Ulasan
Review Film Bad Apples: Apesnya Bocah Nakal Disandera Guru Sendiri
Bad Apples merupakan sebuah sinema komedi gelap besutan sutradara asal Swedia, Jonatan Etzler. Menandai debut penyutradaraannya dalam bahasa Inggris, Etzler menyuguhkan potret frustrasi dunia pendidikan lewat kacamata yang cukup nyeleneh dan penuh keputusasaan.
Mengambil latar sebuah sekolah dasar di kawasan Somerset, Inggris, film berdurasi 1 jam 40 menit ini mencoba membongkar kemunafikan sistem birokrasi sekolah. Penonton langsung disuguhkan atmosfer kelas yang penuh tekanan emosional, di mana batas antara dedikasi seorang guru dan gangguan jiwa menjadi sangat tipis akibat ulah satu murid nakal.
Hilangnya si "Bocah Setan" dari Ruang Kelas
Fokus utama cerita tertuju pada sosok Maria Spencer (Saoirse Ronan), seorang guru SD yang dikenal sangat berdedikasi dan penyabar. Ketenangan hidupnya hancur semenjak kedatangan Danny (Eddie Waller), murid berumur 10 tahun yang memiliki tabiat sangat kasar, manipulatif, bahkan tidak ragu melukai teman sekelasnya sampai patah tulang. Pihak kepala sekolah yang lepas tangan serta komplain tiada henti dari para orang tua murid membuat Maria berada di ujung tanduk stres berat.
Sebuah insiden pertengkaran hebat di luar jam sekolah mengubah segalanya secara instan. Dalam kondisi panik dan lelah mental, Maria secara tidak sengaja malah mengunci Danny di dalam ruang bawah tanah rumahnya sendiri. Bukannya buru-buru membebaskan anak itu, Maria mendadak bimbang karena melihat sebuah keajaiban: suasana kelasnya langsung berubah menjadi sangat damai dan murid-murid lain mulai berprestasi sejak Danny hilang.
Kondisi semakin di luar nalar ketika lingkungan sekitar dan kepolisian mulai menyelidiki hilangnya Danny. Menariknya, warga kota dan para orang tua murid seolah-olah kompak pura-pura buta dan tidak mau ambil pusing soal keberadaan bocah tersebut. Mereka merasa hilangnya sang pembuat masalah adalah berkah tersembunyi demi menjaga ketenangan lingkungan dan reputasi sekolah mereka.
Maria kini terjebak di tengah lingkaran kebohongannya sendiri yang makin membesar. Dia harus terus memberi makan tawanan kecilnya di ruang bawah tanah sembari menjaga topengnya sebagai guru teladan di sekolah. Premis absurd inilah yang membawa penonton masuk ke dalam dilema moral tentang seberapa jauh seseorang boleh berbuat jahat demi kebaikan kelompoknya.
Ulasan Film Bad Apples
Sejak awal, sutradaranya langsung memperlihatkan kontras yang menarik lewat adegan Maria yang dengan sabar mengajari Danny membaca di ruang bawah tanah menggunakan papan tulis kecil. Uniknya, di sisi lain, kaki Danny sebenarnya masih diikat dengan tali kekang hewan peliharaan.
Situasi penyanderaan yang seharusnya mengerikan malah dibuat seperti kegiatan belajar antara guru dan murid. Meski begitu, adegan ini tetap sukses bikin aku merinding, terutama karena tatapan sinis Eddie Waller yang memerankan Danny terasa pas sekali.
Di film ini, Saoirse Ronan juga menunjukkan sisi akting yang berbeda lewat perannya sebagai Maria. Salah satu adegan yang menurut aku paling menghibur adalah saat Maria panik menyembunyikan ember kotoran Danny karena ada tamu yang datang mendadak ke rumah. Ekspresi wajahnya berhasil membuat adegan itu agak lucu di tengah situasi yang sebenarnya tidak biasa.
Hebatnya, Ronan membuat karakter Maria tidak sekadar terlihat seperti penjahat murni. Dia lebih kelihatan seperti pekerja kelas bawah yang sudah terlalu lelah menghadapi keadaan, sampai akhirnya memilih cara paling nekat untuk menyelesaikan masalahnya.
Sentilan atau kritik sosialnya mulai terasa saat adegan rapat komite sekolah. Bukannya membahas Danny yang hilang, para orang tua di sana justru sibuk memperdebatkan dekorasi dinding kelas bertuliskan "This is a can-do classroom" hanya karena sekolah akan menghadapi inspeksi. Dari sini kita bisa melihat sindiran halus tapi menusuk: sekolah sering kali lebih peduli pada penampilan luar demi dinilai bagus, ketimbang memikirkan kondisi mental guru yang mengajar di sana.
Dari sisi visual, film ini memakai pergerakan kamera yang cenderung tidak banyak bergerak. Suasana lingkungan pinggiran Inggris yang hijau dan asri juga sengaja dibuat berlawanan dengan ruang bawah tanah Maria yang gelap dan sempit. Musik latarnya juga membantu membangun ketegangan menjelang akhir film.
Menjelang penutup, rahasia Maria akhirnya diketahui oleh salah satu orang tua murid. Namun, penyelesaiannya justru tidak berjalan mulus. Para orang tua malah melakukan pemungutan suara secara diam-diam untuk menentukan apakah Maria akan dilindungi atau dilaporkan kepada polisi.
Pilihan ini membuat akhir film terasa cukup mengejutkan bagi aku pribadi. Di satu sisi, tindakan Maria jelas salah secara hukum. Namun di sisi lain, keputusan para orang tua tersebut justru melempar teka-teki moral yang menarik ke penonton yaitu tentang di mana sebenarnya batas antara rasa simpati, solidaritas, dan keadilan. Sebuah penutup yang tidak biasa, tapi membuat film ini membekas lama setelah selesai nonton.
Buat Sobat Yoursay yang penasaran dan pengen nonton film Bad Apples, sekarang kamu sudah bisa langsung menyaksikannya di Prime Video!