Ulasan
Review Film Daayra: Hadirkan Realita Pahit Penegakan Hukum yang Dilematis!
Daayra adalah film thriller kriminal India berbahasa Hindi yang disutradarai Meghna Gulzar, diproduksi Junglee Pictures dan Pen Studios. Film ini dibintangi Kareena Kapoor Khan sebagai DCP Ajooni Kohli IPS dan Prithviraj Sukumaran sebagai DCP Raman Kumar IPS, dengan dukungan pemain seperti Jitendra Joshi, Kshitee Jog, dan lainnya.
Durasi sekitar 143 menit. Film ini terinspirasi dari peristiwa nyata, termasuk kasus kekerasan seksual dan pembunuhan yang memicu perdebatan mengenai encounter polisi serta batas antara keadilan dan balas dendam. Film ini tayang di bioskop Indonesia pada 18 September 2026, bersamaan dengan perilisan di India dan beberapa negara lain.
Kisah Perjuangan Mengungkap Keadilan yang Pincang

Daayra (yang berarti lingkaran atau batas) dibuka dengan hilangnya seorang perempuan muda bernama Ragini Pujari. Keluarganya mengalami kesulitan melaporkan kasus tersebut kepada pihak berwenang. Tubuhnya kemudian ditemukan dalam kondisi tragis. DCP Raman Kumar dan timnya menangkap empat tersangka, lalu menembak mati mereka dalam sebuah encounter yang diklaim sebagai tindakan membela diri saat rekonstruksi.
Publik merayakan Raman sebagai pahlawan, sementara Komisi Hak Asasi Manusia menuntut penyelidikan. DCP Ajooni Kohli ditugaskan memimpin tim investigasi internal untuk mengungkap apakah encounter tersebut sah atau merupakan pembunuhan yang direncanakan.
Narasi film berjalan secara bolak-balik antara masa lalu (kejadian kejahatan dan penangkapan) serta masa kini (investigasi Ajooni). Gulzar menyajikan dua perspektif yang berlawanan: Raman mewakili kemarahan publik terhadap sistem peradilan yang lambat dan gagal melindungi korban, sementara Ajooni berpegang teguh pada prosedur hukum dan akuntabilitas. Konflik keduanya membentuk inti film, memaksa penonton mempertanyakan di mana batas moral keadilan berada ketika sistem formal dianggap tidak memadai.
Review Film Daayra

Prithviraj Sukumaran memberikan penampilan paling menonjol. Ia menggambarkan Raman dengan keyakinan tenang namun mengancam—seorang polisi yang percaya bahwa tindakan tegas diperlukan karena sistem sering mengecewakan. Kareena Kapoor Khan sebagai Ajooni tampil lebih terukur dan prosedural; kalau menurutku sih karakternya kurang diberi ruang emosional yang dalam, meskipun kehadirannya tetap memberikan bobot pada sisi hukum.
Kshitee Jog sebagai ibu korban menyampaikan kesedihan yang menyentuh, sementara adegan-adegan di kantor polisi yang menolak laporan keluarga memperlihatkan kegagalan institusional secara realistis. Penyutradaraan Gulzar cenderung menahan diri, menghindari sensasionalisme berlebihan, dan mengandalkan ketegangan prosedural. Akan tetapi, pacing film melemah di bagian tengah, investigasi Ajooni terasa kurang mendesak, dan film tidak sepenuhnya mengeksplorasi ambigu moral hingga titik yang benar-benar mengusik.
Jadi kesimpulannya, Daayra berhasil mengangkat isu relevan—keadilan ekstrayudisial, kepercayaan publik terhadap hukum, dan dampak kekerasan terhadap perempuan—tanpa memberikan jawaban absolut. Menurutku, film ini lebih bersifat diagnostik daripada propagandistik.
Adegan paling dramatis terjadi ketika keluarga Ragini, khususnya ibunya, berulang kali berusaha melaporkan hilangnya anak mereka. Mereka dihadapkan pada birokrasi yang dingin, diminta kembali nanti, mengisi formulir lain, atau pindah ke pos polisi berbeda. Ketegangan membangun secara perlahan hingga penemuan tubuh korban. Emosi ibu yang hancur, digambarkan dengan intensitas oleh Kshitee Jog, menyampaikan rasa putus asa yang mendalam.
Adegan ini tidak mengandalkan kekerasan visual, melainkan keheningan dan frustrasi institusional, yang membuatnya terasa lebih menyakitkan dan realistis. Ia menjadi fondasi emosional film, menjelaskan mengapa kemarahan publik dan sikap Raman dapat dipahami, sekaligus menyoroti kegagalan sistem yang seharusnya melindungi.
Adegan yang paling bikin aku gemas yaitu saat proses reka ulang dan penyelidikan terkait peristiwa itu, terutama waktu Raman dan timnya menggiring tersangka kembali ke TKP untuk rekonstruksi. Ketegangan meningkat melalui editing yang tajam, pandangan mata, dan dialog yang menahan. Ketika tembakan terjadi dan versi resmi membela diri disampaikan, aku pun merasakan ambiguitas yang disengaja: apakah ini keadilan yang ditunggu atau pelanggaran hukum yang disengaja?
Interaksi selanjutnya antara Raman dan Ajooni, di mana keduanya mempertahankan posisi masing-masing dengan keyakinan yang sama kuat, menambah intensitas. Adegan-adegan ini membuatku terus mempertanyakan loyalitas moral mereka sendiri—apakah mendukung tindakan tegas Raman atau prosedur Ajooni—hingga akhir film.
Daayra merupakan karya yang serius dan relevan, meski tidak sempurna dalam eksekusi pacing dan pengembangan karakter. Kekuatan utamanya terletak pada penampilan Prithviraj, isu yang diangkat, serta kemampuan film untuk memicu diskusi tanpa memberikan solusi mudah.
Buat kamu yang menyukai thriller prosedural dengan lapisan moral, film ini layak ditonton. Bagi yang mengharapkan ketegangan tinggi terus-menerus atau jawaban tegas, mungkin terasa kurang memuaskan. Dengan rilis di bioskop Indonesia sejak 18 September 2026, Daayra menawarkan kesempatan untuk merefleksikan sistem keadilan yang sering kali berjalan lambat, sementara masyarakat menuntut hasil yang cepat. Rating pribadi: 7.5/10.