Ulasan
Crying in H Mart, Ketika Makanan Menjadi Cara untuk Mengingat
Crying in H Mart adalah memoir karya Michelle Zauner, musisi dan penulis Korea-Amerika yang dikenal sebagai vokalis Japanese Breakfast. Diterbitkan pada tahun 2021, buku ini menceritakan hubungan Zauner dengan ibunya, Chongmi, sejak masa kecil hingga kematian sang ibu akibat kanker pankreas ketika Zauner berusia 25 tahun. Di antara semuanya, ada satu hal yang terus menghubungkan mereka, makanan Korea.
Buku ini dibuka dengan sebuah adegan sederhana, ketika Michelle berada di H Mart, supermarket yang menjual berbagai bahan makanan Asia, dan kemudian ia menangis. Sejak ibunya meninggal, pergi ke H Mart tak lagi terasa seperti sekadar belanja.
Setiap rak berisi kimchi, banchan, rumput laut, atau bahan makanan Korea lainnya. Ini seperti membawa Michelle kembali kepada ibunya. Ia tidak hanya sedang mencari makanan, ia sedang mencari bagian dari rumah dan masa kecilnya yang terasa ikut hilang bersama sang ibu.
Dari situ, cerita bergerak kembali ke masa kecil Michelle di Eugene, Oregon. Ia tumbuh sebagai anak dari ibu berkebangsaan Korea dan seorang ayah berkulit putih, sejak kecil hubungannya dengan ibunya memang tidak selalu mudah. Chongmi adalah ibu yang keras, sangat memperhatikan penampilan, kebersihan, makanan, dan banyak hal kecil dalam kehidupan Michelle. Saat kecil hingga remaja Michelle sering merasa dikekang dan beberapa kali memberontak.
Tapi di balik hubungan yang penuh gesekan itu, ada juga banyak momen kedekatan. Mereka rutin pergi ke Korea untuk mengunjungi keluarga. Michelle mengingat musim panas di Seoul, apartemen neneknya, dan makanan yang mereka makan bersama. Perlahan, makanan menjadi salah satu cara Michelle memahami ibunya dan identitas Koreanya.
Ketika beranjak dewasa, Michelle mulai hidup jauh dari rumah. Ia kuliah, bekerja, bermain musik, lalu membangun kehidupan bersama Peter, laki-laki yang kemudian menjadi suaminya. Semakin jauh ia pergi, semakin jauh pula hubungannya dengan budaya Korea yang dulu terasa begitu dekat dengannya. Sampai kemudian, ketika berusia 25 tahun, ibunya didiagnosis menderita kanker pankreas.
Michelle harus kembali ke rumah untuk merawatnya dan di sinilah memoir ini berubah. Makanan yang sebelumnya menjadi bagian dari kenangan masa kecil sekarang menjadi sesuatu yang jauh lebih menyakitkan. Michelle mencoba memasak makanan Korea untuk ibunya, berharap bisa membuatnya mau makan, sementara kondisi sang ibu semakin memburuk.
Tidak lama setelah itu, ibunya meninggal. Setelah pemakaman, Michelle tidak langsung menemukan cara untuk berdamai dengan kehilangan tersebut. Ia bertengkar dengan ayahnya, pergi berlibur ke Vietnam, bekerja di restoran pizza, dan mencoba memasak berbagai makanan. Tapi semuanya terasa kosong sampai suatu hari ia mencoba membuat makanan Korea dari resep Maangchi. Untuk pertama kalinya, makanan yang ia masak terasa seperti sesuatu yang pernah ia kenal.
Dari sana, memasak menjadi salah satu cara Michelle menjaga hubungan dengan ibunya. Ia belajar membuat kimchi dan berbagai hidangan Korea, kemudian berbulan-bulan setelah kematian ibunya ia kembali ke Korea bersama Peter. Di sana ia mengunjungi tempat-tempat yang dulu ingin didatangi bersama ibunya dan kembali bertemu dengan keluarga dari pihak ibunya.
Yang membuat Crying in H Mart begitu kuat sebagai buku tentang cara seseorang berduka adalah cara Zauner menunjukkan bahwa kehilangan tidak berhenti ketika seseorang meninggal. Justru setelah pemakaman selesai, kehidupan harus tetap berjalan. Kita tetap makan. Tetap bekerja. Tetap pergi ke supermarket. Tetap membuat makanan yang dulu dibuat bersama orang yang sudah tidak ada. Dan di situlah duka muncul kembali, sering kali dari hal-hal yang paling sederhana, seperti bau makanan, sebuah lagu, tempat tertentu, dan resep yang tiba-tiba terasa familiar.
Zauner tidak menggambarkan duka sebagai proses yang mudah dan rapi. Ia membiarkannya terlihat berantakan dan menunjukkan bahwa kadang cara kita bertahan justru dengan mencari orang yang sudah pergi melalui hal-hal yang masih ditinggalkannya.
Bagi Michelle, salah satunya adalah makanan. Hal tersebut yang membuat Crying in H Mart terasa begitu manusiawi, pada akhirnya, kita tidak benar-benar berhenti merindukan orang yang sudah tiada. Kita hanya belajar menemukan mereka dalam bentuk-bentuk kecil yang masih ada di sekitar kita.