Ulasan
Belajar Menerima Cinta Lewat Lagu Ketika Cinta Bertasbih Melly Goeslaw
Ketika Cinta Bertasbih merupakan lagu yang dibawakan Melly Goeslaw bersama Amee. Lagu ini menjadi salah satu soundtrack film Ketika Cinta Bertasbih yang diadaptasi dari novel karya Habiburrahman El Shirazy.
Lagu ini mengangkat cerita tentang seseorang yang sedang merasakan cinta, tetapi tetap menempatkan Tuhan dalam perjalanan perasaannya. Ada rasa bahagia, doa, kegelisahan, sampai sikap menerima ketika sesuatu tidak bisa dipaksakan. Karena itu, cinta dalam lagu ini bukan hanya soal hubungan dengan seseorang, tetapi juga tentang bagaimana seseorang menyikapi perasaan yang muncul dalam dirinya.
“Bertuturlah cinta mengucap satu nama, seindah goresan sabda-Mu dalam kitabku. Cinta yang bertasbih mengutus hati ini, kusandarkan hidup dan matiku pada-Mu.”
Dari awal, cinta langsung dikaitkan dengan keyakinan kepada Tuhan. Perasaan yang muncul tidak membuat tokohnya melupakan Tuhan, justru menjadi alasan untuk semakin berserah. Ia menyadari bahwa hidup dan perasaannya tetap berada dalam kuasa Tuhan.
Ada kesan bahwa cinta yang sedang dirasakan bukan sesuatu yang ingin dijalani hanya berdasarkan keinginan sendiri. Perasaan tersebut justru ingin ditempatkan dalam sesuatu yang lebih besar, yaitu keyakinan dan doa.
“Ketika cinta bertasbih, nadiku berdenyut merdu, kembang-kempis dadaku merangkai butir cinta. Garis tangan tergambar, tak bisa aku menentang, sujud syukur pada-Mu atas segala cinta.”
Masuk ke chorus, perasaan cinta digambarkan semakin kuat. Namun, lirik tentang “garis tangan” membuat cerita tidak hanya berhenti pada rasa bahagia. Ada kesadaran bahwa perjalanan seseorang juga dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak selalu bisa ia tentukan sendiri.
Ketika cinta hadir dan membawa kebahagiaan, rasa syukur menjadi hal yang penting. Cinta tidak dianggap sebagai sesuatu yang sepenuhnya berasal dari usaha manusia, sehingga keberadaannya juga disyukuri sebagai pemberian Tuhan.
“Bisikan doaku dalam butiran tasbih, kupanjatkan pintaku pada-Mu, Maha Cinta. Sudah di ubun-ubun cinta mengusik rasa, tak bisa kupaksa walau hatiku menjerit.”
Setelah merasakan cinta, muncul keinginan yang semakin besar. Namun, tokohnya sadar bahwa perasaan tersebut tidak bisa dipaksakan. Ia hanya bisa menyampaikan apa yang diinginkan melalui doa.
Di sinilah sisi lain dari cinta mulai terlihat. Seseorang bisa sangat menginginkan sesuatu, tetapi tetap harus menghadapi kenyataan bahwa keinginannya belum tentu bisa terwujud. Rasa sakit atau gelisah pun tetap ada, tetapi tidak membuatnya berhenti meminta kepada Tuhan.
Buat aku, bagian ini cukup dekat dengan pengalaman banyak orang. Saat menyukai seseorang, ada keinginan agar perasaan itu mendapat jawaban yang sama. Namun, sekuat apa pun keinginan tersebut, keputusan orang lain tetap tidak bisa dikendalikan. Pada titik seperti itu, seseorang hanya bisa berusaha dan kemudian menerima apa yang terjadi.
Pengulangan chorus di bagian selanjutnya kembali menegaskan hubungan antara cinta, takdir, dan rasa syukur. Tidak ada perubahan besar dalam cerita, tetapi pengulangan tersebut membuat inti lagu semakin jelas. Cinta boleh membuat hati berdebar, tetapi tetap ada kesadaran bahwa manusia tidak bisa mengatur seluruh jalan hidupnya sendiri.
Setelah menyimak semua liriknya, Ketika Cinta Bertasbih tidak hanya bercerita tentang seseorang yang sedang jatuh cinta. Ada proses ketika seseorang mencoba memahami perasaannya, menyampaikan harapan lewat doa, lalu belajar menerima sesuatu yang berada di luar kendalinya.
Yang paling aku suka dari lagu ini adalah cara cinta dan doa ditempatkan berdampingan. Perasaan kepada seseorang tidak digambarkan sebagai sesuatu yang harus dipaksakan sampai mendapatkan hasil sesuai keinginan. Ada ruang untuk berharap, tetapi juga ada ruang untuk menerima.
Meski sudah lama dirilis, lagu ini sampai sekarang masih sering terdengar dan dinyanyikan. Melly Goeslaw memang penulis lagu yang hebat. Banyak lagu ciptaannya disukai dan dinyanyikan oleh penyanyi lain, termasuk lagu ini yang masih sering diputar sampai sekarang.
Ketika Cinta Bertasbih membawa cerita tentang cinta yang tetap disandarkan kepada Tuhan. Ketika cinta membawa kebahagiaan, ada rasa syukur. Saat cinta membuat gelisah, ada doa yang bisa dipanjatkan. Dan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, ada sikap untuk menerima bahwa tidak semua hal bisa dipaksakan.