Ulasan
Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu?: Ikatan Kuat, tapi Cerita Cuma Main Aman
Film yang sejak awal sudah membawa penyakit mematikan, hubungan ibu-anak, dan waktu yang terus menipis memang punya modal besar untuk membuat penonton menangis. Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? bahkan seperti sudah menyiapkan kotak tisunya sebelum penonton duduk. Masalahnya, drama yang modal emosinya sebesar ini justru punya pekerjaan lebih berat. Apa itu? Kepoin sampai akhir, ya!
Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? merupakan film drama keluarga produksi Falcon Pictures, disutradarai Herwin Novianto dengan skenario Alim Sudio. Film berdurasi sekitar 111 menit ini dibintangi Marsha Timothy sebagai Stella, Fara Shakila sebagai Rere, bersama Praz Teguh, Ivan Gunawan, Sara Wijayanto, Kiki Narendra, Haruka Nakagawa, Queen Lubis, dan Kinaryosih.
Kisahnya sedih, lho. Stella adalah ibu tunggal sekaligus desainer gaun pengantin yang membesarkan Rere seorang diri setelah suaminya meninggal. Kehidupan mereka berubah ketika Stella mengetahui dirinya mengidap kanker stadium akhir. Waktu yang tersisa membuat Stella memilih berhenti memikirkan ketakutannya sendiri dan mulai mempersiapkan Rere agar mampu hidup mandiri.
Stella mengajarkan berbagai hal, menciptakan kenangan, dan bahkan membuat gaun pengantin untuk masa depan Rere, gaun yang kemungkinan besar baru akan dikenakan ketika Stella sudah tak bisa menyaksikannya. Di saat yang sama, Rere sedang menghadapi masalahnya sendiri dengan lingkungan pertemanan dan hubungan yang semakin rumit dengan sang ibu.
Plot dan Adegan Kunci yang Terlalu Setia
Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? merupakan adaptasi dari Wedding Dress (2010), sehingga fondasi ceritanya memang sudah sangat familier. Banyak plot dan adegan kunci masih mengikuti film Korea tersebut.
Aku justru melihat persoalan utamanya berada di sini. Remake memang nggak harus mengubah cerita sampai kehilangan bentuk aslinya. Namun, versi baru idealnya punya alasan emosional sendiri untuk dibuat. Film ini cukup berhasil membawa hubungan Stella dan Rere ke konteks Indonesia, tapi sebagian struktur emosinya masih di zona aman. Kita bisa menebak arah perjalanan bahkan sebelum film menginjak pedal gasnya.
Untungnya, Marsha Timothy dan Fara Shakila jadi penahan utama. Chemistry keduanya intim dan jauh lebih kuat dari sebatas hubungan ibu-anak yang dibuat untuk kebutuhan melodrama. Marsha juga tak terus-menerus memainkan kesedihan dengan tangisan berulangkali. Ada senyum, candaan, tatapan, sampai kesedihan yang disimpan rapat. Fara pun mampu memperlihatkan Rere sebagai anak yang belum sepenuhnya memahami kehilangan yang sedang mendekat.
Betewe, perkembangan karakter Rere menarik untuk diperhatikan. Film ini berusaha memperlihatkan, yang harus dipersiapkan bukan cuma tubuh Stella menghadapi akhir hidup, melainkan juga hati Rere menghadapi dunia setelah ibunya pergi. Sayangnya, persoalan Rere dengan teman-temannya lebih terbatas. Padahal, ada potensi konflik yang bisa membuat karakter Rere lebih utuh.
Untuk gaun pengantinnya, juga punya konsep yang cantik. Stella membuat sesuatu untuk masa depan yang mungkin nggak akan pernah dia lihat. Sayangnya, gaun itu dirasa-rada lebih kuat jadi gagasan ketimbang sebagai tanda yang tumbuh bersama hubungan keduanya. Film sudah punya benda yang secara metaforis kuat, tapi bobot emosionalnya masih kalah.
Kehadiran Praz Teguh dan Ivan Gunawan membantu film bernapas sebelum drama semakin berat. Dunia butik juga terasa meyakinkan, apalagi Ivan membawa sejumlah properti dari butiknya untuk kebutuhan produksi.
Ibu, Bagaimana Aku Tanpamu? memang tahu cara memainkan emosi, dan beberapa benturan adegannya bekerja sangat efektif. Sebagai remake, film ini hangat dan mudah diterima. Sebagai karya baru, jejak dalam drama Wedding Dress masih terlalu kuat. Air matanya bekerja, chemistry-nya hidup, tapi adaptasinya belum sekuat sumber ceritanya.
Bila Sobat Yoursay merasa belum yakin dan tetap penasaran dengan film ini, langsung saja ke bioskop sebelum turun layar. Selamat menonton.