Ulasan
Menggugat Empati Sineas Lewat Film Putri, Jangan Gentayangan Lagi: Menghibur atau Mengeksploitasi?
Cerita horor yang paling menyentuh biasanya bukan berasal dari hantu yang muncul di sudut kamar, melainkan dari kenyataan bahwa sosok di balik riasan menyeramkan itu pernah hidup, punya keluarga, dan meninggalkan luka yang masih dibicarakan orang.
Film Putri, Jangan Gentayangan Lagi membawa beban semacam itu, yang diangkat dari pengalaman nyata mendiang Amanda Rizki Saputri.
Diproduksi MVP Pictures bersama Folago Pictures, PK Films, dan SHOW Token. Film berdurasi 104 menit ini disutradarai Rizal Mantovani dengan skenario besutan Alim Sudio.
Kawai Labiba memerankan Putri, Kinaryosih sebagai Mak Elli, Denisha Wahyuni sebagai Alana, Fadi Alaydrus sebagai Wira, Bintang Agara sebagai Taufik, Matacha Parengkuan sebagai Nindy, serta Fatimah Habsy sebagai Agnes. Film horor berklasifikasi R13 ini sudah tayang di bioskop sejak 5 November 2026.
Dikisahkan Mak Elli, pengemudi ojek online yang harus berjuang menghidupi ketiga anaknya. Kehidupan keluarganya berubah ketika Putri, anak sulungnya yang sudah sekitar setahun meninggalkan rumah karena hamil akibat perbuatan pacarnya, akhirnya ditemukan kembali bersama bayi laki-laki bernama Raman.
Mak Elli kemudian membawa Putri dan bayinya pulang agar mereka bisa kembali tinggal bersama keluarga. Namun, kepulangan itu berlangsung dalam keadaan yang memprihatinkan. Putri ternyata menderita sakit setelah melahirkan. Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia dalam keadaan mengenaskan.
Kematian Putri menjadi awal serangkaian kejadian mistis yang meresahkan warga kampung. Arwahnya beberapa kali terlihat gentayangan di sekitar rumah hingga makam. Di balik kemunculannya, Putri masih menyimpan kesedihan dan keinginan yang belum sempat diwujudkan semasa hidup. Dia ingin menggendong Raman dan mengadakan syukuran untuk kelahiran putranya.
Tanggung Jawab yang Diemban Semua Pihak
Film ini menjual pengalaman horor, sekaligus meminjam kisah nyata dari perempuan yang kematiannya pernah menjadi cerita publik. Di titik inilah hiburan terakumulasi dengan bentuk tanggung jawab yang diemban sineas, pemeran, termasuk orang-orang di balik proses pengambilan gambarnya.
Yup, mengangkat kisah nyata menjadi film horor bukan perkara sederhana. Ketika pengalaman seseorang dipindahkan ke layar, pembuat film memegang kuasa untuk memilih bagian mana yang diperbesar, dipotong, atau diberi makna baru. Adegan penampakan, riasan arwah, suara mengejutkan, dan ketegangan dapat membuat kisah lebih sinematik. Namun, semua perangkat itu juga berisiko menggeser pusat cerita: dari kehidupan perempuan yang mengalami penderitaan menjadi sosok hantu yang menjual rasa takut.
Persoalan etisnya bukan terletak pada penggunaan genre horor semata. Horor memang bisa menjadi bahasa untuk menggambarkan trauma, ketimpangan, dan duka yang tak selesai. Masalah muncul ketika tragedi hanya dipakai sebagai bahan sensasi, sementara konteks yang membuat hidup Putri begitu berat kehilangan kedalaman.
Kehamilan, hubungan yang timpang, kesehatan, stigma, dan relasi keluarga bukan sekadar latar untuk menjelaskan mengapa arwahnya gentayangan. Semua itu adalah pengalaman manusia yang pantas diperlakukan dengan empati. Penonton pun perlu diajak melihat akibat dari keputusan dan kelalaian orang-orang di sekelilingnya, bukan sekadar menunggu kemunculan sosok gaib berikutnya. Itulah ukuran kepekaan adaptasinya sendiri.
Keterlibatan Mak Elli dalam proses penceritaan dan riset pemeran utama menjadi hal penting. Meski begitu, penghormatan terhadap sumber kisah juga perlu terasa dalam hasil akhirnya, melalui cara film menempatkan Putri sebagai manusia, bukan hanya ikon teror.
Film Putri, Jangan Gentayangan Lagi jelas punya potensi menjadi horor yang meninggalkan renungan lebih lama ketimbang rasa kaget. Keberhasilannya bergantung pada keseimbangan antara kebutuhan hiburan dan kepekaan terhadap tragedi nyata. Sebab, di balik nama yang terpampang pada poster, ada kehidupan yang pernah dijalani dan keluarga yang masih membawa kenangannya.
Sobat Yoursay sudah nonton belum? Bagikan pendapatmu di sini, yuk!