Ulasan

Review Film Dokumenter NAZA: Ketika Nyawa Manusia Diringkas Menjadi Angka!

Review Film Dokumenter NAZA: Ketika Nyawa Manusia Diringkas Menjadi Angka!
Salah satu adegan di film NAZA (IMDb)

NAZA (2026) adalah dokumenter investigatif yang sangat penting dan mengguncang, disutradarai Yuval Abraham dan Rachel Szor—dua sineas Israel yang sebelumnya menjadi bagian dari tim No Other Land 8 (pemenang Oscar).

Dengan durasi sekitar 80 menit, film ini merekam kesaksian 24 perwira intelijen dan personel militer Israel secara anonim, wajah disamarkan, suara dimodifikasi, diambil malam hari di atap-atap Tel Aviv.

Kota di bawah mereka tetap hidup: lampu-lampu menyala, orang-orang bergerak di dalam apartemen, televisi menyala. Sementara itu, hanya puluhan kilometer jauhnya, Gaza dihancurkan.

Judul NAZA berasal dari akronim militer Ibrani nezek agavi—kerusakan kolateral. Dalam praktiknya, angka Naza adalah perkiraan berapa banyak warga sipil (termasuk perempuan, anak-anak, lansia) yang dianggap boleh mati demi membunuh satu target.

Angka yang disebut di film bukan lagi 5 atau 10, melainkan 15, 20, 200, bahkan 500 untuk satu target bernilai tinggi. Abraham dengan dingin mencatat bahwa 500 NAZA setara dengan populasi sebuah kota kecil Israel.

Atap Kota dan Bayang-Bayang Malam Tel Aviv

Salah satu adegan di film NAZA (IMDb)
Salah satu adegan di film NAZA (IMDb)

Film ini dibangun dari wawancara yang tenang, metodis, dan hampir tanpa emosi berlebih. Para narasumber menjelaskan sistem yang mereka jalankan: AI bernama Lavender yang memberi skor kemungkinan seseorang terkait Hamas berdasarkan pola penggunaan ponsel (dengan margin kesalahan sekitar 15 persen), serta protokol “Where’s Daddy?” yang memantau pesan keluarga—termasuk anak-anak—untuk memastikan target sedang berada di rumah sebelum rumah itu dibom.

Satu kesaksian yang paling mengerikan: seorang tentara bercerita tentang memata-matai ponsel seorang gadis berusia 12 tahun. “Kamu meretas ponselnya, lalu kamu membunuhnya.” Mereka mendengar percakapan di dalam rumah, suara bayi menangis, televisi, bahkan bisikan suami-istri di tempat tidur, sebelum memberikan izin untuk menjatuhkan bom.

Review Film Dokumenter NAZA

Poster film NAZA (IMDb)
Poster film NAZA (IMDb)

Yang membuat film ini begitu kuat adalah kontras formalnya. Tidak banyak gambar kehancuran Gaza yang ditampilkan sepanjang sebagian besar durasi. Yang kulihat adalah siluet orang-orang di atap Tel Aviv, lampu kota yang tenang, dan suara-suara yang berbicara tentang pembunuhan massal seolah itu pekerjaan rutin. Beberapa mengakui pekerjaan itu “seperti video game.”

Ada yang bilang setelah menghancurkan sebuah gedung, mereka pergi minum bir bersama teman-teman malam itu juga. Ada yang menjawab tegas “Ya. Sepenuhnya” ketika ditanya apakah yang terjadi adalah genosida. Ada yang menyebut diri mereka hanya roda kecil dalam sistem.

Adegan yang paling kuingat setelah menonton adalah rangkaian kesaksian tentang “Where’s Daddy?” dan angka 500 NAZA. Cara mereka membicarakan kematian ratusan orang dalam satu serangan dengan nada datar, lalu kembali ke kehidupan normal di Tel Aviv, meninggalkan rasa tidak nyaman yang lama mengendap buatku. Bahasa militer yang steril (NAZA, Lavender, Where’s Daddy?) menjadi senjata yang paling menakutkan—karena ia mengubah manusia menjadi angka dan prosedur.

Untuk adegan paling menyentuhnya datang di bagian penutup. Setelah lebih dari sejam mendengar sistem dan angka, kamera akhirnya masuk ke Gaza. Seorang ayah berdiri di depan puing-puing rumahnya, memanggil istri dan anak-anaknya yang hilang di bawah reruntuhan. Ia berteriak nama anaknya, menyalahkan diri sendiri karena tidak menjaga adik-adiknya. Setelah sekian lama mendengar pembunuhan dibicarakan sebagai misi dan kerusakan kolateral, suara manusia yang nyata itu menghantam seperti tinju.

Di Indonesia, NAZA mulai tayang reguler di bioskop sejak 16 Oktober 2026, didistribusikan melalui KlikFilm dan beberapa jaringan seperti Cinépolis Sala de Arte. Film ini mendapat standing ovation hampir 25 menit di Venice Film Festival dan Special Jury Prize. Rating 17+.

NAZA bukan film yang mudah ditonton. Ia tidak menawarkan hiburan, tidak banyak gambar darah, dan tidak mengandalkan musik emosional. Kekuatannya justru pada kejujuran dingin para pelaku sistem itu sendiri.

Film ini memaksaku menghadapi pertanyaan yang sulit: bagaimana sebuah sistem bisa menormalisasi pembunuhan massal, bagaimana orang-orang biasa bisa menjalankan pekerjaan itu lalu pulang tidur, dan bagaimana kita semua—yang hidup jauh dari Gaza—ikut menjadi bagian dari keheningan yang memungkinkan semuanya terjadi.

Setelah kredit terakhir bergulir, yang tertinggal bukan sekadar kemarahan, melainkan rasa tanggung jawab yang berat dan diam. Rating pribadi: 8.7/10.

    Tulisan ini merupakan kiriman dari member Yoursay. Isi dan foto artikel ini sepenuhnya merupakan tanggung jawab pengirim.

    Komentar

    Rekomendasi

    Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda