Ulasan

Absolute Value of Romance: Tentang Seorang Remaja dan Halunya yang Kejauhan

Absolute Value of Romance: Tentang Seorang Remaja dan Halunya yang Kejauhan
Absolute Value of Romance (Instagram/dizimcim3)

Pernahkah kamu refleks membayangkan sesuatu yang belum tentu terjadi hanya karena perlakuan kecil dari seseorang terhadap dirimu?

Dia tersenyum sedikit, kita mulai berpikir dia perhatian. Dia kebetulan lewat di depan kita. kita menganggapnya sebagai tanda.

Sampai akhirnya, sebelum orang tersebut benar-benar melakukan apa-apa, kita sudah lebih dulu membuat kisah romantis lengkap di dalam kepala.

Kalau pernah, mungkin kita akan cukup mudah memahami Yeo Eui-ju dalam Absolute Value of Romance.

Drama Korea yang dibintangi Kim Hyang-gi ini memang dikemas sebagai high-teen romance comedy. Namun, di balik tingkah Eui-ju yang sering kali mengundang tawa, ada sesuatu yang terasa sangat dekat dengan kehidupan remaja, fantasi tentang cinta yang terkadang jauh lebih berkembang daripada kenyataan.

Eui-ju adalah siswi SMA biasa yang menjalani kehidupan ganda. Pada siang hari, ia adalah murid seperti kebanyakan remaja lainnya. Namun ketika malam tiba, ia berubah menjadi penulis novel romance yang diam-diam menuangkan berbagai imajinasi ke dalam cerita.

Masalahnya dimulai ketika empat guru pria tampan datang ke sekolahnya. Dan bagi Eui-ju, mereka bukan sekadar guru. Mereka adalah bahan cerita.

Keempatnya kemudian menjadi inspirasi bagi karakter-karakter dalam novel yang sedang ia tulis. Salah satunya adalah Yoon Dong-ju yang diperankan Kim Dong-kyu, seorang guru bahasa Korea dengan kepribadian lembut dan manis. Ada pula Ga Woo-su, Noh Da-ju, dan Jung Gi-jeon yang masing-masing memiliki karakter berbeda.

Dari sinilah dunia nyata dan dunia imajinasi Eui-ju mulai bertabrakan. Menurut saya, justru di situlah letak lucunya drama ini.

Eui-ju bisa melihat sebuah interaksi sederhana lalu mengubahnya menjadi adegan romantis yang sangat dramatis di kepalanya. Percakapan biasa bisa menjadi dialog penuh makna. Tatapan singkat bisa berubah menjadi tanda cinta.

Dua orang yang sekadar sedang berbicara bisa ia bayangkan sebagai pasangan yang sedang menyembunyikan perasaan. Padahal kenyataannya? Mereka mungkin cuma ngobrol.

Kalau dipikir-pikir, bukankah kita semua pernah sedikit seperti Eui-ju? Ketika menyukai seseorang, kemampuan kita untuk bersikap objektif memang sering menghilang. Satu pesan dibalas cepat, kita senang setengah mati. Satu pesan dibalas singkat, kita mulai bertanya-tanya.

Dia melihat Instagram Story kita, langsung muncul pertanyaan, “Kenapa dia lihat?”

Padahal mungkin dia cuma sedang membuka Instagram. Kita tertawa ketika melihat Eui-ju melakukan hal-hal semacam itu karena terlihat berlebihan. Tetapi semakin lama menonton, semakin terasa bahwa kelucuan tersebut sebenarnya lahir dari sesuatu yang sangat manusiawi.

Kita sering kali lebih mengenal versi seseorang yang ada di kepala kita daripada dirinya yang sebenarnya. Eui-ju menciptakan karakter berdasarkan orang-orang di sekitarnya. Ia mengambil potongan kecil dari kehidupan nyata, kemudian mengembangkannya menjadi cerita sesuai imajinasinya.

Masalahnya, ketika imajinasi sudah terlalu jauh, realitas bisa terasa mengecewakan. Seseorang yang kita bayangkan romantis ternyata biasa saja. Seseorang yang kita kira menyukai kita ternyata hanya bersikap baik. Dan seseorang yang kita pikir sedang memberikan kode tidak tahu kalau kita sudah membuat seribu teori.

Di sinilah Absolute Value of Romance menurut saya menjadi lebih dari sekadar drama tentang siswi yang punya khayalan romantis. Drama ini memperlihatkan fase ketika seorang remaja masih belajar membedakan antara apa yang diinginkan, apa yang dibayangkan, dan apa yang benar-benar terjadi.

Eui-ju punya dunia imajinasi yang sangat hidup. Menulis menjadi tempat baginya untuk mengekspresikan sesuatu yang mungkin sulit ia ungkapkan secara langsung. Dalam imajinasinya, ia memiliki kendali penuh terhadap cerita.

Namun kehidupan nyata tidak bekerja seperti novel. Tidak ada penulis yang bisa menentukan bagaimana seseorang akan merespons perasaan kita. Dan mungkin, inilah pelajaran kecil yang justru membuat drama ini menarik.

Kita boleh berkhayal. Tapi kita perlu mempelajari kapan harus kembali ke kenyataan. Sebab ketika khayalan mulai dianggap sebagai fakta, di situlah masalah bisa muncul. Apalagi bagi remaja yang sedang berada dalam fase mencari tahu siapa dirinya dan seperti apa hubungan yang sebenarnya ia inginkan.

Absolute Value of Romance juga terasa cocok dengan kehidupan anak muda sekarang yang semakin mudah membangun fantasi melalui media sosial. Kita bisa melihat seseorang setiap hari tanpa benar-benar mengenalnya. Padahal kita hanya mengenal versi dirinya yang ditampilkan.

Eui-ju mungkin menulis novel dari imajinasinya. Kita mungkin membuat cerita sendiri melalui apa yang kita lihat di media sosial. Bedanya hanya medianya.

Sudah menonton drama yang satu ini? Bagaimana pendapatmu?

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda