Ulasan
Buku Hakim Sarmin Presiden Kita: Membaca Politik Lewat Tawa dalam Dua Lakon
Membaca buku Hakim Sarmin Presiden Kita karya Agus Noor ini membuat saya seperti duduk di kursi penonton sebuah gedung teater, sementara panggung perlahan terbuka di hadapan mata. Saya tidak sekadar membaca dialog antartokoh, tetapi ikut membayangkan suara, gerak tubuh, tata cahaya, musik, kostum, bahkan kegaduhan yang mungkin muncul dari para pemain.
Buku ini memang bukan novel atau kumpulan cerpen biasa, melainkan naskah lakon yang sengaja memberi ruang sangat luas bagi imajinasi pembacanya.
Buku yang diterbitkan Basabasi pada 2017 ini memuat dua lakon, yakni Hakim Sarmin dan Presiden Kita Tercinta. Perpustakaan Jakarta mencatatnya sebagai naskah drama Indonesia karya Agus Noor dengan tebal sekitar 260 halaman.
Saya menemukan buku ini melalui Ipusnas. Awalnya hanya penasaran setelah membaca bagian pembuka yang menawarkan suasana ganjil dan dialog komikal. Namun, rasa penasaran itu justru membawa saya terus membaca sampai selesai.
Makin jauh masuk ke dalam halaman-halamannya, makin terasa bahwa kegilaan dalam buku ini bukan sekadar kegilaan tokoh, melainkan cara Agus Noor membicarakan sesuatu yang serius melalui bahasa yang absurd, lucu, dan kadang terasa menyakitkan.
Saat Para Hakim Masuk Rumah Sakit Jiwa
Lakon pertama, Hakim Sarmin, membawa pembaca ke sebuah zaman ketika wabah kegilaan melanda para hakim. Para penegak keadilan justru masuk rumah sakit jiwa. Premisnya saja sudah menggelitik, bagaimana mungkin orang-orang yang seharusnya menentukan benar dan salah justru ditempatkan sebagai orang-orang yang perlu direhabilitasi? Di sinilah kecerdikan Agus Noor terasa.
Kegilaan tidak lagi sekadar persoalan medis. Kegilaan menjadi metafora untuk menggambarkan kekacauan kekuasaan, hukum, dan keadilan. Kita dipaksa bertanya-tanya, siapa sebenarnya yang gila? Mereka yang berada di rumah sakit jiwa, atau mereka yang berada di luar tetapi menjalankan kekuasaan tanpa rasa keadilan?
Cerita kemudian berkembang menjadi persoalan politik, korupsi, ambisi, dan perebutan pengaruh. Para hakim tidak sekadar menjadi tokoh hukum, tetapi juga cermin dari sistem yang bisa dipengaruhi kepentingan. Rumah sakit jiwa dalam cerita terasa seperti ruang kecil yang memantulkan persoalan besar sebuah negara.
Bagi saya, bagian pertama merupakan bagian yang paling menarik. Plot twist-nya cukup banyak sehingga saya tidak bisa membaca dengan santai sambil menebak akhir cerita. Beberapa kali saya merasa sudah memahami arahnya, tetapi dialog dan peristiwa berikutnya justru membawa saya ke arah lain.
Nama-nama tokohnya pun terasa tidak biasa. Dokter Menawi Diparani, Bung Kusane, Hakim Ngatimin, Paringan, Pak Kunjaran dan tokoh lainnya membuat dunia dalam lakon ini terasa semakin absurd. Namun, justru melalui keabsurdan itulah Agus Noor bisa menyampaikan kritik tanpa harus menggurui.
“Kekuasaan bukan hanya soal kedudukan atau jabatan, tapi siapa yang punya kemampuan menentukan keadaan.” (hlm. 65).
