Ulasan

Ulasan Novel 28: Ketika Wabah Mematikan Membuka Sisi Gelap Manusia

Ulasan Novel 28: Ketika Wabah Mematikan Membuka Sisi Gelap Manusia
28 (Gramedia)

Jeong You-Jeong menghadirkan ketegangan yang intens melalui novel 28, sebuah thriller psikologis yang memadukan misteri wabah dengan gambaran tentang perilaku manusia dalam keadaan ekstrem. Berlatar di Kota Hwayang, cerita membawa pembaca ke tengah bencana kesehatan yang berkembang begitu cepat hingga kehidupan normal masyarakat runtuh. Bukan hanya tentang bagaimana manusia menghadapi penyakit mematikan, novel ini juga mengajak pembaca melihat perubahan sikap manusia ketika rasa takut mulai menguasai mereka.

Kisahnya diawali dengan penemuan seorang pria paruh baya dalam kondisi mengenaskan di kamar mandi sebuah apartemen. Hal yang membuat kejadian tersebut semakin ganjil adalah warna matanya yang berubah menjadi merah terang. Kematian ternyata tidak berhenti pada manusia. Anjing-anjing yang berada di sekitar lokasi juga ditemukan mati dengan keadaan yang hampir sama. Ketika petugas pemadam kebakaran dan tenaga medis datang untuk memberikan pertolongan, mereka justru menjadi korban berikutnya. Gejala serupa muncul dan dalam waktu singkat nyawa mereka pun tidak terselamatkan.

Wabah tersebut kemudian menyebar dengan kecepatan mengerikan. Manusia dan hewan sama-sama berada dalam ancaman, sementara penyebab penyakit belum sepenuhnya diketahui. Situasi semakin buruk ketika pemerintah menetapkan kondisi darurat dan mengambil keputusan untuk mengisolasi Hwayang. Pasukan militer ditempatkan di berbagai akses untuk mencegah siapa pun meninggalkan wilayah tersebut. Kota yang sebelumnya menjadi tempat tinggal ribuan orang berubah menjadi ruang tertutup yang dipenuhi ketakutan, kepanikan, dan ketidakpastian.

Di tengah keadaan tersebut, Han Ki-joon, seorang pemimpin tim penanggulangan keadaan darurat, berusaha mencari jalan agar keluarganya dapat keluar dari kota. Sementara itu, sejumlah karakter lain juga harus mencari cara masing-masing untuk bertahan hidup. Mereka tidak hanya menghadapi ancaman penyakit, tetapi juga harus berhadapan dengan tekanan psikologis dan hilangnya rasa aman. Dalam kondisi ketika kematian bisa datang kapan saja, batas antara tindakan benar dan salah perlahan menjadi semakin kabur.

Salah satu hal yang menarik dari 28 adalah gambaran mengenai perilaku manusia ketika berada dalam krisis. Ketakutan dapat membuat seseorang kehilangan kepedulian terhadap orang lain dan memilih keselamatan pribadi sebagai prioritas. Kondisi darurat juga seperti membuka tirai yang selama ini menutupi karakter asli seseorang. Ada yang tetap berusaha membantu sesama, tetapi ada pula yang tega melakukan tindakan kejam demi mempertahankan hidupnya sendiri.

Novel ini juga memberikan perhatian besar terhadap relasi manusia dengan hewan. Perlakuan manusia terhadap makhluk lain menjadi salah satu persoalan yang terasa kuat dalam cerita. 28 seolah mengingatkan bahwa hewan bukan sekadar objek yang dapat diperlakukan sesuka hati. Ketika manusia mengabaikan kehidupan makhluk lain, konsekuensinya dapat kembali kepada manusia dalam bentuk yang tidak terduga.

Di sisi lain, kisah ini tidak sepenuhnya dipenuhi keputusasaan. Dalam situasi terisolasi, muncul pula bentuk solidaritas yang tidak disangka-sangka. Orang-orang dengan latar belakang berbeda dapat menemukan alasan untuk saling membantu. Tindakan sederhana, keberanian untuk peduli, dan kesediaan berkorban menjadi sesuatu yang penting ketika dunia di sekitar mereka seakan kehilangan harapan.

Setelah menyelesaikan novel setebal 520 halaman ini, saya langsung teringat pada film Korea Flu yang juga mengangkat tema wabah. Namun, 28 memberikan pengalaman yang lebih personal karena narasinya membuat saya terus membayangkan bagaimana mengerikannya jika kejadian serupa benar-benar berlangsung di dunia nyata.

Beberapa bagian bahkan cukup membuat saya merinding. Meski cukup tebal, versi terjemahannya terasa nyaman diikuti sehingga saya dapat membacanya relatif cepat. Rasa penasaran terhadap perkembangan cerita juga membuat saya sulit berhenti sebelum mengetahui apa yang akan terjadi selanjutnya.

Pada akhirnya, 28 bukan hanya novel tentang wabah, melainkan juga gambaran tentang manusia ketika seluruh kepastian dalam hidup mereka direnggut. Jeong You-Jeong berhasil menjadikan ancaman penyakit sebagai pintu untuk mengeksplorasi ketakutan, egoisme, empati, pengorbanan, dan harapan. Novel ini cocok bagi pembaca yang menyukai thriller dengan suasana mencekam sekaligus cerita yang menyisakan pertanyaan tentang seberapa jauh manusia akan bertahan ketika dihadapkan pada situasi paling ekstrem.

Identitas Buku

Judul: 28
Penulis: Jeong You-Jeong
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Bahasa: Indonesia
ISBN: 9786020663654

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda