Ulasan

Setangkai Melati di Sayap Jibril: Sastra Surealis, Spiritualitas, dan Kegelisahan Zaman

Setangkai Melati di Sayap Jibril: Sastra Surealis, Spiritualitas, dan Kegelisahan Zaman
Buku Setangkai Melati di Sayap Jibril karya Danarto (Divapress Online)

Usai menuntaskan buku kumpulan cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril karya Danarto ini, saya merasa seperti baru saja berkeliling ke berbagai dunia yang batas antara kenyataan, fantasi, dan spiritualitasnya sengaja dibuat kabur.

Sejak pertama kali melihat judulnya, saya sudah tertarik. Setangkai melati yang bertengger di sayap Jibril menghadirkan kesan puitis sekaligus misterius. Ada nuansa religius, mistis, dan surealis yang membuat saya penasaran sebelum membuka halaman pertama. Rasa penasaran itulah yang akhirnya mendorong saya membeli buku terbitan Diva Press ini.

Namun, ketertarikan terhadap judul ternyata baru pintu masuk. Di baliknya, Danarto menawarkan pengalaman membaca yang tidak selalu mudah, tetapi justru menarik untuk ditelusuri.

Kenyataan Tidak Lagi Menjadi Batas

Di antara hal yang paling menonjol dari kumpulan cerpen ini adalah keberanian Danarto mempertemukan dunia nyata dengan sesuatu yang di luar kebiasaan manusia. Malaikat dapat hadir dalam kehidupan sehari-hari, pohon bisa menjadi bagian penting dari peristiwa yang ganjil, dan sebuah garasi dapat menyimpan misteri yang sulit dijelaskan dengan logika biasa.

Keanehan tersebut tidak selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang harus ditakuti. Dalam sejumlah cerita, tokoh-tokohnya justru menanggapi peristiwa luar biasa dengan sikap yang terkesan biasa saja.

Bagi saya, di sinilah letak keunikan Danarto. Ia tidak selalu meminta pembaca membuktikan apakah sebuah kejadian masuk akal. Sebaliknya, ia mengajak kita menerima dunia cerita sebagaimana adanya, kemudian mencari makna di balik peristiwa tersebut.

Cerpen Setangkai Melati di Sayap Jibril, misalnya, menghadirkan gambaran seorang kiai yang menemukan bunga melati di atas sajadahnya. Ia menghubungkan bunga tersebut dengan Malaikat Jibril. Ketika sosok malaikat hadir dalam cerita, peristiwa itu tidak dibangun dengan kegemparan berlebihan.

Saya menangkap bahwa Danarto sengaja meruntuhkan batas antara pengalaman spiritual dan kehidupan sehari-hari. Hal yang bagi sebagian orang terasa mustahil justru menjadi bagian dari kewajaran dunia cerita.

Kecenderungan ini membuat saya teringat pada realisme magis, meskipun karya Danarto tidak harus dimasukkan secara kaku ke dalam satu genre. Cerpen-cerpennya juga memiliki corak fantasi, surealisme, dan sufisme yang saling berkelindan. Hasilnya adalah dunia sastra yang sulit ditebak, tetapi menyimpan banyak kemungkinan penafsiran.

Membaca Danarto Membutuhkan Imajinasi dan Kesabaran

Terus terang, saya beberapa kali mengalami kebingungan ketika membaca buku ini. Danarto tidak selalu memulai cerita dari pengenalan tokoh atau latar yang jelas. Ia kerap membawa pembaca langsung ke tengah peristiwa, ketika konflik sudah berlangsung dan situasi terasa ganjil.

Akibatnya, saya harus menyusun sendiri gambaran tentang apa yang mungkin terjadi sebelumnya. Pembaca tidak cukup hanya mengikuti alur, tetapi juga perlu mengaktifkan imajinasi untuk menghubungkan berbagai potongan cerita.

Danarto sering memberikan kejutan pada bagian akhir. Namun, kejutan tersebut tidak selalu berupa plot twist yang mengubah cerita secara mendadak. Dalam beberapa cerpen, akhir cerita justru membuat saya kembali mengingat judulnya, memikirkan ulang peristiwa yang sudah dibaca, lalu menyusun tafsir yang berbeda.

Dengan kata lain, akhir cerita bukan sekadar tempat untuk menyelesaikan persoalan. Bagian tersebut menjadi kesempatan bagi pembaca untuk meninjau kembali pemahamannya sendiri.

Menurut saya, teknik semacam ini menunjukkan bahwa membaca sastra tidak selalu tentang mencari jawaban yang benar. Terkadang, proses memahami sebuah cerita justru lebih penting daripada menemukan satu kesimpulan yang dianggap paling tepat.

Dari Firaun hingga Palestina, Ceritanya Melintasi Zaman

Kekuatan lain buku ini terletak pada keragaman tema. Danarto tidak membatasi imajinasinya pada kehidupan sehari-hari atau persoalan spiritual semata. Ia mengajak pembaca melintasi beragam ruang dan zaman, mulai dari kisah yang berhubungan dengan nabi-nabi, dunia pewayangan, konflik sosial, tragedi kemanusiaan, hingga gambaran masa depan yang dipenuhi teknologi.

Keragaman tersebut membuat setiap cerpen terasa memiliki pintu masuk yang berbeda. Kita tidak hanya berhadapan dengan satu jenis konflik atau satu cara bercerita. Kadang-kadang, kita diajak merenungkan persoalan ketuhanan dan kekuasaan. Pada kesempatan lain, kita dibawa ke suasana apokaliptik yang menyerupai film fiksi ilmiah.

Cerpen Jakarta 2020 Atawa Holobot, misalnya, memperlihatkan ketertarikan Danarto terhadap imajinasi futuristik melalui gambaran kota yang dikuasai robot. Bagi saya, cerita semacam ini menunjukkan bahwa imajinasi Danarto tidak berhenti pada mitologi atau dunia mistis. Ia juga berani membayangkan perubahan kehidupan manusia akibat perkembangan teknologi.

Sementara itu, Lempengan-Lempengan Cahaya mengangkat situasi darurat yang berkaitan dengan Palestina. Saya cukup kagum ketika menyadari bahwa persoalan Palestina telah menjadi bagian dari imajinasi sastra Danarto sejak lama. Cerita tersebut mengingatkan saya bahwa sastra dapat melampaui batas geografis dan generasi, sekaligus menjadi ruang untuk merekam kepedulian terhadap penderitaan manusia.

Tema-tema yang beragam ini membuat buku tersebut tidak cepat terasa monoton. Meski demikian, perpindahan isu dan suasana yang begitu cepat terkadang membuat hubungan antarelemen cerita sulit ditangkap. Saya harus membaca dengan lebih teliti agar tidak kehilangan arah.

Lima Cerpen yang Paling Membekas bagi Saya

Dari sekian banyak cerita dalam buku ini, terdapat lima cerpen yang paling membekas dalam ingatan saya. Masing-masing menawarkan pengalaman membaca yang berbeda.

1. Paris Nostradamus

Cerpen ini menjadi salah satu cerita fantasi paling menarik bagi saya. Imajinasi yang liar, suasana apokaliptik, dan rangkaian peristiwa yang tidak biasa membentuk pengalaman membaca yang terasa surealis. Ketidakteraturan cerita justru menjadi bagian dari daya tariknya.

2. Surga dan Neraka

Cerpen ini menarik perhatian saya karena menghadirkan Firaun dalam pembicaraan mengenai kekuasaan, ketuhanan, serta konsep surga dan neraka. Cerita tersebut tidak berhenti pada persoalan religius, tetapi membuka ruang untuk mempertanyakan hubungan antara kekuasaan, moralitas, dan klaim kebenaran.

Melalui tokoh dan konflik yang dihadirkan, saya melihat kemungkinan pembacaan yang lebih luas, bahwa bagaimana jika kekuasaan merasa berhak menentukan segala sesuatu, bahkan hal-hal yang seharusnya tidak menjadi miliknya?

3. Cermin yang Menguap

Cerpen ini mengangkat tragedi Semanggi dan menarik bagi saya karena cara Danarto mengolah peristiwa serta menyusun bagian akhirnya. Pembaca seakan-akan diarahkan menuju pemahaman tertentu, kemudian dibuat meninjau kembali apa yang sebelumnya dianggap sudah jelas.

Menurut pandangan saya, cerita ini memperlihatkan bahwa eksperimen bentuk dapat menjadi cara untuk menghadirkan kegelisahan, bukan sekadar permainan alur.

4. Lempengan-Lempengan Cahaya

Kisah yang berkaitan dengan Palestina ini memberikan dimensi kemanusiaan yang kuat di tengah keragaman dunia imajinatif Danarto. Persoalan yang dibicarakan tidak berhenti sebagai latar cerita, tetapi mengundang pembaca untuk memikirkan penderitaan, harapan, dan nasib manusia yang berada dalam situasi darurat.

5. Garasi

Cerpen ini terasa kontemporer, penuh misteri, dan sangat imajinatif. Gagasan tentang lubang energi yang membuat orang-orang menghilang menghadirkan suasana ganjil sekaligus memancing rasa ingin tahu.

Namun, di balik nuansa mistis dan surealisnya, saya juga menangkap kemungkinan pembacaan tentang keluarga dan cinta kasih. Cerita ini meninggalkan pertanyaan yang tidak langsung selesai ketika halaman terakhirnya dibaca. Justru pertanyaan itulah yang membuatnya bertahan lebih lama dalam ingatan saya.

Sufisme dan Kearifan Lokal yang Mengalir dalam Cerita

Meskipun Danarto banyak bermain dengan fantasi, tulisannya tidak kehilangan pijakan pada kehidupan manusia. Unsur sufistik terasa menjadi salah satu benang merah yang menghubungkan berbagai cerita dalam buku ini.

Spiritualitas dalam karya Danarto tidak selalu disampaikan melalui nasihat panjang atau penjelasan yang gamblang. Ia justru membaurkannya ke dalam peristiwa ganjil, simbol, percakapan, dan pengalaman para tokohnya. Pembaca diberi ruang untuk menemukan sendiri kemungkinan makna yang tersembunyi.

Di samping itu, kearifan lokal Indonesia, terutama budaya Jawa, terasa cukup kuat. Danarto menggunakan istilah, ungkapan, dan peribahasa yang mungkin tidak akrab bagi semua pembaca. Sebagai pembaca yang juga mengenal bahasa dan budaya Jawa, saya merasa penggunaan unsur lokal tersebut memberikan warna tersendiri.

Ungkapan wong Jowo ojo ilang Jowone terasa relevan untuk menggambarkan pentingnya menjaga akar kebudayaan di tengah perubahan zaman. Meski begitu, kekayaan bahasa lokal ini juga menuntut pembaca untuk lebih teliti. Pada beberapa bagian, saya perlu memikirkan ulang istilah yang digunakan agar dapat menangkap konteksnya dengan lebih baik.

Gaya bahasa Danarto juga memiliki sisi puitis. Kalimat-kalimatnya terkadang berima, mengalun, dan terasa nikmat ketika dibaca keras-keras. Pada bagian lain, penggambaran adegannya begitu visual sehingga saya dapat membayangkannya seperti menyaksikan potongan film fantasi atau fiksi ilmiah.

Bagi saya, perpaduan antara spiritualitas, budaya lokal, dan kebebasan berimajinasi inilah yang membuat kumpulan cerpen tersebut memiliki karakter kuat.

