Ulasan
Ulasan Film Beautiful Pain: Mahakarya Drama Terbaru dari Dmaz Brodjonegoro
Beautiful Pain adalah film drama psikologis Indonesia yang resmi tayang di bioskop mulai 22 Oktober 2026. Diproduksi Dapur Film, disutradarai Dmaz Brodjonegoro (debut penyutradaraan film panjang), dengan skenario karya Titien Wattimena, Hanung Bramantyo, dan Dmaz sendiri, serta diproduseri Hanung Bramantyo bersama Nikita Mirzani sebagai produser eksekutif. Durasi sekitar 99 menit dan berlabel D17+.
Solidaritas Perempuan Melawan Stigma

Film ini diangkat dari inspirasi kisah nyata dan berpusat pada Niken (Raihaanun), seorang ibu yang setelah 11 tahun pernikahan akhirnya menyadari bahwa rumah tangganya dengan Dirga (Baim Wong) sangat toksik. Kesadaran itu datang setelah ia memergoki perselingkuhan Dirga.
Demi kesehatan mental dan masa depan kedua anaknya, Naia (Anantya Kirana) dan Dio (Evano Zyan), Niken memilih berpisah. Keputusan itu memaksanya meninggalkan kenyamanan materi, kehilangan hampir seluruh harta, dan kembali tinggal bersama ibunya, Rahmania (Jajang C. Noer), dalam kesederhanaan.
Dari nol, Niken mencoba bangkit. Bertemu casting director Randy (Tarra Budiman) membuka jalan baginya menjadi aktris. Sinetron yang dibintanginya sukses, memungkinkan ia membangun kembali rumah yang aman untuk anak-anak. Namun ujian belum usai. Pelecehan seksual, fitnah yang menghancurkan reputasi, stigma sosial sebagai perempuan yang meninggalkan suami, serta perebutan hak asuh anak membuat Niken hampir kehilangan segalanya. Dengan dukungan orang terdekat—termasuk teman lama Sekar (Siti Fauziah) dan Nadya (Sha Ine Febriyanti)—ia memilih melawan sistem yang bias demi merebut kembali martabat, keluarga, dan suaranya.
Ulasan Film Beautiful Pain

Pemain pendukung lain yang memperkuat cerita di antaranya Dimas Aditya, Nikita Mirzani (sebagai Marcella), Sha Ine Febriyanti, Willem Bevers, dan lainnya. Raihaanun menyampaikan performa yang sangat kuat dan total. Ia mampu menampilkan lapisan-lapisan emosi Niken—dari ketakutan, kelelahan, kemarahan, hingga keteguhan—dengan sangat meyakinkan.
Baim Wong sebagai Dirga juga efektif menggambarkan tokoh yang manipulatif dan penuh relasi kuasa. Jajang C. Noer memberikan kehadiran ibu yang menenangkan, sementara Anantya Kirana dan Evano Zyan berhasil membuat dampak konflik orang tua terhadap anak terasa nyata.
Kekuatan utama film ini terletak pada keberanian mengangkat isu yang sering dihindari: KDRT bukan hanya kekerasan fisik, melainkan juga kekerasan psikologis, manipulasi, dan bagaimana korban perempuan masih harus menghadapi stigma, victim blaming, pelecehan di dunia luar rumah tangga, serta ketidakadilan sistem.
Tema women support women lewat relasi Niken–Sekar terasa menghangatkan dan memberikan napas di tengah intensitas cerita. Pesan Fight the Trauma dan bahwa meninggalkan hubungan toksik bukan tanda kekalahan, melainkan langkah keberanian, disampaikan dengan tegas.
Akan tetapi film ini tidak tanpa kekurangan. Alur non-linear kadang terasa kurang mulus dan memutus emosi yang sudah terbangun. Beberapa perkembangan karakter dan kondisi finansial Niken terasa terburu-buru, sementara detail kontinuitas visual sesekali mengganggu. Meski demikian, pesan dan totalitas akting tetap menjadi daya tarik utama.
Adegan paling emosional adalah momen Niken memeluk kedua anaknya sambil menangis, terutama yang berhubungan dengan perebutan hak asuh. Raihaanun sendiri mengakui adegan ini (diambil dengan teknik one-take di dini hari) sangat menguras emosi; ia masih menangis 15–30 menit setelah cut karena terlalu terbawa karakter. Adegan rebutan anak saat Dirga memenangkan kasasi juga menjadi puncak intensitas emosional yang membuat banyak penonton di bioskop terenyuh, termasuk aku sendiri.
Adegan paling kuingat setelah menonton adalah konfrontasi emosional tinggi antara Niken dan Dirga (termasuk adegan tamparan saat Niken mengenakan blazer), serta rangkaian panjang di mana Niken pecah belah karena persoalan anak. Momen-momen ini meninggalkan kesan mendalam tentang perjuangan seorang ibu yang menolak diam dan memilih melawan.
Pada akhirnya, Beautiful Pain adalah drama yang berani, menyakitkan, sekaligus memberi harapan. Ia tidak sempurna secara teknis, tetapi berhasil membuatku sebagai penonton merasa tidak nyaman terhadap persoalan yang sering diabaikan, sekaligus mengingatkan bahwa dari rasa sakit yang paling dalam pun seseorang bisa menemukan kekuatan untuk bangkit.
Cocok ditonton buat kamu yang menyukai drama keluarga dengan isu sosial kuat, terutama tentang kesehatan mental, KDRT, dan perjuangan perempuan. Siapkan tisu, dan bersiaplah merenung setelah keluar dari bioskop. Rating pribadi: 8/10.