Ulasan
Hamzah bin Abdul Muthalib: Keteguhan Prinsip di Balik Sosok Sang Pemberani
Membaca kisah tokoh sejarah terkadang terasa berat ketika hanya disajikan dalam bentuk rangkaian nama, tahun, dan peristiwa. Namun, buku Hamzah bin Abdul Muthalib karya Syarif Farhan Wahyudi (2023) menyajikan perjalanan hidup paman Rasulullah dengan bahasa yang dekat dengan pembaca. Melalui kisahnya, Hamzah tidak hanya dikenal sebagai sosok yang kuat dan pemberani, tetapi juga sebagai pribadi yang memiliki keteguhan prinsip serta kepedulian terhadap orang-orang di sekitarnya.
Sebelum memeluk Islam, Hamzah dikenal sebagai bangsawan Quraisy yang memiliki kehidupan berkecukupan. Ia gemar berburu dan menikmati kehidupan sebagai bagian dari kalangan terpandang di Mekkah. Namun, kehidupannya berubah setelah mengetahui Rasulullah mendapat perlakuan buruk dari kaum Quraisy. Peristiwa tersebut membangkitkan kemarahannya hingga ia menyatakan keberpihakan kepada Rasulullah. Dari titik inilah perjalanan hidup Hamzah mulai mengambil arah yang berbeda.
Menariknya, keputusan Hamzah tidak hanya digambarkan sebagai luapan emosi. Kemarahan memang menjadi pemicu awal, tetapi ia tetap menggunakan pertimbangan sebelum benar-benar memantapkan hati untuk memeluk Islam. Sikap tersebut menunjukkan bahwa emosi dapat menjadi dorongan untuk mengambil tindakan, tetapi keputusan yang menyangkut kehidupan perlu dipikirkan dengan matang. Dalam kehidupan sekarang, kita pun sering berhadapan dengan keadaan yang membuat emosi meningkat. Kisah Hamzah mengingatkan bahwa keberanian mengambil sikap akan lebih berarti ketika disertai pertimbangan.
Setelah memeluk Islam, keberadaan Hamzah memberikan pengaruh terhadap kondisi kaum Muslimin di Mekkah. Sosoknya yang disegani membuat kaum Quraisy tidak lagi dapat memperlakukan Rasulullah dan kaum Muslimin dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Keberanian Hamzah bukan sekadar keberanian menghadapi lawan, melainkan keberanian untuk berdiri ketika orang lain membutuhkan perlindungan. Dalam kehidupan sosial, sikap semacam ini masih relevan. Ketegasan seseorang dapat memberikan rasa aman kepada orang-orang di sekitarnya, terutama ketika berhadapan dengan keadaan yang tidak adil.
Di sisi lain, penulis tidak hanya menampilkan Hamzah sebagai seorang pejuang. Sisi kemanusiaannya juga mendapat perhatian, terutama dalam hubungannya dengan keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Pada halaman 113 disebutkan bahwa Hamzah senang melakukan kebaikan dan menyambung silaturahmi. Gambaran tersebut membuat sosoknya terasa lebih utuh. Kekuatan tidak selalu ditunjukkan melalui kemampuan menghadapi musuh, tetapi juga melalui kemampuan menjaga hubungan dengan sesama. Bagi kita, hal ini menjadi pengingat bahwa kedudukan, keberanian, atau kemampuan yang dimiliki seseorang tidak seharusnya membuatnya jauh dari orang lain.
Gambaran mengenai Perang Uhud menjadi salah satu bagian yang cukup menarik. Penulis menguraikan suasana peristiwa dengan cukup detail sehingga perjalanan Hamzah sebagai seorang pejuang lebih mudah diikuti. Gaya penulisan yang mengalir membuat kisah sejarah terasa lebih hidup dan tidak kaku. Hal ini menjadi salah satu kelebihan buku karena pembaca dari berbagai kalangan dapat mengikuti ceritanya tanpa harus berhadapan dengan uraian sejarah yang terlalu rumit.
Meski demikian, terdapat beberapa bagian yang terasa berulang dalam menjelaskan kehidupan Hamzah. Kemungkinan hal ini berkaitan dengan terbatasnya catatan sejarah mengenai kehidupan pribadinya dibandingkan dengan tokoh lain. Pengulangan tersebut sedikit memengaruhi kelancaran membaca, tnamun tidak menghilangkan pokok informasi yang disampaikan.
Pada akhirnya, Hamzah bin Abdul Muthalib tidak hanya memperkenalkan seorang tokoh dari masa awal Islam, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keberanian dapat berjalan bersama keteguhan prinsip dan kepedulian. Dari perubahan hidup Hamzah, keberaniannya membela kebenaran, hingga kepeduliannya terhadap hubungan sosial, kita dapat melihat bahwa kekuatan seseorang tidak hanya terletak pada kemampuan menghadapi lawan, tetapi juga pada prinsip yang dipegang dan sikapnya terhadap sesama. Selamat membaca.
Identitas Buku
Judul Buku: Hamzah bin Abdul Muthalib
Penulis: Syarif Farhan Wahyudi
Penerbit: C-Klik Media
Tahun Terbit: 2023 (Cetakan Pertama)
Ukuran Buku: 14 x 20 cm
ISBN: 978-623-357-071-8