Relevan bagi Generasi Muda: Berani Berpikir di Luar Kebiasaan

Di tengah kebiasaan membaca yang semakin cepat, ketika banyak orang terbiasa menikmati cerita pendek melalui unggahan media sosial atau video berdurasi singkat, Setangkai Melati di Sayap Jibril menawarkan pengalaman yang berbeda. Buku ini tidak selalu bisa dinikmati sambil lalu. Beberapa cerita membutuhkan konsentrasi, kesabaran, dan kesediaan untuk membaca ulang. Menurut saya, justru di situlah relevansinya bagi generasi muda masa kini.

Pertama, buku ini mengajarkan keberanian berimajinasi. Danarto menunjukkan bahwa cerita tidak harus selalu bergerak dalam pola yang mudah ditebak. Penulis muda dapat belajar bahwa imajinasi tidak perlu dibatasi oleh rumus cerita yang seragam, selama pilihan artistik tersebut tetap memiliki tujuan dan daya tarik.

Kedua, buku ini melatih pembaca untuk berpikir kritis. Cerita yang membingungkan tidak harus langsung dianggap gagal dipahami. Pembaca dapat bertanya, mencari petunjuk, membandingkan tafsir, dan menyusun pemahaman sendiri. Sikap semacam ini penting di tengah banjir informasi yang sering kali menuntut kita mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa.

Ketiga, buku ini mengingatkan bahwa persoalan kemanusiaan, spiritualitas, dan kebudayaan tetap layak dibicarakan melalui sastra. Perkembangan teknologi boleh semakin cepat, tetapi pertanyaan mengenai kekuasaan, keadilan, penderitaan, dan hubungan manusia dengan Tuhan tidak serta-merta kehilangan relevansinya.

Menurut saya, generasi muda tidak harus menyukai semua cerita dalam buku ini. Namun, mencoba membacanya dapat menjadi latihan untuk keluar dari zona nyaman, terutama bagi mereka yang ingin mengenal sastra Indonesia dengan pendekatan yang lebih berani dan eksperimental.

Kekurangan yang Tetap Perlu Dicatat

Meski menjadi salah satu kumpulan cerpen yang berkesan bagi saya, buku ini bukan tanpa kekurangan. Beberapa bagian terasa membingungkan karena perpindahan peristiwa, tokoh, atau gagasan yang begitu cepat. Tidak semua cerita memberikan petunjuk yang cukup jelas untuk membantu pembaca memahami arah narasinya.

Bagi pembaca yang terbiasa dengan alur kronologis, konflik yang tertata rapi, dan penyelesaian yang tegas, gaya Danarto mungkin terasa melelahkan. Ada kalanya saya harus berhenti sejenak, kembali ke paragraf sebelumnya, lalu mencoba menghubungkan berbagai kejadian.

Selain itu, pada edisi yang saya baca, terdapat beberapa salah ketik yang cukup mengganggu. Saya juga menemukan ketidaksesuaian pada daftar isi karena salah satu cerpen tidak tercantum di dalamnya. Hal-hal tersebut memang tidak menghapus kualitas sastra karya Danarto, tetapi tetap menjadi catatan bagi penerbit agar penyuntingan dan pemeriksaan naskah dilakukan lebih cermat.

Meski begitu, kekurangan teknis tersebut tidak membuat saya kehilangan ketertarikan terhadap isi buku. Justru setelah melewati cerita-cerita yang menantang, saya semakin menyadari bahwa karya ini memiliki kekhasan yang sulit disamakan begitu saja dengan kumpulan cerpen lain.

Identitas Buku

  • Judul: Setangkai Melati di Sayap Jibril
  • Penulis: Danarto
  • Penerbit: Diva Press
  • Cetakan: I, 2016
  • Tebal: 436 Halaman
  • ISBN: 978-602-279-204-8
  • Genre: Sastra / Kumpulan Cerpen

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda