Ulasan

Review The Rope Curse 4: Hadirkan Kisah Kutukan Tali Gantung dan Kuntilanak

Review The Rope Curse 4: Hadirkan Kisah Kutukan Tali Gantung dan Kuntilanak
Poster film The Rope Curse 4: Kuntilanak (IMDb)

The Rope Curse 4: Kuntilanak merupakan episode keempat waralaba horor Taiwan yang digarap sutradara Liao Shih-han dan diproduksi WOWing Entertainment Group. Film berdurasi sekitar 116 menit ini menandai perluasan geografis seri tersebut dengan memadukan tradisi ritual pengusiran roh Taiwan (khususnya elemen Zhong Kui dan tali kutukan) dengan legenda Kuntilanak Indonesia.

Penayangan di bioskop Indonesia dimulai pada 23 Oktober 2026, setelah rilis di Taiwan pada 27 Agustus 2026. Hingga akhir pekan ketujuh di Taiwan, film ini mencatat pendapatan box office lebih dari NT$81 juta dengan sekitar 184.000 penonton, menjadikannya yang terlaris dalam franchise.

Ketika Ritual Taoisme Bertemu Kuntilanak

Salah satu adegan di film The Rope Curse 4: Kuntilanak (IMDb)
Salah satu adegan di film The Rope Curse 4: Kuntilanak (IMDb)

Sinopsis berpusat pada kutukan transnasional. Sebuah ritual dukun terlarang yang disiarkan langsung dari Indonesia membangkitkan Kuntilanak. Korban pertama muncul di Taiwan: seorang pekerja migran Indonesia tewas secara tragis setelah menonton siaran tersebut, diikuti pemilik kedai makan yang ditemukan tewas gantung diri. Yulan, seorang wanita Taiwan yang tidak sengaja memasuki lokasi kejadian, mengalami keanehan hingga sebagian jiwanya terambil.

Dengan batas waktu tujuh hari, kerabat korban—termasuk Jia-min yang memiliki sensitivitas spiritual—bersama putra korban membawa abu jenazah kembali ke Indonesia (berlatar Pontianak dan sekitarnya). Mereka bekerja sama dengan tokoh lokal, termasuk ahli spiritual Master Lin (diperankan Ferry Salim) dan kreator konten Mardi (Andovi Da Lopez), untuk menghadapi roh dendam yang berakar pada tragedi masa lalu.

Review Film The Rope Cursed 4: Kuntilanak

Salah satu adegan di film The Rope Curse 4: Kuntilanak (IMDb)
Salah satu adegan di film The Rope Curse 4: Kuntilanak (IMDb)

Pemeran menghadirkan kolaborasi lintas negara. Dari Indonesia hadir Ferry Salim sebagai ahli spiritual yang harus menguasai ritual Taoisme dan dialog Mandarin, Andovi Da Lopez sebagai streamer yang menjadi pemicu awal, Yessica Tamara, serta nama lain seperti Audi Marissa. Sisi Taiwan diwakili Wilson Hsu, Vera Chen, Travis Hu, Hangee Liu, dan lainnya.

Produksi memakan waktu tiga tahun dengan syuting di Jakarta dan lokasi Indonesia lainnya, mencerminkan upaya autentik dalam menggambarkan folklore setempat. Dari aspek cerita, film ini mempertahankan identitas The Rope Curse: alur kutukan yang menyebar lewat livestreaming, percampuran drama keluarga dan horor gaib, serta bentrokan ritual yang menegangkan.

Latar Pontianak memperkuat asosiasi dengan Kuntilanak, sementara elemen tali dari franchise sebelumnya tetap hadir sebagai motif visual yang menghubungkan kedua budaya. Atmosfer dibangun melalui kontras antara ruang urban Taiwan dan hutan pedalaman Indonesia yang gelap.

Efek visual dan suara mendukung ketegangan, terutama dalam adegan kerasukan dan pemanggilan roh. Kurasa, peningkatan skala produksi dibanding prekuelnya, meskipun pola jump scare dan struktur plot masih familiar bagi penggemar seri.

‎Puncak kengerian film ini terletak pada bentrokan di kawasan hutan atau zona ritual Nusantara. Tampilan Kuntilanak di tengah pepohonan beringin bersama siluet anak-anak atau cahaya redup, dipadukan dengan simbol tali gantung, menghasilkan teror mental yang bertahan lama di benakku.

Adegan di mana roh masuk ke tubuh korban secara bertahap—ditandai dengan perubahan ekspresi, gerakan tidak wajar, dan suara yang mencampur elemen lokal dengan ritual Taiwan—membangun rasa tidak berdaya. Intensitas meningkat saat kelompok mencoba ritual gabungan, di mana kegagalan sebagian ritual memicu serangan yang lebih agresif. Suara berbisik, desahan, dan perubahan suhu visual memperkuat kesan bahwa kutukan tidak terbatas pada satu lokasi.

‎Adegan yang membuatku kaget adalah jump scare mendadak yang memanfaatkan momen tenang. Salah satu yang menonjol adalah kemunculan mendadak sosok di balik cermin, pintu, atau di tengah kerumunan setelah siaran livestream berakhir, atau saat tokoh utama membuka wadah abu jenazah.

Kombinasi suara keras mendadak dengan visual tali yang tiba-tiba mengencang atau wajah Kuntilanak yang muncul sangat dekat dengan kamera sering memicu reaksi fisikku sebagai penonton. Adegan di mana korban tiba-tiba tergantung atau tubuhnya terangkat tanpa sumber yang terlihat juga efektif karena memanfaatkan motif ikonik franchise sambil menambahkan nuansa lokal.

‎Jadi bisa kusimpulkan, The Rope Curse 4: Kuntilanak berhasil memperkenalkan mitologi Indonesia ke audiens regional yang lebih luas tanpa meninggalkan identitas spiritual Taiwan. Kekuatannya terletak pada kolaborasi budaya yang terasa bermakna dan skala produksi yang lebih ambisius.

Kelemahannya, menurutku ada pada ketergantungan pada pola formula seri sebelumnya dan beberapa subplot yang terasa terburu-buru. Buat kamu penggemar horor Asia yang menghargai perpaduan folklore dan ritual modern, film ini layak ditonton di bioskop untuk merasakan atmosfer penuh.

Saat ini film masih diputar di berbagai bioskop Indonesia (CGV, Cinépolis, dan lainnya). Kusarankan menonton di layar besar agar efek visual dan suara mencapai dampak maksimal ya, Sobat Yoursay! Selamat menonton. Rating pribadi: 7.8/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda