Ulasan
Di Balik Tragedi Attack on Titan: Mengurai Dilema Kebebasan Eren Yeager
Belakangan ini saya baru saja menonton ulang Attack on Titan bersama teman. Awalnya cuma buat cari hiburan saja, tapi dasar kepala manusia, tontonan seru begini malah jadi ruang sidang perdebatan. Obrolan yang tadinya renyah mendadak berbelok membahas takdir, moralitas, sampai isi kepala si tokoh utama Eren Yeager yang cita-citanya kelewat tinggi.
Eren ini paling alergi dikurung, sebagaimana halaman rumahnya yang terkurung di dalam tembok. Baginya, manusia yang pasrah hidup di balik tembok itu tidak ada bedanya dengan ternak yang pasrah menunggu ajal. Semangat berontaknya ini sekilas mirip konsep Ubermensch ala Friedrich Nietzsche, tipe manusia yang ogah disetir aturan lama dan memilih bikin jalannya sendiri.
Meskipun begitu, jangan salah kaprah dulu. Konsep Nietzsche sebenarnya tidak mengajari kita jadi jagoan kelas yang hobi menindas yang lemah. Kalau mau sedikit ilmiah, Stanford Encyclopedia of Philosophy menyebut ada yang namanya will to power, sebuah kekuatan buat menaklukkan diri sendiri dari kerangkeng keterbatasan. Lucunya, Eren yang awalnya cuma ingin bebas-merdeka, lama-lama malah jadi bengis menyetir seluruh dunia.
Puncak ironisnya ini terasa ketika Eren, Mikasa, dan Armin akhirnya sukses injak kaki di tepi pantai pada akhir musim ketiganya. Sejak kecil, mereka terobsesi dengan laut, mereka memandang bahwa laut itu lambang paling bebas untuk manusia.
Apesnya, ketika impian itu tercapai di depan matanya, rasanya malah hambar, tidak seperti ketika mereka kecil dulu. Begitu menatap cakrawala, Eren sadar kalau di sebalik lautan ini masih ada musuh-musuh lain yang harus ia lawan. Bahkan Kodansha, penerbit resminya, sempat menyentil bahwa di balik riak ombak, ancaman yang menunggu mereka ternyata jauh lebih besar ketimbang rombongan raksasa yang selama ini menjadi musuhnya.
Seketika itu juga, laut yang tadinya jadi simbol harapan malah berbalik jadi tembok baru pemisah antara cinta dan tragedi. Eren sebagai pemegang teguh kebebasan mulai berpikir bahwa cara terbaik menyelamatkan rumahnya adalah dengan meratakan siapa pun di seberang sana yang dianggap mengganggu.
Musim terakhir pun mempertontonkan ujung dari logika ekstrem ini. Lewat Rumbling-nya, si Eren justru nekat memilih jalan pintas pembantaian massal demi melindungi kawan-kawannya. Dia bukannya tidak tahu kalau kelakuannya itu sadis, dia tahu betul, tapi ya tetap dia gas terus.
Niat hati ingin bebas dari penindasan, tapi ujung-ujungnya malah dia sendiri yang jadi penindas kelas kakap demi melegitimasi penderitaan orang lain. Pada titik inilah konsep amor fati dari Friedrich Nietzsche menjadi menarik untuk kita bedah pelan-pelan. Bagi Nietzsche, konsep ini intinya adalah berdamai dan merayakan segala apa yang terjadi dalam hidup.
Payahnya, Eren malah memakai ramalan masa depan yang dilihatnya sebagai pemilik takdir menuju kehancuran. Gara-gara ingatan antargenerasi Titan yang silang sengkarut itu, Eren malah terjebak di labirin buatannya sendiri. Dia yang pegang kemudi, tapi dia juga yang menjadi sandera dari skenario yang diraciknya.
Pada akhirnya, tragedi Eren adalah kisah yang sebetulnya menyenggol kita tentang bagaimana kebebasan yang kebablasan tanpa moral bisa berujung jadi gaya-gaya fasisme yang nafsu mendominasi. Tembok penjara yang dulu dia benci setengah mati, sekarang malah pindah dan tumbuh subur di dalam kepalanya sendiri.
Eren Yeager memang sukses meruntuhkan tembok pembatas dunia, tapi dia sendiri keok dan gagal merdeka dari ambisinya. Sungguh ironis, kebebasan yang seharusnya memberi ruang untuk hidup, malah dijadikan pembenaran buat mematikan kehidupan orang lain.