Cerita Misteri

Misteri Lawang Putih: Jejak Gaib Masa Lalu

Misteri Lawang Putih: Jejak Gaib Masa Lalu
Misteri Lawang Putih: Jejak Gaib Masa Lalu (Gemini AI)

Udara malam di dalam Lawang Putih terasa seperti jarum es yang perlahan menembus pori-pori kulit. Hendi mengarahkan senter kecilnya ke sudut ruangan berplafon tinggi di dalam gedung administrasi terbengkalai peninggalan pemerintah kolonial Belanda tersebut. Sebagai seorang fotografer bangunan bersejarah, ia selalu tertantang oleh arsitektur tua.

Kegelapan ruangan begitu pekat, seolah menyerap berkas cahaya senter. Paru-parunya terasa berat, dipenuhi debu tebal berbau hapak dan kelembapan dinding runtuh yang puluhan tahun tak tersentuh matahari. Malam ini berbeda. Gedung di seberang kompleks Candi Jiwa itu terasa mencekam dalam kesunyian.

Di sudut ruangan, tampak cermin besar berbingkai kayu jati lapuk. Permukaan kaca kusamnya memantulkan bayangan buram. Dari jendela jalousie besar di lantai dua, Hendi melihat siluet stupa candi temaram tertimpa cahaya bulan. Pemandangan itu indah, tetapi ada rasa sesak aneh di dadanya. Saat membidikkan kamera ke luar jendela, terdengar langkah kaki berat di atas lantai kayu jati di belakangnya.

Krieeet... kriet... kriet...

Langkah itu lambat, disusul aroma tembakau parutan yang mendadak menyengat hidung. Hendi mematung seketika. Otot tubuhnya menegang kaku, sementara darahnya terasa mendesir dingin mengalir ke ujung-ujung jari. Melalui pantulan samar di kaca jendela, ia melihat sesosok wanita bergaun putih panjang khas Eropa abad ke-19, tetapi wajahnya tertutup kabut hitam pekat.

"Kamu mencari apa?" Sebuah suara berbisik dingin tepat di tengkuknya, membuat bulu kuduknya berdiri.

Jantung Hendi berdegup kencang, sementara keringat dingin membasahi pelipis dan telapak tangan hingga terasa licin memegang kamera. Nalarnya mendesak untuk segera lari, tetapi kedua kakinya terasa seperti terpaku ke lantai kayu.

Di tengah kepanikan yang mendera itu, kepala Hendi berdenyut kencang. Ia mendadak teringat percakapan pendeknya dengan juru kunci desa saat sore hari sebelum ia nekat masuk ke gedung ini.

Sore itu, langit berwarna jingga kemerahan yang pekat. Bau tanah kering berbisik lembut, kontras dengan suasana malam yang kini mengurungnya.

"Ingat, Nak, tempat tua punya cara sendiri untuk menguji niat tamunya," ujar Mbah Supar mengingatkan dengan nada yang datar menembus relung batin Hendi.

"Saya hanya ingin mengambil gambar yang bagus, Mbah, tidak ada niat lain," jawab Hendi saat itu dengan nada yang sedikit meremehkan ketakutan warga lokal. Ada rasa jemawa yang menyelip di dadanya, sebuah keangkuhan khas anak muda kota yang merasa teknologi kameranya bisa menaklukkan segala sudut sejarah.

Kini, di dalam kegelapan gedung Belanda yang mencekam, penyesalan datang bagai hantaman ombak. Pengalaman ganjil ini menyadarkannya bahwa tempat ini bukan untuk ditantang dengan kesombongan lensa kameranya. Akibat kecemasan yang memuncak, napasnya memburu pendek-pendek. Hendi menurunkan kameranya perlahan dengan tangan gemetar, lalu menjatuhkan pandangannya ke arah lantai sebagai bentuk penghormatan atas ruang yang bukan milik dimensinya.

"Maafkan saya. Saya datang hanya untuk mengagumi keindahan sejarah tempat ini, bukan mengusik ketenangan Anda," bisik Hendi dengan nada pasrah dan tulus dari lubuk hatinya. Air mata ketakutan dan kepasrahan nyaris menetes di pipinya yang pucat.

Begitu ia menunjukkan kerendahan hati dan menurunkan ego di dalam dirinya, keajaiban aneh terjadi. Hawa dingin yang mengikat lehernya perlahan memudar. Beban berat di dadanya terangkat, membiarkan oksigen kembali mengalir ke paru-parunya dengan lega.

Ruangan itu meninggalkan keheningan malam tanpa suara. Hendi menyadari sebuah nilai moral malam itu: mendatangi tempat bersejarah bukan tentang mengeksploitasi misterinya demi sebuah kepuasan visual egois, melainkan tentang menghormati waktu dan jejak yang ditinggalkan oleh para pendahulu.

Di seberang jalan berbatu kompleks Candi Jiwa, Pak Gugun duduk di pos jaganya. Sebagai juru pelihara selama puluhan tahun, matanya terus mengawasi gedung Belanda di seberang jalan. Penglihatan tuanya menangkap ketidakberesan: beberapa sorotan cahaya senter dari jendela lantai dua, disusul keheningan tidak wajar yang mendenging di telinga. Getaran aneh itu membuat kulit tangannya meremang, pertanda yang sangat ia kenal.

Di sampingnya, Aron yang menemani ronda malam tampak gelisah. Jari-jarinya meremas pinggiran sarung dengan mata bergerak liar. Dengan jari bergetar, Aron menunjuk ke arah gedung kolonial tersebut.

"Pak Gugun, apa tidak sebaiknya kita susul anak muda yang masuk ke gedung seberang itu? Suasana malam ini berbeda sekali, hawanya sangat menusuk tulang," bisik Aron dengan suara bergetar menahan gigil yang menyerang tubuhnya.

Pak Gugun menggelengkan kepalanya, menepuk pundak Aron. Telapak tangan Pak Gugun memberikan kehangatan yang sedikit meredakan ketakutan pemuda itu. "Jangan diganggu, Ron. Biarkan dia menyelesaikan urusannya di dalam sana. Sesuatu yang gaib di gedung itu sedang menguji ketulusan hatinya."

"Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu yang buruk padanya, Pak?" tanya Aron lagi, masih tidak tenang melihat kegelapan pekat yang menyelimuti bangunan berarsitektur Eropa tersebut. Rasa khawatir membuat dadanya naik turun dengan cepat.

Pak Gugun menghela napas berat, menggosok kedua telapak tangan yang mendingin akibat angin malam. Dari pelataran candi, batas antara abad ke-9 yang damai dan gedung kolonial yang penuh trauma masa lalu terasa begitu tipis.

Tiba-tiba, angin kencang meniup pohon beringin, membawa suara tangisan lirih wanita dari arah gedung Belanda. Namun, sedetik kemudian, tangisan pilu itu diredam oleh gaung gamelan mistis yang beredar di sekitar candi, membawa aura kedamaian yang lambat dan berat.

Fenomena ini sudah menjadi bagian dari hidup Pak Gugun. Tanpa rasa takut, ia hanya merasa iba merenungkan bagaimana dua energi dari zaman berbeda bisa terjebak di ruang yang sama. Ia memandang Aron yang terduduk lemas di bangku bambu, lalu berucap lirih, "Tugas kita yang hidup bukanlah memusuhi ketakutan itu, melainkan mendoakan agar setiap jiwa yang tertinggal menemukan jalan pulangnya."

Sambil memegang tasbih kayunya, jemari keriput Pak Gugun merapalkan doa keselamatan untuk mereka semua dan fotografer muda di seberang jalan.

Tak lama, ketegangan udara mengendur. Dari gerbang Lawang Putih, Hendi keluar dengan selamat. Langkahnya kini lebih ringan dan tidak lagi kaku. Sebelum pergi, Hendi menoleh dan mengangguk hormat kepada Pak Gugun dari kejauhan. Kedua situs sejarah itu kembali tenang, menyisakan misteri sunyi dalam dekapan malam.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda