Ulasan

Review Microhabitat: Haruskah Kita Miskin untuk Bisa Hidup Bahagia?

Review Microhabitat: Haruskah Kita Miskin untuk Bisa Hidup Bahagia?
Microhabitat (Instagram/filmquote_)

Kamu pasti pernah menghitung pengeluaran bulanan sambil bertanya-tanya, sebenarnya hidup ini kita jalani untuk apa. Gaji habis untuk membayar kebutuhan, keinginan pribadi harus ditunda, dan setiap keputusan terasa seperti memilih sesuatu yang harus dikorbankan.

Katanya, kita bekerja supaya bisa hidup nyaman. Akan tetapi, bagaimana kalau semakin keras kita bekerja, semakin sedikit pula waktu dan kesempatan untuk menikmati hidup?

Pertanyaan semacam itu terasa dekat dengan Microhabitat (2017), film Korea karya Jeon Go-woon yang dibintangi Esom sebagai Miso. Film ini mengikuti seorang perempuan berusia 30-an yang bekerja sebagai petugas kebersihan rumah dan memiliki tiga hal sederhana yang membuatnya bahagia, yaitu rokok, segelas wiski, dan kekasihnya.

Ketika harga rokok dan biaya sewa tempat tinggal meningkat, Miso mengambil keputusan yang tidak biasa. Alih-alih melepaskan hal-hal yang disukainya, ia memilih meninggalkan tempat tinggalnya dan menumpang di rumah teman-teman lamanya.

Kalau dipikir-pikir, keputusan Miso memang terdengar tidak masuk akal. Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, bukankah tempat tinggal seharusnya menjadi prioritas? Namun, justru dari keputusan itulah film ini mengajak kita mempertanyakan sesuatu, siapa yang sebenarnya berhak menentukan standar hidup yang dianggap benar?

Miso bukan orang yang tidak mau bekerja. Ia mencari nafkah, mengatur pengeluaran, dan memahami keterbatasan keuangannya. Masalahnya, penghasilannya tidak cukup untuk mempertahankan seluruh hal yang ia anggap penting ketika biaya hidup terus meningkat.

Ia pun harus memilih antara mengikuti standar kehidupan yang dianggap wajar atau mempertahankan kebahagiaan kecil yang masih bisa ia nikmati. Situasi ini terasa relevan dengan kehidupan sekarang. Banyak orang bekerja keras demi membayar tempat tinggal, transportasi, makanan, dan berbagai tagihan.

Setelah semua kebutuhan terpenuhi, terkadang hanya tersisa sedikit uang untuk menikmati hasil kerja sendiri. Bahkan, tidak sedikit orang yang merasa bersalah ketika mengeluarkan uang untuk sesuatu yang sebenarnya mereka sukai.

Kita sering mendengar nasihat untuk hidup hemat, mengurangi keinginan, dan lebih realistis. Nasihat itu tentu tidak salah. Namun, film ini mengingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang bertahan sampai akhir bulan. Ada kebutuhan emosional yang juga membuat seseorang merasa bahwa hidupnya layak dijalani.

Meski begitu, bukan berarti keputusan Miso harus dianggap sebagai solusi ideal. Kehilangan tempat tinggal tetap membawa risiko dan ketidakpastian. Justru di sinilah film ini terasa menarik, kita bisa memahami pilihannya tanpa harus sepenuhnya menyetujuinya. 

Perjalanan Miso mengunjungi teman-teman lamanya juga menjadi bagian penting dalam cerita. Dahulu, mereka pernah berbagi masa muda dan kenangan bersama. Namun, ketika bertemu kembali, masing-masing ternyata sudah memiliki persoalan hidup sendiri. 

Dari sini, kita melihat bahwa kehidupan orang dewasa tidak selalu seindah yang terlihat dari luar. Seseorang mungkin memiliki rumah, pekerjaan tetap, dan keluarga, tetapi belum tentu merasa bahagia. Sebaliknya, orang yang hidup sederhana belum tentu merasa kekurangan dalam segala hal.

Namun, film ini juga tidak meromantisasi kemiskinan. Miso mungkin terlihat lebih bebas, tetapi kebebasan itu datang dengan harga yang tidak kecil. Melalui kisah para tokohnya, Microhabitat menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dapat mempersempit pilihan hidup sekaligus memengaruhi hubungan antarmanusia.

Dari segi penyajian, film ini bergerak dengan tempo yang tenang, diselingi humor yang kadang terasa getir. Penampilan Esom menjadi salah satu kekuatan utamanya. Miso digambarkan sebagai perempuan yang sederhana, teguh pada pilihannya, tetapi tetap manusiawi.

Pada akhirnya, Microhabitat tidak memberikan jawaban pasti tentang cara hidup yang paling benar. Film ini justru meninggalkan pertanyaan yang mungkin membuat kita sedikit tidak nyaman, selama ini, apakah kita benar-benar menjalani hidup yang kita inginkan, atau hanya berusaha memenuhi standar yang ditetapkan orang lain?

Mungkin kita tidak perlu mengikuti pilihan ekstrem Miso untuk memahami pesannya. Kita hanya perlu sesekali berhenti dan bertanya, apa gunanya memiliki kehidupan yang terlihat mapan jika kita tidak lagi punya waktu untuk menikmati hal-hal yang membuat kita bahagia?

Sebab, jangan sampai kita menghabiskan seluruh hidup untuk mencari uang demi bertahan hidup, sampai lupa merasakan hidup itu sendiri.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda