Ulasan

Perjalanan ke Pantai Sidomuncul 2: Menikmati Laut, Menguatkan Kebersamaan

Perjalanan ke Pantai Sidomuncul 2: Menikmati Laut, Menguatkan Kebersamaan
Pantai Sidomuncul 2 Pasir Putih Situbondo (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Perjalanan kami kali ini bukan sekadar memindahkan tubuh dari satu tempat ke tempat lain. Namun, merupakan perjalanan yang diam-diam memindahkan banyak hal di dalam hati. Penat menjadi lega, kesibukan menjadi keakraban, dan rekan kerja menjadi keluarga dalam sebuah kenangan.

Bagi saya, perjalanan bersama rombongan dewan guru MTs Nurul Qarnain ke Pantai Sidomuncul 2, Pasir Putih, Situbondo ini, menjadi perjalanan yang kian memupuk keakraban dan kehangatan. Bukan hanya karena lautnya indah, tetapi juga karena perjalanan ini mempertemukan tugas madrasah, kebersamaan, permainan seru, dan percakapan hangat dalam satu rangkaian cerita.

Perjalanan tersebut berlangsung pada Sabtu, 5 September 2026. Kami berangkat setelah menunaikan tugas di madrasah, sekitar pukul 11.00 WIB, dengan mengendarai mobil pribadi. Rombongan terdiri atas empat mobil, masing-masing berisi lima hingga enam dewan guru.

Dua hari sebelum pemberangkatan, Kepala Madrasah sempat berpesan, “Jangan terlalu penuh, soalnya perjalanan jauh, juga banyak barang yang perlu dibawa.”

Pesan sederhana itu ternyata benar-benar terasa manfaatnya. Perjalanan jauh membutuhkan kenyamanan, apalagi kami membawa perlengkapan pribadi dan berbagai kebutuhan kegiatan.

Dari madrasah, perjalanan berlanjut melewati jalur Bondowoso. Kami kemudian berhenti untuk menunaikan salat Zuhur di Masjid At-Taqwa, yang terletak di dekat Pasar Wringin, kawasan Arak-Arak, Bondowoso. Setelah beribadah dan beristirahat sejenak, perjalanan kami lanjutkan menuju Situbondo.

Tiba di Sidomuncul 2, Angin Pantai Menyambut

Pemandangan di halaman Hotel Sidomuncul 2 (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Pemandangan di halaman Hotel Sidomuncul 2 (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Sekitar pukul 13.30 WIB, kami tiba di Pantai Sidomuncul 2, yang berada di kawasan Pasir Putih, Kecamatan Bungatan, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Begitu turun dari mobil, angin pantai langsung menyambut. Embusannya sepoi, membawa aroma laut yang khas. Setelah berjam-jam berada di perjalanan, suasana itu terasa seperti ucapan selamat datang yang menenangkan.

Kami pun segera memesan enam kamar. Dua kamar diperuntukkan bagi guru putri, sedangkan empat kamar lainnya untuk guru putra. Setelah meletakkan barang-barang bawaan dan menata perlengkapan, kami tidak ingin berlama-lama di kamar. Pantai sudah memanggil.

Sore itu, kami mandi dan bermain air di pantai. Ada yang menikmati deburan ombak, ada yang bercanda bersama, dan ada pula yang sekadar berdiri memandang laut. Keseruan semacam ini memang sulit ditemukan dalam rutinitas madrasah yang padat.

Usai mandi, kami kembali ke kamar untuk membilas tubuh dengan air bersih dan berganti pakaian. Setelah itu, kami berjalan menuju dermaga Pantai Sidomuncul 2 untuk berfoto bersama.

Di dermaga, suasana semakin akrab. Kami berdiri berjejer, tersenyum, dan mengabadikan momen yang mungkin kelak akan menjadi bahan cerita saat kembali berkumpul di madrasah. Saya pun berfoto bersama sebagian dewan guru.

Tidak hanya itu, saya juga berkesempatan mengabadikan momen bersama istri dan anak dengan latar matahari terbenam. Rasanya menyenangkan bisa menikmati perjalanan bersama rekan-rekan kerja, sekaligus berbagi keindahan pantai dengan keluarga.

Sunset yang Mengajarkan Kita untuk Menikmati Waktu

Foto bersama keluarga dengan latar sunset di dermaga Pantai Sidomuncul 2 (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Foto bersama keluarga dengan latar sunset di dermaga Pantai Sidomuncul 2 (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Menjelang petang, langit Pantai Sidomuncul 2 berubah perlahan. Matahari mulai condong ke ufuk barat. Cahaya keemasan memantul di permukaan laut, sementara langit dihiasi warna jingga yang lembut.

Sunset di pantai memang selalu memiliki cara sendiri untuk membuat orang berhenti sejenak. Di tengah kesibukan, kita sering lupa bahwa keindahan tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang, ia hadir ketika kita bersedia duduk, memandang, dan menikmati waktu.

Saya kembali mengambil beberapa foto. Bersama sebagian dewan guru, kami mengabadikan suasana senja. Bersama istri dan anak, saya juga berfoto dengan latar matahari yang perlahan tenggelam. Momen itu sederhana, tetapi justru kesederhanaannya yang membuatnya terasa berharga.

Sarasehan: Menyatukan Hati, Menyatukan Visi

Sarasehan Menyatukan Hati, Menyatukan Visi MTs Nurul Qarnain (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Sarasehan Menyatukan Hati, Menyatukan Visi MTs Nurul Qarnain (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Malam harinya, kegiatan kami tidak berhenti pada rekreasi. Kami melanjutkan agenda utama berupa Sarasehan dengan tema “Menyatukan Hati, Menyatukan Visi”.

Sarasehan tersebut berisi pemaparan program dan arah kebijakan madrasah untuk tiga tahun ke depan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menyamakan persepsi, menyampaikan gagasan, serta memperkuat komitmen bersama dalam menjalankan amanah pendidikan.

Acara dimoderatori oleh Waka Humas, M. Hamdani Sahulika, S.Pd., M.Pd. Kepala MTs Nurul Qarnain, Kholilullah, S.H.I., memberikan sambutan sekaligus motivasi kepada para guru.

Bertindak sebagai narasumber adalah Waka Kurikulum, Moh. Habibi, S.Pd.I., dan saya sendiri, Fathorrozi, S.Pd.I., M.Pd., selaku Waka Kesiswaan.

Sarasehan berlangsung di Ruang Aula Sidomuncul 2 dan selesai sekitar pukul 22.00 WIB. Alhamdulillah, kegiatan berjalan lancar. Setelah acara resmi berakhir, diskusi hangat masih berlanjut. Beberapa guru berbagi pandangan, menanggapi program, dan membicarakan langkah-langkah yang perlu dilakukan bersama.

Bagi saya, inilah salah satu makna penting perjalanan tersebut. Kami tidak hanya berkumpul untuk bersenang-senang, tetapi juga membawa pulang semangat baru untuk madrasah.

Bakar Ikan, Konten Kebersamaan, dan Mancing hingga Larut

Memancing ikan hingga larut malam di dermaga Sidomuncul 2 (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Memancing ikan hingga larut malam di dermaga Sidomuncul 2 (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Usai sarasehan, kami kembali ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan acara bakar-bakar ikan di pinggir pantai.

Suasana malam terasa lebih santai. Ikan dibakar, aroma asap menguar, dan percakapan mengalir tanpa sekat. Kami kemudian makan bersama. Di sela-sela itu, kami juga membuat konten kebersamaan sebagai dokumentasi perjalanan.

Malam belum benar-benar berakhir. Sebagian rombongan melanjutkan kegiatan mancing di dermaga hingga larut malam. Di bawah langit malam dan suara ombak yang datang silih berganti, kegiatan sederhana itu justru terasa istimewa.

Tidak harus mendapatkan ikan besar untuk merasa bahagia. Kadang, kebahagiaan hadir dari kebersamaan, candaan, dan kesempatan menikmati malam tanpa terburu-buru.

Pagi yang Ceria: Senam dan Permainan Kekompakan

Pagi harinya, setelah salat Subuh, kami mengadakan senam pagi. Tubuh yang semalam lelah kembali digerakkan. Setelah itu, suasana semakin meriah dengan berbagai permainan seru-seruan.

Dua permainan yang paling menarik perhatian adalah pukul air dengan mata tertutup dan memasukkan paku ke dalam botol.

Dalam permainan pukul air, peserta harus memukul air dengan mata tertutup. Tentu saja, gerakan yang meleset sering mengundang tawa. Sementara itu, permainan memasukkan paku ke dalam botol dilakukan secara berkelompok, dengan tiga dewan guru dalam setiap kelompok.

M. Hamdani Sahulika menjelaskan, “Pukul air ini tujuannya untuk melatih konsentrasi dan fokus, sementara memasukkan paku ke dalam botol yang terdiri tiga dewan guru dalam setiap kelompok mengandung tujuan untuk menguji kekompakan dan kebersamaan.”

Penjelasan itu membuat kami menyadari bahwa permainan bukan sekadar hiburan. Di balik tawa dan keseruan, ada nilai konsentrasi, kerja sama, komunikasi, dan kekompakan yang bisa dibawa kembali ke lingkungan kerja.

Dua Jam di Laut dan Keindahan Karang

Setelah permainan, kami kembali mandi di pantai selama kurang lebih dua jam. Air laut yang menyegarkan membuat suasana pagi semakin menyenangkan.

Kami juga berkesempatan naik perahu bersama. Dari atas perahu, pemandangan laut tampak lebih luas. Airnya biru memesona, sementara angin laut menyentuh wajah dengan lembut.

Di tengah perjalanan, kami sempat melihat batu karang yang indah di tengah laut. Bentuknya menjadi pemandangan tersendiri, seolah mengingatkan bahwa laut tidak hanya menyimpan ombak, tetapi juga keindahan yang patut dijaga.

Setelah turun dari perahu, kami kembali membilas tubuh di kamar mandi hotel. Kemudian, kami mulai berkemas untuk persiapan pulang.

Oleh-Oleh dan Obrolan Hangat dalam Perjalanan Pulang

Sekitar pukul 13.00 WIB, kami keluar dari Hotel Sidomuncul 2 dan memulai perjalanan pulang. Sebelum benar-benar meninggalkan kawasan Pasir Putih, kami tidak lupa membeli oleh-oleh untuk keluarga, berupa ikan asin, terasi, dan berbagai oleh-oleh lainnya.

Dalam perjalanan pulang, obrolan hangat terus mengalir di dalam mobil. Kami membicarakan banyak hal, terutama pengalaman selama kegiatan. Permainan pukul air dan memasukkan paku ke dalam botol menjadi bahan cerita yang paling sering diulang. Ada yang menertawakan tingkah teman, ada yang mengenang momen paling lucu, dan ada pula yang membicarakan strategi agar kelompoknya bisa menang.

Tawa di dalam mobil terasa seperti perpanjangan dari kebersamaan yang telah terbangun di pantai. Perjalanan pulang pun tidak terasa terlalu melelahkan karena diisi cerita-cerita ringan.

Saat melewati kawasan Arak-Arak, Bondowoso, kami mendapat pemandangan menarik. Se-gerombolan monyet tampak menyeberang jalan. Sebagian duduk di pinggir jalan, sementara yang lain bergelantungan di atas pohon. Tingkah mereka seolah-olah menyapa rombongan kami yang sedang melintas.

Pemandangan itu sontak menjadi bahan obrolan. Kami memperlambat kendaraan dengan tetap memperhatikan keselamatan, lalu menikmati momen singkat tersebut. Alam memang sering menghadirkan kejutan kecil yang membuat perjalanan semakin berkesan.

Berhenti di Warung Bakso Urat PTP Sukowono Jember

Warung Bakso Urat PTP Sukowono Jember (Dok. Pribadi/Fathorrozi)
Warung Bakso Urat PTP Sukowono Jember (Dok. Pribadi/Fathorrozi)

Setelah perjalanan cukup jauh, perut kami mulai terasa lapar. Akhirnya, rombongan memutuskan berhenti di Warung Bakso Urat di PTP Sukowono, Jember.

Semangkuk bakso urat dan dua lontong menjadi penutup yang pas untuk perjalanan panjang. Kuah hangat, aroma bumbu, dan suasana makan bersama membuat tubuh terasa kembali berenergi.

Di tempat itu, kami kembali bercakap-cakap tentang perjalanan. Ada yang membicarakan pantai, ada yang mengenang sunset, dan ada pula yang masih tertawa mengingat permainan pagi tadi.

Setelah makan dan beristirahat, kami melanjutkan perjalanan menuju rumah masing-masing. Perjalanan yang dimulai dari madrasah, melewati Bondowoso, menikmati laut di Situbondo, lalu kembali melalui jalur yang sama, akhirnya menjadi sebuah kenangan yang sulit dilupakan.

Perjalanan ke Pantai Sidomuncul 2 mengajarkan saya bahwa kebersamaan tidak selalu lahir dari ruang rapat atau agenda resmi. Ia juga bisa tumbuh dari perjalanan panjang, makan bersama, permainan sederhana, dan percakapan yang tidak dibuat-buat.

Kami berangkat sebagai rombongan dewan guru MTs Nurul Qarnain. Namun, selama perjalanan, kami menemukan ruang untuk saling mengenal lebih dekat, saling menguatkan, dan menyatukan langkah.

Laut telah kami tinggalkan, sunset telah berlalu, dan suara ombak kini hanya tersimpan dalam ingatan. Tetapi, semangat “Menyatukan Hati, Menyatukan Visi” semoga tetap hidup dalam setiap tugas yang kami jalankan.

Oh ya, bagi wisatawan yang ingin menginap setelah menikmati wisata Pasir Putih Situbondo, kawasan ini memang menyediakan sejumlah pilihan akomodasi. Salah satunya adalah Hotel Sidomuncul 2, yang lokasinya sangat dekat dengan pantai, sekitar satu kilometer. Hotel ini menawarkan berbagai pilihan kamar, menyediakan Wi-Fi gratis di setiap kamar, serta area parkir bagi para tamu. Kedekatannya dengan pantai juga memungkinkan tamu menikmati suasana laut dari kawasan penginapan.

Selain itu, ada pula Rosali Hotel, yang berjarak sekitar 18,2 kilometer dari Pantai Pasir Putih. Penginapan ini menawarkan berbagai tipe dan ukuran kamar yang cukup luas. Fasilitas yang tersedia antara lain TV kabel, Wi-Fi, aula pertemuan, dan restoran dengan beragam menu Nusantara.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda