Ulasan

Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri

Ulasan Film Pendek "Berdoa, Mulai": Mengurai Mayoritas di Sekolah Negeri
Poster film pendek Berdoa, Mulai. (Youtube/Degradians Studio)

Sepuluh menit lebih sedikit. Durasi yang rasanya terlalu singkat untuk menguliti urusan agama, identitas, toleransi, sampai hubungan mayoritas-minoritas. Namun, film pendek berjudul “Berdoa, Mulai” justru membuktikan kalau sinema tidak perlu memakai urat untuk membuat penontonnya merasa terusik.

Film karya Tanzilal Azizie yang dirilis tahun 2022 ini cuma berdurasi 10 menit 5 detik sebagaimana durasi yang terpampang di dinding youtube-nya. Tokoh utamanya bernama Ruth, seorang siswi Katolik yang mesti bertahan di tengah kepungan lingkungan sekolah yang mayoritas temannya Muslim.

Sejak menit pertama, kontras kehidupan Ruth langsung terpampang nyata lewat visual. Dia tampak mencolok sendirian di tengah barisan siswi lain yang memakai atribut keagamaan mayoritas. Menariknya, tidak ada adegan perundungan fisik yang brutal di sana. Justru karena suasananya adem-ayem saja, film ini malah terasa makin menyentil.

Ruth menjalani rutinitas sekolah dengan cara berkompromi pada kebiasaan yang lahir dari lingkungan mayoritas. Dia mencoba beradaptasi dan mengikuti ritme sekitarnya, bahkan harus rela angkat kaki pindah kelas hanya demi bisa mengikuti pelajaran agamanya sendiri karena sekolah tidak menyediakannya.

Kekuatan film ini justru muncul karena konfliknya tidak dibikin seperti pertandingan bola antara pahlawan dan penjahat. Tidak ada musuh yang mesti dipukuli oleh Ruth. Lawan yang dia hadapi rupanya adalah rutinitas harian yang terlanjur dianggap normal oleh orang, sesuatu yang jauh lebih licin daripada sekedar tokoh A melawan tokoh B.

Di sinilah konsep hegemoni milik Antonio Gramsci dalam Selections from the Prison Notebooks (1971) mendadak terasa dekat. Kata Gramsci, yang namanya hegemoni itu bekerja lewat persetujuan sosial yang halus, bukan melulu pakai otot atau paksaan fisik.

Bahasa gampangnya, sebagaimana dijelaskan juga dalam Stanford Encyclopedia of Philosophy, sesuatu bisa berkuasa mutlak justru karena orang banyak menganggapnya sebagai kewajaran yang biasa saja. Film ini sukses menerjemahkan teori yang njelimet itu ke dalam nasib sehari-hari Ruth. 

Adegan penutup film ini jadi pukulan yang paling telak. Kebiasaan dari sekolahnya itu ternyata tanpa sadar terbawa sampai ke meja makan di ruang keluarga Ruth sendiri. Film ini sama sekali tidak perlu berkhotbah panjang lebar cuma untuk memperlihatkan bagaimana identitas seseorang bisa luntur dengan lingkungan tempat dia tumbuh.

Secara sinematik, “Berdoa, Mulai” tampil cerdas karena memilih jalan kesederhanaan. Dengan durasi yang super irit, sutradara tidak buang-buang bensin untuk menceritakan masa lalu tokohnya. Lewat sorot mata, gestur canggung, rutinitas harian, dan perubahan kecil pada sikap Ruth, pesan getir itu terasa sampai ke ubun-ubun penonton.

Prestasi film pendek ini pun bukan kaleng-kaleng, mulai dari bertengger sebagai nominasi di Madani International Film Festival 2022, masuk Official Selection Jakarta Film Week 2022, hingga sukses menembus jajaran 30 Besar Festival Film Indonesia 2022.

Bagi saya, daya pikat utama “Berdoa, Mulai’ justru karena dia blak-blakan menyodori kita kenyataan bahwa seseorang bisa merasa baik-baik saja dan diterima di lingkungannya, sementara di saat bersamaan dia pelan-pelan belajar mengubur sebagian dari identitas aslinya.

Pada akhirnya, sinema ini adalah tentang perkara rebutan kapling ruang. Sebuah sentilan tentang bagaimana lingkungan seharusnya berlapang dada memberi kesempatan kepada seseorang untuk tetap teguh menjadi dirinya sendiri, tanpa harus dipaksa berubah wujud agar mirip dengan kelompok yang dominan.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda