Ulasan

Samjin Company English Class: Perjuangan Naik Jabatan yang Tidak Biasa

Samjin Company English Class: Perjuangan Naik Jabatan yang Tidak Biasa
Samjin Company English Class (Instagram/@viuphilippines)

Apakah kamu punya pengalaman yang membuatmu merasa sudah bekerja keras, terus belajar, dan berusaha memberikan yang terbaik, tetapi kesempatan justru diberikan kepada orang lain yang dianggap lebih layak

Bukan karena hasil kerjamu buruk, melainkan karena latar belakang pendidikan, gender, atau posisi yang membuatmu seolah tidak punya cukup nilai di mata perusahaan. Rasanya menyebalkan, apalagi ketika kita tahu bahwa kemampuan seseorang seharusnya tidak hanya diukur dari gelar yang tercantum di ijazahnya.

Persoalan inilah yang menjadi salah satu inti dari Samjin Company English Class (2020), film Korea garapan Lee Jong-pil yang mengangkat perjuangan tiga perempuan kantoran menghadapi diskriminasi dan korupsi di tempat kerja.

Berlatar Korea Selatan pada 1995, film ini mengikuti Lee Ja-young, Jung Yu-na, dan Shim Bo-ram, tiga karyawan perempuan yang telah bekerja selama delapan tahun di Samjin Company. Meski memiliki kemampuan masing-masing, mereka masih ditempatkan pada posisi rendah karena hanya lulusan SMA.

Kesempatan promosi akhirnya muncul ketika perusahaan mengumumkan bahwa karyawan yang memperoleh nilai TOEIC minimal 600 berpeluang naik jabatan. Ketiganya pun mengikuti kelas bahasa Inggris dengan harapan bisa memperbaiki karier.

Namun, semuanya berubah ketika Ja-young menemukan dugaan pembuangan limbah berbahaya oleh perusahaan ke sungai. Bersama kedua sahabatnya, ia berusaha mengungkap kebenaran, meski harus berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuasaan lebih besar.

Menariknya, film ini tidak berhenti pada perjuangan mendapatkan promosi. Ada persoalan yang jauh lebih besar, yaitu tentang bagaimana jika perusahaan yang selama ini menjadi tempat kita mencari nafkah ternyata melakukan sesuatu yang merugikan banyak orang?

Di sinilah cerita mulai terasa relevan dengan dunia kerja sekarang. Kita sering membicarakan pentingnya kompetensi, produktivitas, dan pengembangan diri. Sertifikat ditambahkan ke CV, kemampuan baru dipelajari, dan pengalaman kerja terus dikumpulkan. Namun, apakah semua itu selalu menjamin kesempatan yang adil?

Dalam film ini, kemampuan para tokoh perempuan sebenarnya tidak pernah benar-benar hilang hanya karena mereka tidak memiliki gelar sarjana. Mereka mampu berpikir kritis, menyelesaikan masalah, dan memahami pekerjaan yang mereka lakukan. Sayangnya, lingkungan kerja mereka lebih sibuk menilai latar belakang daripada melihat kemampuan nyata.

Tentu, pendidikan tetap penting. Namun, pendidikan seharusnya menjadi salah satu pertimbangan, bukan alasan untuk mengabaikan kompetensi seseorang. Film ini mengingatkan bahwa pengalaman, keterampilan, dan kontribusi nyata juga layak mendapatkan pengakuan.

Hal lain yang membuat film ini menarik adalah gambaran tentang perempuan di tempat kerja. Ja-young, Yu-na, dan Bo-ram memiliki kepribadian berbeda, tetapi mereka sama-sama harus menghadapi lingkungan yang membatasi ruang gerak mereka.

Mereka bukan tokoh yang selalu percaya diri atau langsung berani melawan ketidakadilan. Ada keraguan, ketakutan kehilangan pekerjaan, dan konsekuensi yang harus dipikirkan. Justru karena itulah perjuangan mereka terasa manusiawi. 

Persahabatan ketiganya juga menjadi kekuatan. Mereka saling melengkapi dengan kemampuan masing-masing dan membuktikan bahwa persaingan tidak harus membuat kita saling menjatuhkan. Ketika sistem berusaha membuat mereka tetap berada di posisi bawah, solidaritas memberi mereka keberanian untuk bergerak bersama.

Dari segi penyajian, Samjin Company English Class mengemas isu diskriminasi, korupsi perusahaan, dan pencemaran lingkungan melalui perpaduan drama, komedi, serta investigasi yang cukup menghibur. Alurnya relatif mudah diikuti dan beberapa perkembangan ceritanya memang bisa ditebak.

Namun, kekuatan film ini terletak pada karakter-karakternya dan pesan yang disampaikan tanpa membuat keseluruhan cerita terasa terlalu berat. Pada akhirnya, film ini membuat saya berpikir bahwa bekerja bukan sekadar soal mendapatkan gaji, naik jabatan, atau mengumpulkan pengalaman untuk mempercantik CV. Ada nilai-nilai yang seharusnya tidak kita tinggalkan hanya demi mempertahankan posisi.

Kita memang perlu realistis. Tidak semua orang punya kemewahan untuk mempertaruhkan pekerjaannya demi sesuatu yang dianggap benar. Namun, ketika ketidakadilan terjadi, keberanian tidak selalu berarti menghadapi semuanya sendirian.

Terkadang, keberanian dimulai dari menyadari bahwa kita tidak harus diam, dan bahwa perubahan bisa dimulai ketika orang-orang yang mengalami hal serupa saling mendukung. Sebab, jabatan bisa menunjukkan posisi seseorang di perusahaan, tetapi tidak selalu menunjukkan seberapa besar kemampuan dan keberaniannya.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda