Ulasan
Buku Akhlak Nabi Muhammad: Pelita Hati, Menumbuhkan Budi Pekerti Sejak Dini
Membaca Buku Akhlak Nabi Muhammad: Pelita Hati membuat saya kembali diingatkan bahwa mengenal Nabi Muhammad SAW tidak cukup hanya dengan mengetahui perjalanan hidup dan sejarah perjuangan beliau. Lebih dari itu, yang jauh lebih penting adalah berusaha mengenal akhlaknya, kemudian membawa keteladanan itu ke dalam kehidupan sehari-hari.
Buku ini menghadirkan berbagai cerita sederhana tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Cerita-cerita tersebut dikemas dengan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami, terutama oleh anak-anak.
Namun, setelah saya menuntaskan buku ini, saya merasa pesan yang dibawanya tidak hanya cocok untuk anak-anak. Orang dewasa pun masih perlu membaca dan merenungkan kembali kisah-kisah tersebut.
Sebab, semakin bertambah usia, terkadang kita justru semakin mudah lupa bagaimana caranya bersikap lembut, menghargai orang lain, menyayangi tetangga, berlaku adil, dan membalas keburukan dengan kebaikan.
Ketika Keburukan Dibalas dengan Kebaikan
Di antara sekian cerita yang terdapat pada buku ini, yang paling menarik perhatian saya adalah kisah berjudul Air Tuba Dibalas dengan Air Susu.
Diceritakan, ada seorang tetangga Nabi Muhammad SAW yang sangat membenci dakwah beliau. Setiap Nabi Muhammad hendak pergi ke masjid, tetangga tersebut selalu menyiramkan air kepada beliau. Namun, suatu hari orang tersebut sakit dan tidak lagi melakukan kebiasaannya.
Hal yang menarik justru terjadi setelah itu. Nabi Muhammad SAW mencari tahu mengapa tetangganya tidak terlihat. Setelah mengetahui bahwa orang tersebut sedang sakit, beliau datang menjenguknya.
Saya membayangkan betapa terkejutnya orang tersebut. Orang yang selama ini ia sakiti justru menjadi orang pertama yang datang menjenguk ketika dirinya sakit. Teman-temannya bahkan belum datang menjenguknya. Akhlak Nabi Muhammad SAW akhirnya meluluhkan hatinya hingga ia meminta maaf dan masuk Islam.
Kisah tersebut ditulis dalam buku pada halaman 4. Sementara hikmah yang diberikan kepada pembaca pada halaman 5 terasa sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan keluargamu.” (hlm. 5).
Bagi saya hikmah ini memiliki makna yang dalam. Kita sering sibuk membangun hubungan dengan orang-orang yang jauh, tetapi lupa menjaga hubungan dengan orang yang setiap hari berada di sekitar rumah kita.
Padahal, ketika musibah datang, tetangga bisa menjadi orang pertama yang mengetahui dan memberikan pertolongan.
Akhlak Nabi yang Tidak Mengenal Pilihan Kasih
Buku ini juga memperlihatkan bagaimana Nabi Muhammad SAW memperlakukan orang-orang di sekitarnya dengan penuh kasih sayang dan keadilan. Keluarga, sahabat, hamba, tetangga, bahkan orang yang sebelumnya berbuat buruk kepada beliau mendapatkan perlakuan yang manusiawi.
Ada kisah tentang bagaimana Nabi Muhammad SAW menyayangi putrinya, merawat anak pamannya, memperhatikan para sahabat, dan menghargai kebaikan yang dilakukan orang lain, sekecil apa pun bentuknya.
Bagi saya, bagian ini penting karena kebaikan sering kita ukur berdasarkan besar-kecilnya sebuah perbuatan. Padahal, dalam kehidupan, perhatian kecil bisa memiliki arti besar bagi seseorang.
Senyum, menjenguk orang sakit, menyapa tetangga, membantu pekerjaan orang lain, menghargai pemberian, atau sekadar mendengarkan seseorang yang sedang berbicara merupakan hal-hal sederhana. Akan tetapi, dari perkara-perkara kecil itulah akhlak seseorang sering kali terlihat.
"Ummati! Ummati!” dan Cinta Nabi kepada Umatnya
Judul Ummati! Ummati! menjadi salah satu bagian yang menggambarkan betapa besar cinta Nabi Muhammad SAW kepada umatnya.
Cinta Nabi kepada umat tidak berhenti pada orang-orang yang hidup dekat dengan beliau. Bahkan menjelang akhir hayatnya, beliau masih memikirkan umatnya. Kisah seperti ini tentu menyentuh hati.
Saya sendiri ketika membaca bagian tersebut merasa seperti sedang diajak bercermin. Nabi Muhammad SAW begitu mencintai umatnya, sementara kita yang mengaku sebagai umatnya terkadang masih begitu mudah menyakiti sesama.
Dari itu, mencintai Nabi seharusnya tidak berhenti pada ucapan shalawat. Cinta tersebut semestinya diterjemahkan menjadi perilaku, seperti berbicara dengan baik, menghormati orang lain, menjaga perasaan, tidak mudah membenci, dan mau memaafkan.
Cerita Sederhana, Pelajaran yang Panjang
Salah satu kekuatan buku ini terletak pada cara penulis menyampaikan pesan. Kisah-kisahnya tidak dibuat rumit. Justru melalui cerita sederhana, pembaca diajak menemukan pelajaran akhlak yang sangat dekat dengan kehidupan.
Beberapa judul yang menarik di antaranya: “Air Tuba Dibalas dengan Air Susu,” “Ummati! Ummati!,” “Menyambut Gembira Bayi Perempuan,” “Merawat Anak Paman,” “Semua Tentangnya Menakjubkan,” dan “Wanita Tua Pembersih Masjid.”
Judul-judul tersebut seperti pintu kecil menuju pelajaran yang lebih besar. Anak-anak dapat menikmati ceritanya, sementara orang dewasa bisa menangkap pesan moral di baliknya.
Saya menyukai pola semacam ini. Nasihat tidak disampaikan dengan cara menggurui, melainkan melalui cerita yang membuat pembaca melihat sendiri bagaimana seharusnya akhlak itu dipraktikkan.
Penting Dibaca Generasi Muda
Menurut saya, buku ini memiliki relevansi yang kuat bagi generasi muda masa kini. Di tengah kehidupan yang semakin dekat dengan media sosial, anak-anak dan remaja setiap hari berhadapan dengan berbagai macam informasi.
Mereka bisa dengan mudah menemukan contoh perilaku yang baik, tetapi pada saat yang sama juga bisa menemukan perkataan kasar, perundungan, penghinaan, permusuhan, dan berbagai bentuk perilaku yang kurang baik.
Oleh karena itu, pendidikan akhlak tidak cukup hanya dengan memberi tahu mana yang benar dan mana yang salah. Anak-anak perlu diperkenalkan dengan sosok teladan yang konkret.
Nabi Muhammad SAW adalah salah satu teladan terbaik. Melalui kisah-kisah dalam buku ini, anak-anak tidak hanya diberi tahu bahwa mereka harus berbuat baik, tetapi juga diperlihatkan bagaimana kebaikan itu dilakukan.
Misalnya, bagaimana memperlakukan tetangga, menyayangi keluarga, menghargai perempuan, merawat kerabat, menghormati orang lain, serta membalas keburukan dengan kebaikan.
Nilai-nilai seperti ini justru semakin penting di zaman sekarang. Generasi muda membutuhkan kecerdasan, tetapi juga membutuhkan hati yang baik. Mereka membutuhkan pengetahuan, tetapi juga perlu memiliki adab.
Pelita yang Tidak Sekadar Dibaca
Setelah selesai membaca buku Akhlak Nabi Muhammad: Pelita Hati, saya merasa buku ini bukan sekadar kumpulan cerita tentang Nabi Muhammad SAW. Buku ini seperti pengingat agar kita tidak berhenti mengagumi akhlak Nabi, tetapi mulai mencoba menirunya.
Buku ini memang ditujukan untuk mengajarkan akhlak kepada anak-anak sejak dini. Namun, bagi saya, orang dewasa pun bisa mengambil banyak pelajaran darinya. Sebab, belajar akhlak tidak mengenal usia.
Ada kalanya kita sudah mengetahui banyak nasihat tentang kebaikan, tetapi tetap membutuhkan cerita sederhana untuk mengingatkan kembali hati yang mulai lelah dan keras.
Dari kisah seorang tetangga yang membenci Nabi, saya belajar tentang membalas keburukan dengan kebaikan. Dari kisah cinta Nabi kepada umatnya, saya belajar tentang kasih sayang. Dari cara beliau memperlakukan keluarga, sahabat, tetangga, dan orang lain, saya belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari kata-katanya, tetapi terutama dari caranya memperlakukan manusia.
Akhirnya, saya melihat judul Pelita Hati bukan sekadar pemanis. Kisah-kisah dalam buku ini memang dapat menjadi pelita kecil yang menerangi hati, terutama bagi anak-anak yang sedang belajar mengenal akhlak.
Namun, pelita itu baru benar-benar berguna jika cahayanya dibawa keluar dari halaman buku dan diterapkan dalam kehidupan.
Sebab, meneladani Nabi Muhammad SAW bukan hanya tentang mengetahui kisah beliau, melainkan tentang berusaha menghadirkan akhlaknya dalam diri kita (di rumah, di sekolah, di lingkungan masyarakat, dan bahkan di ruang digital).
Identitas Buku
- Judul: Buku Akhlak Nabi Muhammad: Pelita Hati
- Penulis: Bunda Maghfira, Depok Jawa Barat
- Penerbit: Cerdas Interaktif
- Cetakan: I, 2021
- Tebal: 45 Halaman
- ISBN: 978-979-788-935-7
- Genre: Pustaka Anak