bagian, kisah Mikal dan Princess justru menjadi bagian yang paling kurang menarik bagi saya. Princess terasa terlalu “cute” dan sempurna, sementara karakterisasi Mikal cukup terbatas sebagai anak yang sedih karena kehilangan orang tua dan kemudian tersesat. Dibandingkan Agung dan Troy yang memiliki persoalan personal lebih kompleks, keduanya terasa kurang memiliki rentang karakter yang luas.
Sebaliknya, kisah Troy terasa seperti sisi lain dari cerita Princess. Bagian ini melengkapi sejumlah informasi yang sebelumnya hanya disinggung, termasuk asal-usul Pohon Neden dan Princess serta kejadian ketika mereka pergi ke tempat Kato. Karena berfungsi sebagai pelengkap, bagian ini terasa tidak sekuat cerita Agung.
Namun, justru struktur tiga kisah inilah yang membuat Princess, Bajak Laut & Alien menarik. Pembaca tidak langsung diberikan seluruh jawaban. Setiap cerita membawa perspektif, pengalaman, dan potongan informasi berbeda yang akhirnya bertemu dalam satu konflik.
Dari segi kemasan, buku ini juga punya kejutan tersendiri. Sampulnya menggunakan kertas yang cukup tebal dan dapat dibentangkan menjadi permainan seperti ular tangga, lengkap dengan pion empat karakter dari cerita. Detail semacam ini membuat buku terasa tidak hanya menarik untuk dibaca, tetapi juga menyenangkan untuk dimainkan.
Princess, Bajak Laut & Alien adalah fantasi tentang kehilangan yang dibungkus dengan dunia ajaib, karakter unik, dan misteri yang saling berkelindan. Di balik Princess, Bajak Laut, Alien, Son Noktah, dan Kato, terdapat pertanyaan sederhana tetapi berat: bagaimana seseorang tetap menemukan kebahagiaan setelah kehilangan sesuatu yang sangat dicintainya?
Mungkin jawabannya tidak selalu membutuhkan bukti. Seperti salah satu kutipan dalam buku ini, kadang-kadang kepercayaan memang buta. Kalau percaya, ya percaya saja.
Identitas Buku
- Judul: Princess, Bajak Laut & Alien
- Penulis: Clara Ng dan Icha Rahmanti
- Penerbit: PlotPoint
- Tahun Terbit: November 2013
- Tebal: 362 halaman
- ISBN: 978-602-9481-52-5