Ulasan
Padmaavat: Saat Perempuan Memilih Lenyap daripada Jatuh ke Tangan Lelaki
Dunia ini memang bukan tempat yang aman untuk perempuan. Bayangkan saat perempuan harus menghadapi pilihan untuk menjatuhkan kehormatannya atau mati, pertanyaan ini menjadi inti cerita dari film Padmaavat (2018) karya Sanjay Leela Banshali.
Film yang dibintangi oleh Deepika Padukone sebagai Padmavati ini menceritakan seorang ratu Chittor yang hidup dalam obsesi Sultan Alauddin Khilji (Ranveer Singh) dari Kerajaan Delhi. Keinginan Alauddin untuk mendapatkan Padmavati kemudian membawa Chittor ke dalam peperangan. Ketika kekalahan Chittor di depan mata, Padmavati dan para perempuan di dalam benteng menghadapi kemungkinan menjadi tawanan.
Di situasi tersebut, sang ratu dan para perempuan istana melakukan usaha terakhir agar tak jatuh ke tangan musuh. Namun, apakah keputusan itu merupakan jalan terbaik? Atau justru menunjukkan bahwa perempuan tak memiliki banyak opsi?
Rani Padmavati Tak Lepas dari Objektifikasi Perempuan

Ratu Padmavati atau Rani Padmini hidup bahagia sebagai ratu Kerajaan Chittor bersama sang raja, Maharawal Ratan Singh (Shahid Kapoor). Kecantikannya termasyhur hingga ke seluruh negeri hingga sampai ke telinga Sultan Alauddin. Ia yang merupakan raja yang kuat percaya bisa menaklukkan kecantikan Padmavati untuk menjadi miliknya. Terlebih lagi, seorang pendeta istana menghasutnya bahwa mendapatkan Ratu Padmavati bisa memberinya keberuntungan.
Keinginannya ini berubah menjadi obsesi. Ia tak peduli apakah Padmavati sudah memiliki suami atau belum, Alauddin menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Hal ini yang menjadi awal peperangan antara Chittor dengan Delhi.
Jauhar sebagai Perlawanan Para Perempuan Istana

Saat pertempuran antara Delhi dan Chittor semakin sengit, Chittor mulai menghadapi kekalahan. Saat itu, para perempuan istana berada di bayang-bayang menjadi tawanan pihak lawan. Obsesi Alauddin terhadap Ratu Padmavati pun semakin dekat. Tak ingin kehormatannya hancur, ia mengambil keputusan untuk jauhar atau bakar diri yang diikuti oleh perempuan istana lainnya.
Di sisi lain, keputusan ini juga menunjukkan bahwa perempuan tak memiliki banyak pilihan. Mereka hanya dihadapkan pada pertanyaan: menjadi tawanan lawan atau mati. Di film ini, jauhar menjadi opsi ekstrem untuk mencegah tubuh para perempuan dimanfaatkan bahkan saat sudah mati.
Perempuan yang Ingin Menentukan Nasib Mereka Sendiri

Secara garis besar, film Padmaavat mengisahkan Ratu Padmavati, seorang figur ratu kuat yang selalu berusaha mempertahankan harga dirinya sebagai perempuan. Sejak menjadi incaran Alauddin, Padmavati tidak hanya menghadapi ancaman terhadap kerajaannya, tetapi juga ancaman terhadap dirinya sebagai perempuan yang diperlakukan seperti sesuatu yang bisa dimiliki.
Menurut saya, keputusan Padmavati untuk melakukan jauhar yang juga didukung oleh para perempuan istana merupakan pilihan terbaik. Cara ini merupakan satu-satunya cara agar jejak mereka benar-benar terhapus. Mereka sadar, meskipun mereka mati, tubuh yang masih tersisa tidak akan aman di tangan lelaki.