Dialog ini menurut saya menjadi salah satu kunci untuk memahami lakon Hakim Sarmin. Kekuasaan ternyata bukan hanya tentang siapa yang duduk di kursi tertinggi. Kekuasaan juga menyangkut siapa yang mampu memengaruhi keadaan, menentukan arah, bahkan memengaruhi keputusan.
Percakapan pada halaman yang sama kemudian mengarah pada hubungan antara pemimpin, undang-undang, dan hakim. Pertanyaan tentang siapa yang menentukan benar atau salahnya seseorang menjadi penting karena hakim memiliki posisi strategis dalam menentukan nasib manusia.
Presiden, Revolusi, dan Kekuasaan
Lakon kedua, Presiden Kita Tercinta, bergerak ke wilayah yang lebih langsung menyentuh kekuasaan politik. Jika bagian pertama menggunakan hakim dan rumah sakit jiwa sebagai pintu masuk, bagian kedua membawa pembaca ke lingkungan istana, presiden, politikus, militer, revolusi, dan perebutan kekuasaan.
Saya menikmati cara Agus Noor menyusun kisah ini dengan nada yang tetap jenaka. Situasinya berat, tetapi pembaca tidak terus-menerus dijejali percakapan serius. Humor muncul di tengah ketegangan. Kadang terasa lucu, kadang terasa garing, tetapi tetap memiliki fungsi, sehingga membuat persoalan politik yang rumit terasa lebih mudah didekati.
Kisah tentang presiden juga memperlihatkan bahwa kejujuran saja belum tentu cukup ketika seseorang berada di tengah pusaran kekuasaan. Politik memiliki kepentingan, strategi, loyalitas, pengkhianatan, dan berbagai kemungkinan yang sulit diprediksi.
Yang menarik, Agus Noor tidak menyampaikan kritik politik dengan gaya esai. Ia memilih panggung imajinatif. Karena itu, pembaca seperti diberi kesempatan untuk menjadi penonton sekaligus penafsir.
Referensi terhadap perjalanan politik Indonesia juga membuat buku ini terasa dekat dengan kenyataan. Beberapa pembaca mungkin akan lebih mudah menangkap sindirannya jika memiliki pengetahuan tentang sejarah politik Indonesia. Sebaliknya, pembaca yang tidak terlalu akrab dengan konteks sejarah mungkin akan kehilangan sebagian kelucuan atau sindiran yang sengaja disisipkan.
Menurut saya, persoalan tersebut menjadi salah satu kelemahan buku ini sekaligus tantangan yang menarik. Beberapa catatan kaki atau penjelasan tambahan mungkin akan membantu pembaca memahami konteks tertentu. Meski begitu, pembaca tetap bisa menikmati lakonnya sebagai cerita tanpa harus memahami seluruh referensi politik yang digunakan.
Buku yang Terasa Seperti Panggung Teater
Hal paling khas dari buku ini terletak pada bentuknya. Agus Noor menulisnya sebagai naskah lakon. Oleh karena itu, pengalaman membacanya berbeda dari membaca novel. Saya justru merasa harus menggunakan imajinasi lebih banyak.
Ketika membaca dialog, saya membayangkan siapa yang sedang berdiri di panggung. Ketika muncul petunjuk tata cahaya atau musik, saya mencoba membayangkan bagaimana suasana tersebut jika benar-benar dipentaskan. Beberapa bagian bahkan terasa seperti sedang menonton pertunjukan dari dalam kepala.
Konteks pementasan juga penting. Lakon Hakim Sarmin pernah dipentaskan Teater Gandrik pada 2017 dan dikenal sebagai pertunjukan yang memadukan humor dengan kritik sosial-politik. Dokumentasi tentang pementasannya mencatat isu peradilan, ambisi kekuasaan, kepentingan politik, serta gagasan “Revolusi Keadilan” sebagai bagian penting dari cerita.
Pengalaman tersebut membuat saya semakin memahami mengapa naskah ini tidak tepat jika diperlakukan seperti novel biasa. Naskah lakon memang memberikan ruang kepada pembaca untuk membangun panggungnya sendiri.
Kritik yang Dibungkus Kelucuan
Tema korupsi menjadi salah satu persoalan yang terus terasa sepanjang pembacaan. Agus Noor mempertemukan hukum dan kekuasaan dalam situasi yang ganjil. Hakim yang seharusnya menjadi simbol keadilan justru berhadapan dengan godaan kekuasaan dan kepentingan.
Satire semacam ini membuat saya beberapa kali tersenyum, tetapi setelahnya justru muncul pertanyaan yang lebih serius.
Mengapa sesuatu yang seharusnya lucu terasa begitu dekat dengan kehidupan nyata? Inilah kekuatan sekaligus kegelisahan buku ini.
Agus Noor seperti mengajak kita menertawakan absurditas politik, tetapi tawa tersebut tidak berhenti sebagai hiburan. Setelah tertawa, pembaca diajak memikirkan kembali hukum, kekuasaan, korupsi, dan posisi manusia di hadapan negara.
Saya juga menyukai bagian-bagian yang memberikan gambaran teknis pementasan, seperti petunjuk tata cahaya, musik, dan kostum. Detail semacam ini memperkuat kesan bahwa buku tersebut memang lahir dari dunia pertunjukan, bukan sekadar cerita yang kebetulan ditulis dalam format dialog.
Relevan bagi Generasi Muda
Menurut saya, Hakim Sarmin Presiden Kita masih relevan dibaca generasi muda sekarang, terutama mereka yang ingin memahami politik melalui jalur sastra dan seni.
Anak muda tidak harus selalu mempelajari politik melalui buku teori yang berat. Kritik terhadap kekuasaan juga bisa ditemukan dalam teater, satire, humor, film, musik, dan karya sastra. Buku ini memperlihatkan bahwa seni dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan sesuatu yang sering dianggap terlalu serius.
Generasi muda juga bisa belajar tentang cara menyampaikan kritik. Agus Noor tidak sekadar berkata bahwa kekuasaan bisa bermasalah. Ia menciptakan tokoh, situasi, dialog, konflik, humor, dan absurditas untuk membuat pembaca sampai pada pertanyaan tersebut melalui pengalaman membaca.
Bagi mereka yang tertarik menulis naskah drama atau teater, buku ini bahkan bisa menjadi bahan belajar yang menarik. Bentuknya menunjukkan bagaimana sebuah gagasan sosial-politik dapat diterjemahkan menjadi adegan dan dialog.
Dokumentasi mengenai pementasan Hakim Sarmin juga menyebut pentingnya pertunjukan tersebut dalam memperkenalkan proses kebudayaan dan semangat kebangsaan kepada generasi muda.
Kekurangan yang Saya Rasakan
Saya menikmati buku ini, tetapi bukan berarti semuanya terasa sempurna. Sebagian humor menurut saya ada yang terasa garing. Sebagian dialog juga sangat absurd sehingga membutuhkan konsentrasi lebih untuk menangkap maksudnya. Pembaca yang tidak terbiasa dengan naskah teater mungkin membutuhkan waktu untuk beradaptasi.
Konteks sejarah dan politik yang cukup beragam juga bisa menjadi tantangan. Beberapa referensi akan terasa lebih mengena bagi pembaca yang memiliki pengetahuan sejarah Indonesia.
Namun, bagi saya, kekurangan tersebut tidak menghilangkan daya tarik utamanya. Justru buku ini membuat saya sadar bahwa membaca naskah lakon membutuhkan cara membaca yang berbeda. Kita tidak hanya mengikuti cerita, tetapi juga menciptakan pertunjukan di dalam kepala.
Identitas Buku
- Judul: Hakim Sarmin Presiden Kita
- Penulis: Agus Noor
- Penerbit: Basabasi, Yogyakarta
- Cetakan: I, 2017
- Tebal: 260 Halaman
- ISBN: 978-602-61160-6-2
- Genre: Monograf