Ulasan
Ulasan Novel 'Partikel': Formula Hollywood di Balik Karya Dee Lestari
Ada kalanya kita menemukan buku setebal 500-an halaman, tapi pas dibaca rasanya sekelebat seperti antrian beli bensin lima menit. Novel “Partikel” karya Dee Lestari adalah contoh sahihnya, saya lahap habis hanya dalam waktu sepekan.
Coba bandingkan dengan novel pertamanya: “Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh” yang jauh lebih tipis, dulu butuh waktu berbulan-bulan bagi saya untuk menamatkannya. Perbedaan nasib dua buku ini bikin saya curiga: jangan-jangan, daya pikat yang membuat pembaca terlelap dalam cerita tampaknya bukan sekadar soal isi, melainkan kepiawaian penulis dalam meracik strukturnya.
Usut punya usut, Mbak Dee Lestari sendiri pernah membocorkan rahasia dapurnya. Dalam esainya yang terbit pada Senin (29/09/2021), ia bercerita bahwa perkenalannya dengan metode "15 Beats" bermula saat ia menggarap skenario film Perahu Kertas sekitar tahun 2010–2011. Di sanalah ia kepincut dengan rumus buatan Blake Snyder dalam buku legendaris Save the Cat!.
Struktur bercerita yang awalnya ditakuti bakal mengekang kreativitas, malah disulap oleh Dee menjadi fondasi bangunan cerita yang super kokoh. Nah, novel Partikel inilah yang menjadi kelinci percobaan sekaligus titik balik sejarah penulisannya. Pada tahun 2011, Dee nekat mengadaptasi rumus cetakan 15 Beats milik dunia skenario film ke dalam jagat penulisan novel. Hebatnya lagi, ia sampai telaten mengubah rumus proporsi halaman skenario menjadi hitungan jumlah kata (wordcount) dalam novel.
Sejak saat itu, buku-buku lahirannya selalu setia memakai panduan sakti tersebut. Jadi, menyebut Partikel sebagai novel pertama Dee yang ditulis pakai metode Save the Cat! itu adalah pengakuan jujur langsung dari sang arsitek ceritanya.
Struktur racikan itu langsung terasa lumer di mulut saat kita membaca seratus halaman pertama novel Partikel pakai kacamata rumus Save the Cat!. Di babak awal (Setup), Mbak Dee dengan telaten mengenalkan kita pada dunia Zarah: mulai dari kampung Batu Luhur, sosok Firas, Hara, pola pendidikan yang nyeleneh, urusan jamur (mikologi), hingga ikatan ayah-anak yang super lengket. Firas di sini disulap menjadi pusat gravitasi emosional yang bikin pembaca ikut ketar-ketir menggantungkan nasib padanya.
Lalu, bum! Babak pemicu (Catalyst) tiba-tiba meledak saat Firas mendadak hilang tanpa jejak. Kehidupan yang adem ayem langsung runtuh seketika, dan roda cerita resmi mendapatkan mesin penggerak utamanya, yakni Zarah harus angkat kaki demi mencari jawaban. Alur cerita pun sukses menyeret pembaca bertualang keluar dari Batu Luhur, menembus belantara Tanjung Puting demi konservasi orangutan, belajar dunia fotografi, hingga akhirnya terdampar di kota London.
Di sinilah keampuhan rumus 15 Beats bekerja dengan sangat anggun. Babak gerbang dunia baru (Break into Two) membuka lembaran petualangan yang segar, sementara babak bermain-main (Fun and Games) memberi ruang bagi pembaca untuk asyik menikmati perjalanan Zarah tanpa takut kehilangan arah kompas pencariannya.
Segala macam obrolan berat tentang dunia jamur, teknik foto, konservasi, spiritualitas, bahkan urusan makhluk extraterrestrial bisa masuk dengan mulus tanpa bikin pusing, semata-mata karena ceritanya punya jalur rel yang jelas dan kokoh. Saya sendiri suka menyebut struktur sakti ini sebagai safety net alias jaring pengaman, meski Mbak Dee lebih sreg menganggapnya sebagai fondasi bangunan penceritaan.
Tentu saja, struktur rapi tidak otomatis menyulap sebuah novel langsung jadi mahakarya. Ia tidak bisa menggantikan capeknya riset, kedalaman karakter, eloknya gaya bahasa, atau keliaran imajinasi. Namun, lewat Partikel, Mbak Dee berhasil menjewer kuping para penulis pemula tentang satu hal penting yang sering dilupakan: rancangan cerita (outline) itu fungsinya sebagai kompas penunjuk jalan, bukan borgol besi yang mengekang kreativitas.
Dalam esai yang sama, Mbak Dee menulis bahwa menguasai struktur justru memberinya kebebasan penuh untuk menari. Kalimat itu terbukti sahih pas kita tamat membaca Partikel. Ketika kerangka rumahnya sudah kokoh, si penulis bebas bermain apa saja di dalam ruangan.
Efeknya Mbak Dee bisa menyelundupkan satu ensiklopedia jamur tanpa bikin novelnya mendadak terasa sekaku buku kuliah, atau mengajak kita tersesat di hutan Kalimantan, studio foto, hingga ruang misterius tanpa takut kehilangan arah plotnya.
Barangkali, itulah rahasia ghaib kenapa novel Partikel punya daya magis yang terus-menerus memaksa tangan kita membalik halaman, karena ia sadar betul kalau cerita yang panjangnya bermeter-meter itu butuh ilmu struktur yang kuat. Alhasil, buku setebal lima ratus halaman itu bisa menjelma menjadi jalan setapak nan-indah yang tahu persis ke mana harus mengantar pembacanya.
Bagi kita-kita yang baru belajar meracik cerita, pelajaran dari novel Partikel ini sebenarnya adalah jangan buru-buru takut duluan sama yang namanya struktur. Imajinasi boleh saja liar melompat ke sana kemari, tapi ya tetap harus modal peta biar tahu jalan pulang.
Kalau tidak, novel kita bisa bernasib apes seperti orang luar kota yang sok tahu naik motor di Jogja tanpa menyalakan Google Maps: niat hatinya ingin melaju lurus ke utara, tahu-tahu motornya sudah bablas sampai ke pinggir pantai Bantul.