Ulasan
Review Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, Saat Skala Sekuel Dipaksa Lebih Besar
Sekuel horor sering kali terjebak dengan ekspektasi, ketika yang pertama berhasil membuat penonton ketakutan sekaligus terkagum-kagum, film kedua merasa harus menghadirkan sesuatu yang lebih besar, ganas, dan lebih seru. Masalahnya, horor bukan perlombaan soal siapa yang paling besar skalanya. Yup, sekuel bisa kehilangan taringnya ketika terlalu banyak hal ingin ditunjukkan.
Hal itu menarik untuk melihat Film Kuasa Gelap: Perjanjian Darah, sekuel dari Kuasa Gelap (2024) yang kembali mempertemukan Romo Rendra dan Romo Thomas.
Film berdurasi ±117 menit ini disutradarai Rizal Mantovani, dengan skenario Robert Ronny dan Andri Cahyadi. Produksinya melibatkan Paragon Pictures, Ideosource Entertainment, dan Virtuelines Entertainment, sementara jajaran pemerannya diisi Lukman Sardi, Jerome Kurnia, Venly Arauna, Ferry Salim, Feby Febiola, Lydia Kandou, Sisca Saras, Keysha Angelica, Kiki Narendra, dan Faiz Vishal. Film ini tayang 8 Oktober 2026 dengan klasifikasi R13 dari LSF.
Dikisahkan setelah melewati kasus eksorsisme sebelumnya, Romo Rendra dan Romo Thomas kembali mendapat tugas menangani gangguan supranatural. Kali ini mereka datang ke desa pesisir di Jawa Timur setelah seorang pemuda bernama Daniel mengalami kejadian-kejadian aneh. Kondisinya semakin mengkhawatirkan karena tubuh Daniel mulai menunjukkan tanda-tanda misterius dan perilakunya berubah drastis.
Bagi Rendra, tempat tersebut membawa kenangan buruk. Wilayah itu memiliki kaitan dengan trauma masa lalunya, termasuk kematian seorang sahabat yang pernah menjadi korban kerasukan. Meski pengalaman tersebut kembali menghantui pikirannya, Rendra tetap menjalankan tugas bersama Thomas untuk melakukan ritual eksorsisme terhadap Daniel.
Penyelidikan mereka kemudian membawa pada fakta yang jauh lebih mengerikan. Daniel rupanya menjadi wadah bagi Rephaim, entitas iblis kuno yang berkaitan dengan perjanjian darah yang dibuat oleh leluhur. Perjanjian tersebut berhubungan dengan praktik pesugihan, ketika seseorang meminta kekayaan atau keuntungan dari kekuatan gelap dengan konsekuensi berupa pengorbanan nyawa.
Rephaim juga memiliki hubungan dengan para Fallen Angels dan berusaha memperluas pengaruhnya dengan menjadikan manusia sebagai pengikut. Gangguan yang semula berpusat pada Daniel akhirnya berubah jadi ancaman bagi orang-orang di sekitarnya. Rendra dan Thomas pun harus menghadapi serangkaian teror yang semakin brutal sekaligus berhadapan dengan ketakutan dan persoalan iman mereka sendiri.
Di tengah situasi yang semakin kacau, keduanya harus menemukan cara untuk memutus pengaruh Rephaim sebelum perjanjian darah tersebut kembali menelan korban. Sebab kali ini, yang dipertaruhkan bukan hanya keselamatan Daniel, melainkan juga nyawa warga desa yang ikut terseret ke dalam teror tersebut.
Ketika Horornya Harus Lebih Besar
Film pertama punya daya tarik yang cukup jelas: eksorsisme Katolik jadi pusat teror. Kali ini formula tersebut diperluas. Cerita memperkenalkan Rephaim, entitas kuno yang lahir dari perjanjian darah leluhur dan dikaitkan dengan pesugihan. Terornya pun tidak lagi berhenti pada satu keluarga, tetapi berkembang sampai mengancam wilayah yang lebih luas.
Secara konsep, langkah ini menjanjikan. Aku suka ketika sekuel berani membuka dunia yang lebih luas ketimbang sekadar mengulang formula pendahulunya. Apalagi film ini mencoba mempertemukan eksorsisme Katolik dengan kepercayaan tentang perjanjian darah dalam konteks budaya Indonesia. Secara konsep, perpaduan tersebut punya daya tarik yang jauh lebih menarik dibanding sekadar membuat iblis baru dengan wajah yang lebih menyeramkan.
Namun, di sinilah aku mulai mempertanyakan keputusan filmnya.
Sebab ketika ancaman berubah dari persoalan satu keluarga menjadi sesuatu yang dapat memengaruhi sebuah wilayah, rasa takut secara otomatis berisiko jadi lebih abstrak. Penonton nggak lagi hanya diajak takut ke nasib satu karakter, tapi berhadapan dengan ancaman yang jauh lebih besar dan konseptual.
Padahal, horor biasanya paling efektif ketika kita peduli terhadap satu karakter yang sedang berada dalam bahaya.
Film ini masih memiliki Daniel sebagai pusat ancaman. Dia dirasuki kekuatan kuno, sementara keluarganya harus menghadapi konsekuensi dari masa lalu. Romo Rendra pun mempunyai hubungan personal dengan keluarga tersebut, sehingga konflik sebenarnya tetap mempunyai fondasi emosional.
Namun, ketika Rephaim diperkenalkan sebagai entitas yang skalanya mampu mengancam seluruh wilayah, aku merasa filmnya jadi harus bekerja ekstra keras supaya ancaman besar itu nggak sekadar “level bos terakhir”.
Keputusan memperbesar dunia Kuasa Gelap juga terlihat dari aspek produksinya. Film ini hadir dalam format IMAX, bahkan dipasarkan pula dalam format pengalaman khusus seperti Magnify 8.
Aku nggak mempersoalkan ambisinya. Justru sebaliknya, film horor dari Indonesia memang layak punya produksi sebesar ini.
Layar IMAX bisa membuat visualisasi ritual eksorsisme terlihat jauh lebih besar. Tata suara juga bisa membuat dentuman dan jeritan terasa lebih dekat. Namun, ketakutan nggak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang suara kecil dari ruangan sebelah jauh lebih mengganggu daripada monster yang diperlihatkan terang-terangan.
Film ini jelas ingin memberikan pengalaman yang lebih besar dari pendahulunya. Akan tetapi, horor yang bagus bukan tentang seberapa jauh ancamannya menyebar, melainkan seberapa dekat ancaman itu terasa oleh penontonnya.
Karena itu, aku lebih tertarik pada pergulatan Rendra, Thomas, Daniel, dan keluarganya, ketimbang seberapa luas kekuasaan Rephaim. Bukan berarti film ini nggak layak tonton. Justru Sobat Yoursay harus nonton sebelum film ini turun layar. Selamat menonton.