Ulasan

Rasisme di Like a Winding Sheet: Siapa yang Salah, Siapa yang Kena Marah?

Rasisme di Like a Winding Sheet: Siapa yang Salah, Siapa yang Kena Marah?
Cover Like a Winding Sheet (Argute Legacy)

Pernah nggak kamu marah-marah sama seseorang padahal bukan dia yang bikin kamu marah? Biasanya, kondisi ini dijalari dari amarah yang sudah menumpuk tapi tidak dikeluarkan. Menariknya, hal ini terjadi dalam cerpen klasik karya Ann Petry yang berjudul Like a Winding Sheet yang terbit dalam majalah The Crisis tahun 1945.

Cerpen ini mengisahkan Johnson, seorang pria Afrika-Amerika yang bekerja shift malam di sebuah pabrik. Ia tinggal bersama istrinya, Mae, yang periang dan suka bercanda.

Malangnya, Johnson seringkali menghadapi rasisme di lingkungannya karena fisiknya. Tekanan dan kemarahan yang terus menumpuk kemudian ikut memengaruhi hubungannya dengan orang terdekat. Di sinilah cerpen Like a Winding Sheet menjadi menarik untuk dibaca lebih jauh. Ketika seseorang menjadi korban rasisme, siapa yang harus disalahkan? Siapa yang harus menanggung tekanannya?

Serangan Rasisme yang Bertubi-tubi

Ilustrasi Seorang Pria Berjalan (unsplash/Clay Banks)
Ilustrasi Seorang Pria Berjalan (unsplash/Clay Banks)

Cerita dimulai saat Johnson akan berangkat bekerja untuk shift malamnya. Sayangnya, ia terlambat datang ke pabrik. Mrs. Scott, atasannya yang merupakan orang kulit putih, pun menegurnya. Tak hanya itu, ia bahkan mengeluarkan pernyataan tidak mengenakan menyangkut warna kulitnya. 

Mrs. Scott menggeneralisir bahwa orang-orang kulit hitam seperti Johnson pemalas. Ia bahkan tak segan-segan menyebut Johnson "nigger" sebuah panggilan yang berkonotasi negatif untuk orang kulit hitam.

Saat itu, Johnson sudah sangat ingin marah hingga memukul wajah Mrs. Scott. Tetapi, niat itu ia urungkan mengingat seorang laki-laki apalagi kulit hitam yang memukul perempuan akan dijatuhi hukuman yang cukup berat.

Setelah shift-nya berakhir, Johnson mampir di sebuah kedai kopi. Namun, saat tiba gilirannya untuk memesan, si penjual tiba-tiba bilang kalau kopinya sudah habis. Ia pun pulang dengan tangan kosong.

Ketika Kemarahan Dilampiaskan ke Orang yang Salah

Ilustrasi Saling Memarahi (unsplash/Afif Ramdhasuma)
Ilustrasi Saling Memarahi (unsplash/Afif Ramdhasuma)

Sesampainya di rumah, Johnson masih membawa amarahnya terhadap Mrs. Scott dan penjual kopi. Mae yang ingin menghibur Johnson melemparkan candaan kepadanya. Tetapi, Johnson tak merasa terhibur dengan itu. Ia justru menganggap Mae sedang mengolok-olok dirinya seperti Mrs. Scott atau penjual kopi. 

Sudah tidak tahan lagi, Johnson melampiaskan amarahnya pada Mae. Ia kehilangan kendali dan menyerang Mae. Ironisnya, Mae sebenarnya bukanlah orang yang menyebabkannya marah.

Jadi, Siapa yang Sebenarnya Salah?

Ilustrasi Sedang Berpikir (unsplash/Tachina Lee)
Ilustrasi Sedang Berpikir (unsplash/Tachina Lee)

Kalau melihat seluruh kejadian dalam Like a Winding Sheet, pertanyaan tentang siapa yang salah, apakah Johnson? Mrs. Scott? atau Mae? Ternyata jawabannya tidak sesederhana itu. 

Memang, Johnson adalah korban dari rasisme itu sendiri. Kemarahannya kepada Mrs. Scott juga valid. Namun, menurut saya, ini tidak membebaskannya dari tanggung jawab. Ketika ia salah menafsirkan tindakan Mae dan kemudian melakukan kekerasan kepadanya, korban rasisme baru saja tambah satu.

Ann Petry bukan mau menunjuk siapa yang salah dalam cerpen ini. Ia justru mengkritik diskriminasi rasisme yang sudah mengakar di Amerika masa itu. Ia juga ingin memperlihatkan bahwa rasisme tidak hanya melukai individu yang menjadi sasaran, tetapi dapat memengaruhi hubungan dan kehidupan orang-orang di sekitarnya. 

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda